<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mulyantono.com &#187; Pengalaman</title>
	<atom:link href="http://mulyantono.com/category/pengalaman/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulyantono.com</link>
	<description>The Real Fact of Bambs</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 08:22:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Puncak, Agustus 1992</title>
		<link>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:05:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[langgar]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar  terasa ketika berada di dalam  angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.
Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar  terasa ketika berada di dalam  angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.</p>
<p>Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru bagi Bamton masuk dunia ‘pencarian kerja’. Menemui teman-teman satu kampus yang sudah bekerja, dijumpai di kantor seusai jam kerja, janji ketemu di Taman Ismail Marzuki (TIM) atau di tempat kostnya. Mencari informasi lowongan pekerjaan, mengirim lamaran, wawancara, menunggu kabar diterima atau tidak ada kabar berita alias ditolaknya. Ternyata inilah ritual sarjana yang berburu pekerjaan di ibukota.</p>
<p>”Baru belasan lamaran? Ah, masih belum. Nanti kalau sudah puluhan, atau mencapai angka seratus lamaran, boleh berharap ada panggilan.”  komentar seorang kenalan. Gila, pernyataan ini menghibur atau meledek, pikir Bamton Apakah harus  melewati proses seperti ini untuk mendapatkan pekerjaan, kemudian berpenghasilan, berkeluarga dan hidup layak seperti diharapkan orang-orang pada umumnya?</p>
<p><span id="more-29"></span>Suharna, teman kuliah Bamton, agak berbeda cara pandang terhadap ambisi Bamton yang ingin segera mendapatkan pekerjaan. Latar belakang ekonomi keluarga Bamton yang jauh lebih baik dari keluarganya, menurut saran Suharna malah sebaiknya Bamton  jangan buru-buru mencari pekerjaan. Mengapa tidak mondok dulu di pesantren &#8211;misalnya. mendalami agama, begitulah usul Suharna.</p>
<p>“Mondok? Bukankah kalau mondok pesantren di usia selepas kuliah, pasti harus bisa mengaji – fasih membaca Al Qur’an? Aku tidak bisa mengaji, Har.” ucap Bamton.</p>
<p>Entah dari mana asal-muasal pandangan Bamton seperti itu. Belajar dan mendalami Islam,  harus dimulai dari ‘bisa’ membaca Al-Qur’an, yang umum di masyarakat Jawa diistilahkan ‘mengaji’.</p>
<p>“Rasulullah ketika dijumpai Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu dari Allah, juga tidak bisa baca. Padahal itu ayat Al-Qur’an yang pertama turun.  Berarti apa yang disuruh untuk dibaca? Tulisan Al-Qur’an belum ada. Tapi ada perintah, baca nama Tuhanmu. Atau istilah ‘baca’ bisa bermakna ‘sebut’. Sebut nama Tuhanmu!” jelas Suharna.</p>
<p>Bamton setuju dengan penjelasan sahabatnya yang sejak zaman kuliah di Mataram dulu getol menimba pengetahuan dan menemukan hal-hal baru. “Berarti ada yang sangat ‘mendasar’ yang harus dikerjakan sebelum melaksanakan perintah agama seperti shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah  lainnya. Apa itu?  Yaitu menyebut Asma Allah atau dzikrullah.” lanjut Suharna.</p>
<p>“Menyebut nama ‘Allah’ siapa pun bisa. Burung beo pun bila dilatih akan fasih mengucapkannya. Tapi bagaimana menyebut Asma Allah seperti yang dimaui lalu diajarkan oleh Malaikat Jibril  kepada Rasulullah itu? Inilah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya, kemudian oleh sahabat diteruskan kepada tabiin, dan ulama-ulama berikutnya hingga hari ini.” tutur Suharna penuh semangat.</p>
