<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mulyantono.com &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://mulyantono.com/category/artikel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulyantono.com</link>
	<description>The Real Fact of Bambs</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 08:22:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ubudiyyah</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/ubudiyyah.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/ubudiyyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya istilah ubudiyyah begitu populer. Kerja bakti gotong-royong membangun, memersihkan dan merapikan tempat wirid (surau) disebut ubudiyyah. Jamaah melakukan karya apa pun untuk kemajuan dan perkembangan tarekat disebutnya sebagai ubudiyyah. Sebenarnya apa pengertian ubudiyyah?

Secara asal kata (etimologi), ubudiyyah merupakan kosa kata Bahasa Arab dalam bentuk masdar (kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya istilah ubudiyyah begitu populer. Kerja bakti gotong-royong membangun, memersihkan dan merapikan tempat wirid (surau) disebut ubudiyyah. Jamaah melakukan karya apa pun untuk kemajuan dan perkembangan tarekat disebutnya sebagai ubudiyyah. Sebenarnya apa pengertian ubudiyyah?</p>
<p><span id="more-27"></span></p>
<p>Secara asal kata (etimologi), ubudiyyah merupakan kosa kata Bahasa Arab dalam bentuk masdar (kata benda) dari kata kerja abada-ya’budu, yang secara kebahasaan berarti beribadah yang mencakup pengesaan, ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan. Dengan demikian, ubudiyyah dapat diartikan sebagai pelaksanaan ibadah.</p>
<p>Adapun secara terminologi, ada beberapa pengertian ubudiyyah yang dirumuskan para ahli tasawuf diantaranya : (1) ubudiyyah adalah keadaan seorang hamba yang ikhlas dan ridla terhadap semua yang telah ditetapkan Tuhan atas dirinya. (2) ubudiyyah adalah menegakkan ketaatan yang sungguh-sungguh dengan pengagungan, menilai semua yang berasal dari diri sendiri sebagai sesuatu yang rendah, dan mengakui bahwa segala yang dihasilkan dari kehidupannya sebagai ketetapan. (3) ubudiyyah adalah meninggalkan upaya untuk memilih sesuatu yang dinilai secara nyata sebagai ketetapan. (4) ubudiyyah adalah menolak daya upaya dan kekuatan, serta mengakui segalanya yang telah diberikan dan diatur Allah SWT, seperti umur, anugerah, dan lainnya. (5) ubudiyyah adalah melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi yang dilarang.</p>
<p>Dalam ajaran tasawuf, ubudiyyah sering dirangkaikan dengan ibadah dan ubudah. Susunan dari ketiganya adalah ibadah, ubudiyyah, dan ubudah. Syaikh Abu Ali al-Hasan  ibn Ali an-Naisaburi al-Daqqaq  (w 405 H) menegaskan bahwa ubudiyyah lebih sempurna dari ibadah. Dari ketiga rangkaian itu, tingkat yang paling dasar adalah ibadah, kemudian disusul ubudiyyah, dan yang paling tinggi adalah ubudah.</p>
<p>Selanjutnya guru sufi dari Abd al Karim al-Qusyayri (w.465 H/1073 M) ini menyatakan pula bahwa ibadah itu dimiliki orang yang masih awam (orang kebanyakan), ubudiyyah dimiliki orang khawwas (orang khusus/yang keyakinan dan pengetahuannya lebih mendalam), dan ubudah hanya dimiliki oleh orang yang disebut sebagai khawwas al-khawwas (orang khusus dari yang khusus).</p>
<p>Ibadah dimiliki mereka yang telah sampai pada tingkat ilm al-yaqin, ubudiyyah dimiliki mereka yang telah mencapai tingkat ayn al-yaqin, dan ubudah hanya dimiliki mereka yang telah mencapai tingkat haqq al-yaqin.<br />
Selanjutnya  dikatakan, ibadah dimiliki orang yang selalu malakukan mujahadah (selalu bersungguh-sungguh dalam muamalahnya dengan Tuhan), ubudiyyah dimiliki orang yang berada dalam kondisi mukabidah (yang selalu bersikap sabar ketika terbebani oleh cobaan yang berat), dan ubudah dimiliki orang yang telah mencapai pengalaman musyahadah (yang telah menyaksikan keagungan Tuhan).</p>
<p>Jadi, orang yang tidak mengeluh kepada Allah, jiwanya dalam keadaan ibadah, dan siapa yang tidak bakhl (kikir) jiwanya maka dialah pemilik ubudiyyah, dan siapa yang tidak bakhl ruhnya, maka dialah pemilik ubudah.</p>
<blockquote><p>“Dengan demikian, engkau akan menjadi hamba dari siapa pun yang mengikatmu. Jika engkau terikat kepada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi hamba bagi dirimu sendiri. Jika engkau terikat pada kehidupan duniawi, maka engkau akan menjadi hamba bagi kehidupan duniawimu.”</p></blockquote>
