Puncak, Agustus 1992
November 30th, 2009
Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar terasa ketika berada di dalam angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.
Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru bagi Bamton masuk dunia ‘pencarian kerja’. Menemui teman-teman satu kampus yang sudah bekerja, dijumpai di kantor seusai jam kerja, janji ketemu di Taman Ismail Marzuki (TIM) atau di tempat kostnya. Mencari informasi lowongan pekerjaan, mengirim lamaran, wawancara, menunggu kabar diterima atau tidak ada kabar berita alias ditolaknya. Ternyata inilah ritual sarjana yang berburu pekerjaan di ibukota.
”Baru belasan lamaran? Ah, masih belum. Nanti kalau sudah puluhan, atau mencapai angka seratus lamaran, boleh berharap ada panggilan.” komentar seorang kenalan. Gila, pernyataan ini menghibur atau meledek, pikir Bamton Apakah harus melewati proses seperti ini untuk mendapatkan pekerjaan, kemudian berpenghasilan, berkeluarga dan hidup layak seperti diharapkan orang-orang pada umumnya?
Ubudiyyah
November 25th, 2009
Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya istilah ubudiyyah begitu populer. Kerja bakti gotong-royong membangun, memersihkan dan merapikan tempat wirid (surau) disebut ubudiyyah. Jamaah melakukan karya apa pun untuk kemajuan dan perkembangan tarekat disebutnya sebagai ubudiyyah. Sebenarnya apa pengertian ubudiyyah?
Seperti birunya gunung
November 23rd, 2009
Seperti birunya gunung, cinta terasa lebih indah apabila dipandang dari jauh. Majalah Poultry Indonesia (PI) telah genap 30 tahun. Hampir sepuluh tahun saya bergabung di majalah ini, dan belum sebulan saya meninggalkan majalah ini, namun benar adanya, bahwa cinta itu terasa lebih indah manakala dipandang dari jauh, dari nun jauh di Singkawang – Kalimantan Barat.
Jember, Januari 1968
November 6th, 2009
Bamton adalah kependekan dari Bambang Mulyantono. nama yang diberikan oleh orang tuanya, walaupun begitu di tengah-tengah keluarga besarnya ia akrab dipanggil ‘Yanto’. Teman-temannya di sekolah, kuliah, maupun lingkungan kerja, ada yang menyapanya ‘Bambang’, ‘Tono’, bahkan ‘Boim’. Kemudian di lingkungan surau, ia lebih akrab dipanggil ‘Bam’ dengan sedikit imbuhan ‘s’ di belakangnya, meskipun kerap ditulis ‘Bamb’ saja.
La-Tahzan
October 16th, 2009

bunga
Terlalu banyak alasan untuk bersedih. Mulai dari persoalan yang dipandang sebagai sesuatu yang kecil sampai pada yang dianggap persoalan besar. Tapi besar atau kecil persoalan, kalau mau sedih, ya sedih saja. Air mata yang menetes adalah air mata yang sama.
Maka sangatlah laris buku-buku self-help untuk mengusir dan menghibur kesedihan. Simaklah buku-buku seperti The Magic of Thinking Big karya David J. Schwart, How to Stop Worrying and Start Living karya Dorothy Sarnoff atau The Seven Habits of Highly Effective People tulisan Steven R. Covey, dan karya penulis Timur Tengah, Dr. ‘Aidh al-Qarni berjudul La Tahzan – Jangan Bersedih!
Menurut Dr. ‘Aidh al-Qarni, orang cerdik akan selalu berusaha mengubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda. Ketika tertimpa suatu musibah, kita harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi segelas air lemon, perlu ditambahkan sesendok gula ke dalamnya agar terasa lebih nikmat. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kalajengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh apabila terkena racun atau bisa ular. Kendalikan diri dalam berbagai kesulitan yang menghadang. Belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta ada pahala di dalamnya. La Tahzan!
Inspirasi Masyarakat Madani
October 12th, 2009

madani senggigi
Hijrah menandai awal era Muslim, karena pada titik inilah Nabi Muhammad SAW mampu menerapkan gagasan Qur’ani secara maksimal dan bahwa Islam menjadi sebuah faktor dalam sejarah. Ini adalah sebuah langkah revolusioner.
Hijrah bukanlah sekadar perubahan alamat. Di Arab sebelum Islam , suku adalah nilai suci. Meninggalkan kelompok darah sendiri dan bergabung dengan suatu kelompok darah orang lain adalah suatu hal yang belum pernah terdengar. Hal ini pada prinsipnya menghina nenek-moyang sendiri dan kaum Quraisy tidak bisa memaafkan kesalahan ini. Mereka bersumpah untuk memusnahkan ummah di Yatsrib Baca lebih detail »
Cahaya di atas Cahaya
October 10th, 2009
Al Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah ‘Cahaya’, bahkan Al Quran dapat disebut ‘Kitab Cahaya’. Sebab, kandungannya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat Cahaya—yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Cahaya Ilahi—dapat ditafsirkan sebagai empat tingkat pencerahan sebagaimana terlukiskan dalam ayat berikut : Baca lebih detail »





