<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mulyantono.com &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://mulyantono.com/category/opini/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulyantono.com</link>
	<description>The Real Fact of Bambs</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 08:22:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Seperti birunya gunung</title>
		<link>http://mulyantono.com/opini/seperti-birunya-gunung.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/opini/seperti-birunya-gunung.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Seperti birunya gunung, cinta terasa lebih indah apabila dipandang dari jauh. Majalah Poultry Indonesia (PI) telah genap 30 tahun. Hampir sepuluh tahun saya bergabung di majalah ini, dan belum sebulan saya meninggalkan majalah ini, namun benar adanya, bahwa cinta itu terasa lebih indah manakala dipandang dari jauh, dari nun jauh di Singkawang – Kalimantan Barat.

Maka, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti birunya gunung, cinta terasa lebih indah apabila dipandang dari jauh. Majalah Poultry Indonesia (PI) telah genap 30 tahun. Hampir sepuluh tahun saya bergabung di majalah ini, dan belum sebulan saya meninggalkan majalah ini, namun benar adanya, bahwa cinta itu terasa lebih indah manakala dipandang dari jauh, dari nun jauh di Singkawang – Kalimantan Barat.</p>
<p><span id="more-24"></span></p>
<div id="attachment_25" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-25" title="bam-sinka" src="http://mulyantono.com/wp-content/uploads/2009/11/bam-sinka-300x224.jpg" alt="di depan pabrik pupuk organik - singkawang" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">di depan pabrik pupuk organik - singkawang</p></div>
<p>Maka, apabila  dalam tulisan ini yang tampak adalah keindahan-keindahan itu, maka ini adalah cinta yang nyata, bukan pujian kosong untuk sekedar penghiburan &#8211;  apalagi rayuan gombal belaka.</p>
<p>Poultry  Indonesia telah menjadi bacaan pelaku agribisnis perunggasan di Indonesia – rincinya pelaku usaha ayam ras, ayam bukan ras, itik, puyuh – lebih khusus lagi adalah pembudidaya, atau urusan produksi kalau di perusahaan peternakan.</p>
<p>Melalui survey kecil-kecilan yang pernah dilakukan majalah ini,  sebenarnya jelas siapa pembaca Poultry Indonesia. Menurut survey tersebut peminat Poultry Indonesia adalah para penanggung jawab produksi, manager farm dengan latar pendidikan dokter hewan atau sarjana peternakan, kemudian peternak muda atau generasi kedua ‘tertentu’ sebagai penerus usaha peternakan (keluarga) yang sudah berkembang besar.</p>
<p>Generasi kedua ‘tertentu’ diberi tanda kutip, karena tidak semua anak-anak peternak yang pada umumnya lulusan sekolah luar negeri berminat meneruskan usaha orang tunya.</p>
<p>Kenyataan di lapangan – katakanlah di Kalimantan Barat, menguatkan hasil survey tersebut. Ketika kumpul-kumpul dengan komunitas pelaku agribisnis perunggasan Kalbar, yang lebih gayeng merespon seputar isi majalah ini adalah dokter hewan dan sarjana peternakan yang bertanggung jawab pada produksi.</p>
<p>Isi majalah yang paling diminati dan menjadi bahan pembahasan adalah seputar tatalaksana atau kesehatan hewan. Mau tidak mau PI mesti memperbanyak porsi ini, meskipun sudah ada majalah peternakan yang lebih menfokuskan tema-tema  veteriner.</p>
<p>Restoran cepat saji McD semula maunya spesialis burger tapi pada akhirnya dia menyediakan menu fried chicken karena permintaan ayam goreng di restoran ini terbilang  tinggi. Ingat, masyarakat Indonesia kenal restoran cepat saji dengan restoran yang menyediakan menu utama ayam goreng tepung.</p>
<p>Kemudian hal kedua yang harus diperhatikan, meskipun istilah perunggasan identik dengan ayam ras, tapi sebagai media perunggasan PI harus membagi edisi atau halamannya secara ‘adil’ untuk ternak unggas lainnya; ayam kampung, itik, puyuh, atau yang umum disebut unggas lokal.</p>
<p>Profil peternak ayam kampung, peternak itik, atau peternak puyuh, bisa ditampilkan secara bergantian dengan peternak ayam ras – pedaging atau petelur – dalam Rubrik Profil. Sedangkan perkembangan peternakan unggas lokal di daerah juga bisa diselipkan di dalam Rubrik Daerah.</p>