<p>Berkenaan dengan ini Syaikh al-Daqqaq mengutip sabda Rasululah SAW, “Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, dan celakalah hamba yang berpakaian mewah’ (HR Bukhari).</p>
<p>Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Sahl ibn Ata’ al-Adami atau yang populer dengan sebutan Ibn Ata’ (w 309 H/922 M), murid Abu al-Qasim al-Junayd al Baghdadi (w 297 H/909 M) mengatakan, ada empat pilar ubudiyyah , yaitu kesetiaan pada sumpah yang diucapkan (memenuhi janji), menjaga batas-batas yang telah ditetapkan, merasa puas  (ridla) terhadap apa yang dimiliki, dan bersabar terhadap apa yang belum diperoleh.</p>
<p>Menurut sebagian sufi, puncak terakhir ubudiyyah adalah kebebasan. Maksudnya, bahwa pada hakikatnya seorang manusia itu tidak akan menjadi hamba yang baik sampai ia dapat memusatkan seluruh perhatiannya kepada Allah sehingga hati dan jiwanya terbebas dari segala sesuatu selain Allah.</p>
<p><em>Dikutip dari Ensiklopedi Tasawuf, Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Penerbit Angkasa Bandung (2008)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/ubudiyyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>La-Tahzan</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/la-tahzan.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/la-tahzan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 15:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kesedihan]]></category>
		<category><![CDATA[self help]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/artikel/la-tahzan.html</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu banyak alasan untuk bersedih. Mulai dari persoalan yang dipandang sebagai sesuatu yang kecil sampai pada yang dianggap persoalan besar. Tapi besar atau kecil persoalan, kalau mau sedih, ya sedih saja. Air mata yang menetes adalah air mata yang sama.
Maka sangatlah laris buku-buku self-help untuk mengusir dan menghibur kesedihan. Simaklah buku-buku seperti The Magic of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 324px"><img class=" " style="border: 0pt none; margin: 5px;" title="bunga" src="/images/bunga.jpg" alt="bunga" width="314" height="234" /><p class="wp-caption-text">bunga</p></div>
<p>Terlalu banyak alasan untuk bersedih. Mulai dari persoalan yang dipandang sebagai sesuatu yang kecil sampai pada yang dianggap persoalan besar. Tapi besar atau kecil persoalan, kalau mau sedih, ya sedih saja. Air mata yang menetes adalah air mata yang sama.<br />
Maka sangatlah laris buku-buku self-help untuk mengusir dan menghibur kesedihan. Simaklah buku-buku seperti The Magic of Thinking Big karya David J. Schwart, How to Stop Worrying and Start Living karya Dorothy Sarnoff atau The Seven Habits of Highly Effective People tulisan Steven R. Covey, dan karya penulis Timur Tengah, Dr. ‘Aidh al-Qarni berjudul La Tahzan – Jangan Bersedih!<br />
Menurut Dr. ‘Aidh al-Qarni, orang cerdik akan selalu berusaha mengubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda. Ketika tertimpa suatu musibah, kita harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi segelas air lemon, perlu ditambahkan sesendok gula ke dalamnya agar terasa lebih nikmat. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kalajengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh apabila terkena racun atau bisa ular. Kendalikan diri dalam berbagai kesulitan yang menghadang. Belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta ada pahala di dalamnya. La Tahzan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/la-tahzan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Masyarakat Madani</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/inspirasi-masyarakat-madani.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/inspirasi-masyarakat-madani.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 10:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[madani]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Hijrah menandai awal era Muslim, karena pada titik inilah Nabi Muhammad SAW mampu menerapkan gagasan Qur’ani  secara maksimal dan bahwa Islam menjadi sebuah faktor dalam  sejarah. Ini adalah sebuah langkah revolusioner.
Hijrah bukanlah sekadar perubahan alamat. Di Arab sebelum Islam , suku adalah nilai suci. Meninggalkan kelompok darah sendiri dan bergabung dengan suatu kelompok darah orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 368px"><img class=" " style="border: 0pt none; margin-left: 5px; margin-right: 5px;" src="/images/bam_uconk.jpg" alt="madani senggigi" width="358" height="240" /><p class="wp-caption-text">madani senggigi</p></div>
<p>Hijrah menandai awal era Muslim, karena pada titik inilah Nabi Muhammad SAW mampu menerapkan gagasan Qur’ani  secara maksimal dan bahwa Islam menjadi sebuah faktor dalam  sejarah. Ini adalah sebuah langkah revolusioner.</p>
<p>Hijrah bukanlah sekadar perubahan alamat. Di Arab sebelum Islam , suku adalah nilai suci. Meninggalkan kelompok darah sendiri dan bergabung dengan suatu kelompok darah orang lain adalah suatu hal yang belum pernah terdengar.  Hal ini pada prinsipnya menghina nenek-moyang sendiri dan kaum Quraisy tidak bisa memaafkan kesalahan ini.  Mereka bersumpah untuk memusnahkan ummah di Yatsrib <span id="more-18"></span><br />
Nabi Muhammad SAW telah menjadi kepala sebuah kumpulan dari kelompok-kelompok kesukuan yang tidak terikat bersama karena darah, tetapi karena suatu ideologi bersama, sebuah inovasi yang mengagumkan di masyrakat Arab. Tidak ada seorang pun yang terpaksa berubah menjadi beragama Qur’an, tetapi kaum Muslim, pemuja berhala, Yahudi dan Nasrani, semuanya menjadi satu ummah, tidak bisa saling menyerang, dan berjanji untuk saling melindungi.</p>
<p>Karen Armstrong dalam Islam; Sejarah Singkat menulis, Yatsrib menjadi dikenal sebagai Madinah (Kota), karena menjadi pola masyarakat Muslim yang sempurna. Pada saat Nabi Muhammad SAW sampai Madinah, salah satu tindakannya  adalah membangun sebuah masjid (masjid; secara harfiah adalah ‘tempat untuk sujud’).  Masjid selesai dibangun dalam bentuk yang amat sederhana. Lantainya terbuat dari kerikil dan pasir, atapnya terbuat dari pelepah dan daun kurma dan tiang-tiangnya terbuat dari batang kurma. Bila hujan turun mungkin tanahnya akan becek dan mengundang jenis binatang tertentu untuk mondar-mandir di tempat itu.</p>
<p>Bangunan masjid yang amat sederhana itulah yang mengasuh manusia-manusia beriman teguh yang akan memberi ‘pelajaran’ kepada penguasa dunia lalim. Mereka itulah yang akan menjadi ‘raja-raja’ di akhirat. Di dalam masjid itulah Allah SWT memperkenankan Nabi dan Rasul-Nya memimpin manusia-manusia  beriman yang terbaik berdasarkan Al-Qur’an dan di dalam masjid itu jugalah beliau siang- malam  mendidik mereka supaya menghayati kehidupan sebagaimana dikehendaki Allah SWT.</p>
<p>Sejak Rasulullah SAW tinggal menetap di Madinah, beliau sibuk mencurahkan perhatian untuk meletakkan dasar-dasar yang sangat diperlukan guna menegakkan tugas-tugas risalahnya, yaitu : (1) Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Tuhannya. (2) Memperkokoh hubungan antar umat Islam. (3) Mengatur hubungan antara umat Islam dengan orang-orang non-muslim.</p>
<p>Mengenai hubungan antara sesama kaum muslimin, oleh Rasulullah telah dibina atas dasar rasa persaudaraan yang sempurna. Yakni persaudaraan yang menghapuskan kata ‘aku’, hingga setiap orang bergerak dengan semangat dan jiwa kemasyarakatan tanpa memandang dirinya secara terpisah dari masyarakat. Dengan persaudaraan seperti itu berarti lenyaplah fanatisme kesukuan ala jahiliyah dan tak ada semangat pengabdian selain kepada agama Islam. Runtuhlah sudah semua bentuk diskriminasi keturunan, warna kulit dan asal-usul kedaerahan atau kebangsaan. Mundur dan majunya seorang tergantung pada kepribadian dan ketakwaannya kepada Allah SWT.</p>
<p>Perasaan mengutamakan kepentingan bersama dalam suka maupun duka amat menyatu dengan semangat persaudaraan, sehingga masyarakat yang baru terbentuk itu dipenuhi dengan teladan mulia. Kaum Anshar sangat hormat kepada saudara-saudaranya, kaum Muhajirin. Setiap muslim yang datang ke rumah keluarga kaum Anshar, pasti diterima dengan baik. Kaum Muhajirin sangat menghargai keikhlasan budi kaum Anshar, namun mereka hanya mau menerima bantuan dari kaum Anshar sesuai dengan jerih-payah yang mereka curahkan di dalam suatu pekerjaan.</p>