<p>Jadi informasi kepada Koresponden PI di daerah, apabila meliput perunggasan daerah, hukumnya ‘wajib’ menyertakan perkembangan seputar unggas non ras. Kecenderungan berkembang pesat atau menyusut, tetaplah berita.</p>
<p>Tentang penyebaran Majalah PI ada di mana-mana sampai ke seluruh pelosok Indonesia, pembaca di daerah percaya itu. Karena mereka bukan keliling Indonesia dan menjumpai PI di mana-mana, melainkan pada periode tertentu, yakni tahun 2002 – 2004, PI mengangkat tema-tema perkembangan peternakan unggas pada suatu wilayah atau daerah.</p>
<p>Dalam 2002 Laporan Utamanya terbitan per bulan adalah perkembangan unggas di setiap propinsi di Sumatera. Pada 2003 propinsi di Kalimantan, Sulawesi ditambah Bali dan NTB. Kemudian 2004 seluruh P. Jawa yang dibagi per eks-karesidenan, ada pas 11 dan Edisi Desember 2004 rangkuman Perunggasan Nusantara.</p>
<p>Rupanya kegiatan liputan daerah ini mengesankan bagi para pembaca. Dengan reporter ke mana-mana, berarti PI ada di mana-mana. Memang mahal gaya liputan semacam ini. Tapi dengan kerjasama yang dilakukan PI dengan perusahaan-perusahaan perternakan waktu itu, ternyata program ‘mewah’ semacam itu bisa berjalan.</p>
<p>Pada tahun 2010 – 2011 – 2012 apabila program pengulangan keliiling Indonesia dilakukan, maka ini momentum yang pas, sudah berselang 8 tahun. Bukankah di setiap event, bila ketemu dengan pelaku agribisnis daerah, mereka menanyakan kapan lagi PI datang ke daerah kami?</p>
<p>Berbicara tentang usaha penerbitan, usia 30 tahun mestinya Majalah PI tidak hanya ‘produk tunggal’. Tapi sudah harus menelurkan ‘produk terbitan baru’, barangkali penerbitan berbasis daerah (propinsi atau sentra peternakan unggas).</p>
<p>Saya sangat kesengsem dengan pendekatan daerah, karena peternakan unggas di setiap daerah – mempunyai karakteristik masing-masing, mempunyai tantangan dan peluang yang berbeda – segaris lurus dengan  keragaman budaya bangsa kita.</p>
<p>Meminjam motto Wonokoyo Jayacorporindo yang bagus itu; ‘Dengan Ayam Membangun Bangsa’, Majalah PI mestinya tak henti-hentinya menyuarakan peternakan unggas daerah-daerah tanpa kenal lelah. Dengan penuh semangat dan optimisme PI layak mengumandangkan motto : ‘Dengan Majalah Ayam Kita Mencintai Indonesia’.</p>
<p>Sir Winston Churchill &#8212; dan banyak dikutip para motivator—mengatakan : Seorang yang optimis memandang adanya peluang dalam setiap bencana. Seorang yang pesimis melihat adanya bencana dalam setiap peluang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/opini/seperti-birunya-gunung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anti Stres</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 15:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[self help]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[
Manusia tidak sama dengan ayam. Tapi kehidupan manusia dan ayam tidak pernah bebas dari stres  Karena stres pada dasarnya hanyalah sejumlah perubahan yang diadaptasikan oleh tubuh untuk merespon berbagai perubahan lingkungan atau situasi tertentu. Peternak ayam, seusai melakukan vaksinasi, mengganti pakan, atau memindahkan ayam dari kandang postal ke kandang baterai &#8212; selalu memberi anti stres [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-17" title="stres" src="http://mulyantono.com/wp-content/uploads/2009/10/stres2-200x300.jpg" alt="stres" width="200" height="300" /></p>
<p>Manusia tidak sama dengan ayam. Tapi kehidupan manusia dan ayam tidak pernah bebas dari stres  Karena stres pada dasarnya hanyalah sejumlah perubahan yang diadaptasikan oleh tubuh untuk merespon berbagai perubahan lingkungan atau situasi tertentu. Peternak ayam, seusai melakukan vaksinasi, mengganti pakan, atau memindahkan ayam dari kandang postal ke kandang baterai &#8212; selalu memberi anti stres kepada ayam-ayamnya. Dengan vitamin dan elektrolit yang diberikan sebagai anti stres, diharapkan stamina tubuh ayam segera pulih setelah merespons berbagai tuntutan positif maupun negatif tadi.</p>