<p>Rasululah SAW  menjadikan tali persaudaraan sebagai ikatan perjanjian yang nyata, bukan hanya sekadar ucapan yang tak berarti. Pada masa itu Rasululah ibarat abang tertua bagi jamaah kaum yang beriman. Beliau tidak mengistimewakan diri dengan gelar kebesaran. Sebuah Hadist meriwayatkan bahwa beliau pernah menegaskan :</p>
<blockquote><p>“Sekiranya aku mengangkat seorang saudara dari umatku, tentu aku telah mengangkatnya – yakni Abu Bakar – tetapi persaudaraan Islam adalah lebih afdhal.”</p></blockquote>
<p>Muhammad al-Ghazali dalam bukunya Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad menulis, persaudaraan sejati tidak mungkin tumbuh di dalam suatu lingkungan yang bermutu rendah. Dalam lingkungan masyarakat yang masih dikuasai oleh kebodohan, kemerosotan akhlak dan kekejaman, persaudaraan sejati dan rasa cinta kasih tak akan dapat tumbuh subur. Seandainya para sahabat Nabi SAW tidak berperangai luhur dan tidak dipersatukan oleh prinsip-prinsip agung, dunia tidak akan mencatat adanya persudaraan sejati yang semata-mata karena Allah.</p>
<p>Mengenai hubungan antara muslim dengan non-muslim, Rasululah SAW telah menetapkan aturan-aturan yang sangat toleran, yang belum dikenal di zaman yang penuh dengan fanatisme kesukuan dan kecongkakan ras. Siapapun yang beranggapan bahwa Islam adalah agama yang tidak bisa menerima prinsip hidup berdampingan dengan agama lain, dan bahwa kaum Muslim adalah orang-orang yang berambisi menguasai dunia, berarti dia telah salah memahami Islam atau termakan oleh omongan pihak lain.</p>
<p>Ketika Nabi SAW tiba di Madinah beliau menyaksikan orang-orang Yahudi telah lama bermukim di kota itu dan hidup bersama-sama kaum musyrikin. Beliau sama sekali tidak berencana untuk menyingkirkan mereka. Bahkan beliau dapat menerima keberadaan orang-orang Yahudi dan paganisme di kota itu. Beberapa waktu kemudian beliau menawarkan perjanjian perdamaian kepada dua golongan itu atas dasar kebebasan masing-masing pihak memeluk agamanya sendiri.</p>
<p>Dalam piagam tersebut  kebebasan beragama benar-benar dijamin sehingga di dalamnya tidak tersirat maksud untuk menyerang suatu kelompok atau menindas kaum lemah. Bahkan menunjukkan kewajiban semua pihak yang berjanji supaya menolong orang yang mendapat perlakuan zalim, menjaga dan memelihara hubungan baik dengan tetangga, melindungi dan memelihara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat.</p>
<p>Begitulah gambaran singkat masyarakat Madinah di zaman Rasululah SAW. Tentang masyarakat Madinah di zaman sekarang yang didambakan oleh pengamal Tarekat Naqsyabandiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, pernah diutarakan oleh Ketua Yayasan, bahwa masyarakat yang diinginkan adalah sebuah masyarakat yang tidak ada aibnya, baik-baik semua. Tapi manusia itu tidak mungkin tanpa aib, namun kita tidak membicarakan aib temannya, sehingga bila ada aib langsung ditutup dan diisolasi beramai-ramai, sebagaimana yang terjadi di Zaman Rasulullah.</p>
<blockquote><p>“Hasilnya kita jadi kuat secara ekonomi, karena ada sinergi dan kebersamaan. Kita jadi kuat secara politik. Kita jadi masyarakat yang bersyukur: selalu bersyukur dan gembira, senang karena punya Guru Pembimbing Rohani. Semangat bertahajud yang kuat, Semangat I’tikaf yang kuat, Semangat ubudiyah yang kuat. Saya kira tugas Guru-Guru terdahulu juga begitu, menjadi manusia Insan Kamil dan menjadikan kita seperti Masyarakat Madinah.” Demikian pesan Ketua Yayasan.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/inspirasi-masyarakat-madani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cahaya di atas Cahaya</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 17:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Al Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah ‘Cahaya’,  bahkan Al Quran dapat disebut ‘Kitab Cahaya’. Sebab, kandungannya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat Cahaya—yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Cahaya Ilahi—dapat ditafsirkan sebagai empat tingkat pencerahan sebagaimana terlukiskan dalam ayat berikut : 