<p>Stres pada manusia sangat beragam penyebab dan wujudnya. Namun sebagai makhluk yang berakal, ada beragam pula cara untuk mengatasinya.  Sayang kita tidak bisa membimbing ayam untuk mengatasi stres dengan baik dan benar, maka yang bisa kita lakukan hanya memberi anti stres. Padahal, sebenarnya bukan ‘anti stres’ tapi hanya mengatasi akibat berikutnya dari stres, karena seperti disebutkan di atas, ayam dan manusia pada dasarnya tidak mampu menolak (=anti) stres.<span id="more-9"></span></p>
<p>Stres pada manusia, baik yang kadar penyebabnya besar maupun kecil, bisa datang kepada siapa saja. Belakangan ini koran-koran ibukota memuat kasus bunuh diri yang bertubi-tubi mulai dari anak sekolah dasar, ibu rumah tangga, kepala sebuah stasiun,  sampai seorang sarjana di lingkungan perguruan tinggi ternama. Itu semua juga karena stres!</p>
<p>Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dewasa ini 75% pasien datang ke dokter karena gejala-gejala yang menunjukkan stres, dan jenis stres kronis yang paling buruk adalah rasa tak berdaya (helplessness). Masih dari statistik, dewasa ini ada 144 juta resep baru dibuat setiap tahunnya untuk obat-obatan psikotropik termasuk anti depresi, obat-obatan penenang yang minor dan mayor.</p>
<p>Banyak cara yang selama ini ditempuh dan dianggap mampu mengatasi stres. Berjuta-juta orang Amerika dan Eropa mengandalkan diri pada konsumsi obat untuk meringankan ketegangan saraf, dan menghabiskan banyak obat untuk membangkitkan aktifitas mereka dalam suatu keadaan yang serba instan. Padahal berbagai hasil penelitian belum mengukuhkan berbagai klaim tentang kegunaan psikoterapi tadi.  Angka yang dimaksud sebagai data penyembuhan sekalipun tidak begitu mengesankan.</p>
<p>Seorang pembimbing meditasi mengatakan, mengatasi stres dengan berbagai konsumsi obat itu hanya perubahan sementara yang terkadang kelihatan, namun perubahan permanennya hanya ilusi saja. Akhirnya, disamping mengonsumsi obat,  beberapa orang pergi dari satu ahli terapi ke ahli terapi yang lain, dari workshop satu ke workshop yang lain, dari seminar ke seminar. Padahal ini mirip dengan makan camilan yang lezat. Perut untuk sementara kenyang, namun lapar akan segera terulang. “Harus disadari, berbagai model tingkah laku yang dipuji-puji – termasuk ambisi, dorongan kerja, orientasi tujuan yang berlebihan, kesuksesan finansial, dan tampil sibuk secara terus-menerus – justru telah mengakibatkan tingkat stres yang tinggi,” ujarnya.</p>
<p>Dalam masyarakat yang sangat cenderung stres, kita harus belajar mengembangkan alat-alat untuk menetralisir efek-efek negatif stres terhadap kesehatan tubuh ataupun jiwa. Ungkapan klasik <em>mensana in corpore sano </em>tak pernah ketinggalan zaman untuk terus dilaksanakan.</p>
<p>Tubuh manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling cantik dan menakjubkan. Ia mesti dipelihara dan dijaga. Namun tujuan hidup bukanlah sekadar merawat keelokan tubuh dan kecantikannya. Tubuh harus dirawat karena ia adalah cetakan bagi kehidupan dan jiwa ada di dalamnya, semacam kerang yang mengandung mutiara yang sedang tumbuh, tanpa kerang tak akan ada mutiara.</p>
<p>Herophilus, seorang dokter pribadi Aleksander Agung yang filmnya sudah beredar di bioskop-bioskop maupun dalam cakram padat, mengatakan : Ketika tak ada kesehatan, kearifan dengan sendirinya tak akan tercapai, seni tak akan muncul, kekuatan tak akan berdaya, kekayaan menjadi tak berguna, dan kecerdasan tak akan bisa diterapkan. Jadi, mari kita jaga kesehatan jiwa dan raga dengan cara-cara yang sehat pula.</p>
<p>Mengakhiri tulisan ini penulis ingin mengingatkan bahwa sebenarnya ada pula stres yang postif, misalnya rasa dag-dig-dug sebelum seseorang melangsungkan pernikahan, ujian kenaikan kelas, atau mendapat panggilan wawancara untuk sebuah pekerjaan yang diidamkan.  Nah, kalau stres jenis ini rasanya tidak perlu diatasi, tapi dinikmati ·</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan pada Bambs</title>
		<link>http://mulyantono.com/opini/perubahan-pada-bambs.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/opini/perubahan-pada-bambs.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 05:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[
Ah, Bang Iriyadi, ternyata jeli juga melihat perubahan perilaku seorang teman. Sebenarnya yang pertama kali melihat perubahan itu ‘teman dekat’ saya juga, yaitu ibunya Sekar. Komentarnya tentang perubahan itu diutarakan pada saat makan siang di kantin surau ketika ada pelatihan Anshorman. Dengan tatapan mata yang penuh kekaguman dan terus memperhatikan saya yang sedang asyik makan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img title="arap dan duro" src="http://farm3.static.flickr.com/2243/2110756466_c1a203ed32.jpg" alt="" width="500" height="333" /><p class="wp-caption-text">Bamb Duro dan Joyo Qatar</p></div>
<p>Ah, Bang Iriyadi, ternyata jeli juga melihat perubahan perilaku seorang teman. Sebenarnya yang pertama kali melihat perubahan itu ‘teman dekat’ saya juga, yaitu ibunya Sekar. Komentarnya tentang perubahan itu diutarakan pada saat makan siang di kantin surau ketika ada pelatihan Anshorman. Dengan tatapan mata yang penuh kekaguman dan terus memperhatikan saya yang sedang asyik makan, ia berkomentar ‘telah menyaksikan saya yang berbeda – tidak seperti yang ia kenal selama ini’.<span id="more-5"></span></p>
<p>Ya, mungkin ia agak ’shock’ melihat saya yang memimpin menyanyi di depan kelas untuk ice breaking, padahal di rumah ia tak pernah mendengar saya menyanyi — bahkan di kamar mandi sekali pun.</p>
<p>Saya pun mengakui, selama mengikuti kegiatan fasilitator  banyak proses pembelajaran yang sadar atau tidak, membawa perubahan perilaku yang lebih baik ; percaya diri, pengendalian emosi, berlatih berbicara di depan publik, menyanyi, nglawak dan lain sebagainya. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. dan Bang Iriyadi juga melihat perubahan pada diri saya, sebagaimana dituliskan di bawah ini :</p>
<p><span id="more-10"> </span></p>
<p>Ir. Bambang Mulyantono yang di lingkungan surau biasa disapa dengan BAM, yang saya kenal dua tahun lalu berbeda dengan BAM sekarang. BAM dulu pendiam, jarang humor dan tertutup, tapi sekarang telah terjadi loncatan yang jauh dari pandangan saya tentang BAM sebelumnya. Sekarang BAM lebih terbuka, dinamis, humoris dan sudah pandai berbicara di depan khalayak ramai.</p>
<p>Apa yang menjadi penyebab perubahan drastis seperti itu?  Menurut pengakuan BAM itu terjadi setelah ia aktif dalam kegiatan Federasi Fasilitator Surau (FIFAS). Ia mulai mengikuti dari Pelatihan Ansorman pertama sampai sekarang. BAM sendiri tidak menyadari perubahan pada dirinya itu, ia tahu justru dari komentar istrinya dan pandangan orang lain.</p>
<p>Perubahan itu juga berdampak pada prestasi di tempat kerjanya. Sekarang ia merangkap sebagai Wakil Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi sebuah majalah peternakan unggas bernama “Poultry Indonesia”. Jabatan rangkap itu dia terima belum genap setahun lalu. Sejalan dengan pelatihan SDM seperti leadership, manajemen, game-game multi tasking pada Pelatihan Anshor (Anshorman) — di mana ia ikut menjadi fasilitator –  menjadikan referensi baginya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kantor. “Saya banyak memetik manfaat dengan ikut menjadi fasilitator, termasuk untuk pekerjaan-pekerjaan saya di kantor,” ucap BAM.</p>
<p>Oleh sebab itu, ketika ditanya bagaimana mengatur waktu antara  kegiatan FIFAS dengan urusan kerja penerbitannya. Ia menjawab ringan, justru sangat bersinergi. Selain  contoh di atas, ia mencontohkan dalam urusan teknologi informasi, sebelum bergabung dengan teman-teman FIFAS dia mengaku termasuk gaptek (gagap teknologi). Tapi setelah ketemu Uconk si MonsterWeb FIFAS pengetahuan dan kecakapan BAM tentang teknologi informasi sudah lumayan, meskipun sampai sekarang di mata Uconk, BAM sudah tidak gagap sama sekali tapi masih terbata-bata.</p>
<p>Demikianlah perubahan yang terjadi pada BAM. Meskipun menurut pengakuannya, ia tidak begitu menyadari perubahan atau sedikit sekali menyadari perubahan itu, tapi bagi orang lain termasuk diri saya, melihat perubahan pada BAM itu cukup signifikan. Dan ternyata yang bertanggung jawab atas perubahan itu adalah komunitas FIFAS.</p>
<p>Sawangan, 5 Januari 2008</p>
<p>Iriyadi ZA</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/opini/perubahan-pada-bambs.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