Allah adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah ‘Cahaya’,  bahkan Al Quran dapat disebut ‘Kitab Cahaya’. Sebab, kandungannya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat Cahaya—yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Cahaya Ilahi—dapat ditafsirkan sebagai empat tingkat pencerahan sebagaimana terlukiskan dalam ayat berikut : <span id="more-14"></span></p>
<p><em>Allah adalah cahaya langit dan bumi. </em><em>Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat sebuah misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur dan maupun di barat, yang minyaknya saja nyaris menyala sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah menuntun kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah  mengetahui segala sesuatu </em>(Q.S. 24: 35).</p>
<p>Pertama, ada misykat yang dipancari cahaya, namun bukan cahaya itu sendiri. Lalu, ada kaca kristal, di atasnya lagi kemilau minyak; dan terakhir adalah cahaya itu sendiri. Pengungkapan simbol-simbol itu mengingatkan pada ayat lain yang dimulai dengan kalimat yang sama, <em>”Tuhan membuat berbagai perumpamaan bagi manusia,”</em> dengan tambahan penegasan, <em>”agar mereka mau berpikir”</em> ( Q.S. 26: 35).</p>
<p>Banyak penafsir Alquran, termasuk mufasir terdahulu, menuturkan bahwa misykat itu adalah dada orang beriman, dan kaca adalah hatinya. ’Abd Allah ibn ’Abbas meriwayatkan apa yang didengar oleh ayahnya dan Nabi sendiri, yang berkata, ”Hidayah Tuhan di dalam hati orang beriman adalah ibarat minyak murni yang berkilau sebelum disentuh api, dan ketika disentuh api kemilaunya bertambah-tambah. Begitulah hati orang beriman: ia bertindak dengan petunjuk hingga pengetahuan datang kepadanya.”</p>
<p>Dalam Ayat Cahaya, perbedaan tingkat tidak ditunjukkan secara langsung, melainkan secara simbolik. Namun, di ayat yang lain, terutama pada wahyu-wahyu pertama, ditunjukkan secara lebih eksplisit. Salah satunya menyatakan bahwa manusia dibagi dalam tiga kelompok: <em>gulongan kanan, golongan kiri, dan golongan terkemuka. Golongan</em> <em>kanan</em> akan selamat, sementara <em>golongan kiri</em> akan celaka. Sedangkan <em>golongan terkemuka</em> adalah pemangku tingkat iman tertinggi, yang disebut sebagai <em>hamba Tuhan (’ibad Allah), </em>disebut juga, <em>mereka berada di sisi Allah (al-muqarrabun) </em>dan julukan ini disandangkan pula bagi para malaikat tertinggi untuk dibedakan dari malaikat lainnya.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Tingkatan tertinggi juga dinyatakan Alquran secara langsung ketika berbicara tentang hati. Dikatakan, <em>”Bukanlah mata yang buta, namun yang buta adalah hati yang berada di dalam dada” </em>(Q.S. 22: 46). Nabi di sisi lain, sebagaimana para nabi sebelumnya, mengatakan bahwa hatinya terjaga, yang berarti matanya terbuka. Dan Alquran menunjukkan bahwa hal itu dapat terjadi juga pada orang lain, kendati dalam kadar tertentu, karena sesekali Alquran menyebut secara langsung  <em>”orang-orang yang memiliki hati”</em> (Q.S. 12: 111; 13: 19). Hadis riwayat Abu Bakr menyatakan bahwa Nabi bersabda, <em>”Allah mengangkat derajatmu bukan melalui banyaknya shalat dan berpuasa, namun berdasarkan dengan kebaikan hatimu.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Disarikan dari beberapa sumber</em></p>
<p><em>Bekasi, 09 Oktober 2009</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anti Stres</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 15:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[self help]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[
Manusia tidak sama dengan ayam. Tapi kehidupan manusia dan ayam tidak pernah bebas dari stres  Karena stres pada dasarnya hanyalah sejumlah perubahan yang diadaptasikan oleh tubuh untuk merespon berbagai perubahan lingkungan atau situasi tertentu. Peternak ayam, seusai melakukan vaksinasi, mengganti pakan, atau memindahkan ayam dari kandang postal ke kandang baterai &#8212; selalu memberi anti stres [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-17" title="stres" src="http://mulyantono.com/wp-content/uploads/2009/10/stres2-200x300.jpg" alt="stres" width="200" height="300" /></p>
<p>Manusia tidak sama dengan ayam. Tapi kehidupan manusia dan ayam tidak pernah bebas dari stres  Karena stres pada dasarnya hanyalah sejumlah perubahan yang diadaptasikan oleh tubuh untuk merespon berbagai perubahan lingkungan atau situasi tertentu. Peternak ayam, seusai melakukan vaksinasi, mengganti pakan, atau memindahkan ayam dari kandang postal ke kandang baterai &#8212; selalu memberi anti stres kepada ayam-ayamnya. Dengan vitamin dan elektrolit yang diberikan sebagai anti stres, diharapkan stamina tubuh ayam segera pulih setelah merespons berbagai tuntutan positif maupun negatif tadi.</p>
<p>Stres pada manusia sangat beragam penyebab dan wujudnya. Namun sebagai makhluk yang berakal, ada beragam pula cara untuk mengatasinya.  Sayang kita tidak bisa membimbing ayam untuk mengatasi stres dengan baik dan benar, maka yang bisa kita lakukan hanya memberi anti stres. Padahal, sebenarnya bukan ‘anti stres’ tapi hanya mengatasi akibat berikutnya dari stres, karena seperti disebutkan di atas, ayam dan manusia pada dasarnya tidak mampu menolak (=anti) stres.<span id="more-9"></span></p>
<p>Stres pada manusia, baik yang kadar penyebabnya besar maupun kecil, bisa datang kepada siapa saja. Belakangan ini koran-koran ibukota memuat kasus bunuh diri yang bertubi-tubi mulai dari anak sekolah dasar, ibu rumah tangga, kepala sebuah stasiun,  sampai seorang sarjana di lingkungan perguruan tinggi ternama. Itu semua juga karena stres!</p>
<p>Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dewasa ini 75% pasien datang ke dokter karena gejala-gejala yang menunjukkan stres, dan jenis stres kronis yang paling buruk adalah rasa tak berdaya (helplessness). Masih dari statistik, dewasa ini ada 144 juta resep baru dibuat setiap tahunnya untuk obat-obatan psikotropik termasuk anti depresi, obat-obatan penenang yang minor dan mayor.</p>
<p>Banyak cara yang selama ini ditempuh dan dianggap mampu mengatasi stres. Berjuta-juta orang Amerika dan Eropa mengandalkan diri pada konsumsi obat untuk meringankan ketegangan saraf, dan menghabiskan banyak obat untuk membangkitkan aktifitas mereka dalam suatu keadaan yang serba instan. Padahal berbagai hasil penelitian belum mengukuhkan berbagai klaim tentang kegunaan psikoterapi tadi.  Angka yang dimaksud sebagai data penyembuhan sekalipun tidak begitu mengesankan.</p>
<p>Seorang pembimbing meditasi mengatakan, mengatasi stres dengan berbagai konsumsi obat itu hanya perubahan sementara yang terkadang kelihatan, namun perubahan permanennya hanya ilusi saja. Akhirnya, disamping mengonsumsi obat,  beberapa orang pergi dari satu ahli terapi ke ahli terapi yang lain, dari workshop satu ke workshop yang lain, dari seminar ke seminar. Padahal ini mirip dengan makan camilan yang lezat. Perut untuk sementara kenyang, namun lapar akan segera terulang. “Harus disadari, berbagai model tingkah laku yang dipuji-puji – termasuk ambisi, dorongan kerja, orientasi tujuan yang berlebihan, kesuksesan finansial, dan tampil sibuk secara terus-menerus – justru telah mengakibatkan tingkat stres yang tinggi,” ujarnya.</p>
<p>Dalam masyarakat yang sangat cenderung stres, kita harus belajar mengembangkan alat-alat untuk menetralisir efek-efek negatif stres terhadap kesehatan tubuh ataupun jiwa. Ungkapan klasik <em>mensana in corpore sano </em>tak pernah ketinggalan zaman untuk terus dilaksanakan.</p>
<p>Tubuh manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling cantik dan menakjubkan. Ia mesti dipelihara dan dijaga. Namun tujuan hidup bukanlah sekadar merawat keelokan tubuh dan kecantikannya. Tubuh harus dirawat karena ia adalah cetakan bagi kehidupan dan jiwa ada di dalamnya, semacam kerang yang mengandung mutiara yang sedang tumbuh, tanpa kerang tak akan ada mutiara.</p>
<p>Herophilus, seorang dokter pribadi Aleksander Agung yang filmnya sudah beredar di bioskop-bioskop maupun dalam cakram padat, mengatakan : Ketika tak ada kesehatan, kearifan dengan sendirinya tak akan tercapai, seni tak akan muncul, kekuatan tak akan berdaya, kekayaan menjadi tak berguna, dan kecerdasan tak akan bisa diterapkan. Jadi, mari kita jaga kesehatan jiwa dan raga dengan cara-cara yang sehat pula.</p>
<p>Mengakhiri tulisan ini penulis ingin mengingatkan bahwa sebenarnya ada pula stres yang postif, misalnya rasa dag-dig-dug sebelum seseorang melangsungkan pernikahan, ujian kenaikan kelas, atau mendapat panggilan wawancara untuk sebuah pekerjaan yang diidamkan.  Nah, kalau stres jenis ini rasanya tidak perlu diatasi, tapi dinikmati ·</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disiplin Diri</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/disiplin-diri.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/disiplin-diri.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 15:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hari merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh luar biasa motifasi yang dihembuskan oleh duet Andrie Wongso dan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada seminar akbar bertajuk ‘Indonesia Luar Biasa’ pada Sabtu, 20 Agustus 2005 di Istora Senayan Jakarta. Acara yang dipandu oleh Kris Biantoro ini memang bukan seminar sakadar tentang Indonesia, tapi lebih dari itu, diharapkan dapat menyemangati bangsa dan rakyat Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh luar biasa motifasi yang dihembuskan oleh duet Andrie Wongso dan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada seminar akbar bertajuk ‘Indonesia Luar Biasa’ pada Sabtu, 20 Agustus 2005 di Istora Senayan Jakarta. Acara yang dipandu oleh Kris Biantoro ini memang bukan seminar sakadar tentang Indonesia, tapi lebih dari itu, diharapkan dapat menyemangati bangsa dan rakyat Indonesia untuk bangkit dari kepurukkan, berkaitan dengan Peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-60.<span id="more-8"></span></p>
<p>Kedua pembicara berbagai peran, Andrie Wongso lebih mangfokuskan memompa semangat mereka yang berada dikalangan miskin agar bangkit dan bersemangat mengubah nasip. Andrie mengatakan, sejak kecil ia dididik untuk tidak menjadi miskin oleh ibunya yang saat itu memang sudah melarat. “Ibu mengatakan (dalam bahasa Mandarin-pen) Nak, jamu itu pahit, namun orang miskin itu seperti minum jamu yang paling pahit, “ kata Andrie.</p>
<p>Sementara Aa Gym menggarap mereka yang berada di lapisan atas, juga agar berubah. Bahwa yang mempunyai harta bukan hanya ‘kewajiban’ tapi kebutuhan. Tapi bagi mereka yang erharta hurus diingat harta itu amanah &#8211; sekedah titipan yang bias diambil sewaktu-waktu – sehingga kuncinya adalah mengelola harta secara benar dan diridoi oleh Sang Pemilik. Satu lagi yang penting bagi yang sudah kaya, jangan bermental miskin.</p>
<p>“Tak perduli seperti apa kondisi anda sekarang, ubahlah sikap anda, karena dunia terus berubah. Bangsa Indonesia akan selalu tergelincir bila seluruh rakyatnya tidak mengubah sikap.” Demikianlah kedua pembicaraan member penekanan betapa perlunya mengubah sikap (menjadi lebih baik) pada semua lini.</p>
<p>Penulis yang menyimak acara ini rasanya ikut tersengat, ingin berubah. Tapi bagaimana harus memulainya, dari mana memulai perubahan diri sendiri yang berdampak pada lingkungan kerja maupun kehidupan bangsa. Dari mana dan bagaimana harus memulainya?</p>
<p>Ke toko buku ada CHANGE!, buku tulisan Rhenald Kasali, Ph .D. dengan sub judul yang berbunyi : <em>Tak peduli jalan yang anda jalani, putar arah sekarang juga.</em> Ah, betapa provokatifnya kalimat ini, dan senafas dengan apa yang disampaikan Aa Gym dan Andrie Wongso. Saya beli buku itu dan setiba di rumah saya simak habis.</p>
<p>Nah ini dia! Dalam buku itu dikatakan, hamper semua perubahan besar di dunia ini berhasil dijalankan oleh para pemimpin besar. Dan kalau kita buka lembar-lembar sejarah, para pelaku perubahan <em>(chang makers)</em> memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, yaitu <em>shelf diciplin</em> (disiplin diri). Mereka semua sepakat, sebelum memimpin orang lain mereka harus mampu mengendalikan diri terlebih dahulu. Itulah yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin agama, para jendrang pemimpein perang di Pasifik, dan tentu saja para usahawan dan eksekutif  terkemuka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/disiplin-diri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Berjuta Ayam</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/guru-berjuta-ayam.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/guru-berjuta-ayam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 14:57:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ayam]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[publikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[
Buku tentang bagaimana beternak yang baik dan benar, sudah banyak ditulis oleh staf pengajar/dosen  fakultas peternakan dan dokter hewan. Atau ditulis praktisi pabrikan/perusahaan peternakan. Namun kali ini, penulis yang wartawan peternakan mewawancarai seorang peternakyang sukses, managemen-nya terkenal bagus di kalangan perusahaan sapronak maupun peternak yang lain. Maka. inilah buku cara beternak yang benar-benar berangkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="guru sejuta ayam" src="http://farm4.static.flickr.com/3282/2613365335_ae1a18c130.jpg?v=0" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p>Buku tentang bagaimana beternak yang baik dan benar, sudah banyak ditulis oleh staf pengajar/dosen  fakultas peternakan dan dokter hewan. Atau ditulis praktisi pabrikan/perusahaan peternakan. Namun kali ini, penulis yang wartawan peternakan mewawancarai seorang peternakyang sukses, managemen-nya terkenal bagus di kalangan perusahaan sapronak maupun peternak yang lain. Maka. inilah buku cara beternak yang benar-benar berangkat dari pengalaman seorang peternakprofesional. Boleh jadi buku ini  merupakan perpaduan antara profil seorang peternak dan managemen beternak yang baik.<span id="more-1"></span></p>
<p>Pembaca buku ini sangat beruntung karena sang narasumber utama adalah peternak yang juga berprofesi sebagai guru. Naluri berbagi ilmu merasuk dalam pada buku ini, penuh kata-kata bijak dan filosofis, data dan informasi hampir tak ada yang ditutupi. Ini beda dengan karakter peternak atau pengusaha pada umumnya yang  menutup rapat ‘rahasia perusahaan’. Bahkan begitu terbukanya, seperti bagaimana formula  menghitung insentif karyawan, ditunjukkan, sampai-sampai  pihak penerbit  ‘ngeri’ dan minta pernyataan tertulis dari pihak narasumber.</p>
<p>Buku yang semula berjudul : ‘Guru Berjuta Ayam’ ini memang mencerminkan kesuksesan dari narasumber-nya.  Ayam yang dipelihara semula hanya 500 ekor kini berkembang hingga mendekati 3 juta ekor. Rumah besar, mobil mewah, jelas jauh dari penghasilan seorang guru. Tapi ia tetap menjalani profesi guru dengan baik, bahkan meraih predikat teladan dan diangkat menjadi kepala sekolah sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta. Maka, buku ini menarik untuk siapapun yang ingin beternak, dan  bagi peternak, inilah rujukan manajemen  beternak. Selamat  membaca!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/guru-berjuta-ayam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