<p>“Berdzikir  dengan tatacara seperti yang diajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, yang kemudian Beliau wariskan kepada sahabat-sahabatnya, alim-ulama  pewarisnya, inilah yang harus kita cari sebagai anak manusia yang ditakdirkan lahir dari lingkungan keluarga yang menganut Agama Islam.”</p>
<p>Benar, batin Bamton,  seorang anak manusia dilahirkan dari rahim ibu yang mana, bangsa dan agama apa, adalah rahasia Tuhan. Dia pernah mendapatkan sebuah nasihat,  kita harus bersyukur lahir dari keluarga Islam, tetapi kita tidak boleh ‘berhenti’ pada pemahaman agama yang kita dapatkan secara ‘warisan’ ini. Sikap beragama itu harus berada antara harap dan cemas. Pertanyaan  sudah benarkah Islam kita? Harus berani kita lontarkan setiap saat kepada diri sendiri.</p>
<p>Bamton kecil mengenal Islam dari Mbah Marto,  tetangga di samping kanan rumah Kakek-Neneknya yang hanya dipisahkan jalan dan sungai kecil membujur utara-selatan. Mbah Marto masih kerabat Kakek-Neneknya, keluarga dari pihak besan.</p>
<p>Bangunan rumah Mbah Marto hampir sama dengan rumah Kakek-Neneknya, rumah gedong bergaya Jawa berbahan tembok berarsitektur kuno, ruang tamu luas, semi terbuka seperti mbale (joglo), di tengah-tengahnya ada dua tiang  utama sebagai penyangga.</p>
<p>Rumah Mbah Marto menghadap ke arah utara, berhalaman luas , di sudut kanan kiri tumbuh pohon kelapa menjulang tinggi, di sisi kiri halaman ada bangunan langgar  tempat anak-anak mengaji.</p>
<p>Bangunan langgar terbuat dari bedek bambu, lantai papan yang diperkuat dengan bambu utuh, beralas tikar. Entah sejak kapan bangunan langgar itu berdiri, seingat Bamton begitu masuk usia sekolah dasar, ia ikut anak-anak sepantarannya mengaji di langgar Mbah Marto.</p>
<p>Senja menjelang Mahgrib anak-anak tetangga seusia SD bergegas mengaji di langgar Mbah Marto, yang berbadan besar seusia SMP hanya satu-dua orang saja. Yang berbadan besar menimba air untuk berwudu’ di sumur sebelah kanan halaman depan rumah Mbah Marto. Tidak hanya untuk wudu’ sendiri, dengan suka hati mereka bergantian memenuhi bak mandi besar untuk keperluan mandi Mbah Marto Kakung dan Mbah Marto Putri. Ini dilakukan anak-anak dengan ikhlas sebagai bentuk ucapan terima kasih, karena beliau pun dengan senang hati mengajari anak-anak mengaji tanpa minta gaji.</p>
<p>Disitulah awal Bamton mengenal Islam, belajar berwudu’ meniru teman-temannya yang lebih dulu tahu, sarung yang dibawa dari rumah dikenakan sebagai pengalaman yang mengasyikkan. Ups, kopiah yang dibelikan Bapak sedikit kebesaran, dan menjadi bahan ledekan teman-teman, tapi tak apalah, tadi memang sudah dicoba di rumah, kata Bapaknya nanti akan cukup dengan sendirinya.</p>
<p>Anak yang paling besar melantunkan Adzan. Sebagian sudah duduk di dalam langgar, tapi sebagian yang lain masih berlari-larian di halaman. Mbah Marto Putri keluar dari rumah sudah mengenakan mukenah putih menuju langgar, sembari mengajak anak-anak yang masih berlarian untuk segera masuk langgar.</p>
<p>Seusai kumandang Adzan ada yang shalat, ada yang tetap duduk bersila saja, Mbah Marto Putri shalat, Bamton tidak shalat, ia duduk bersila sambil mengamati keadaan. “Kamu tidak shalat sunat,” tanya temannya. Bamton menggeleng kecil. “Oh, tadi itu shalat sunat namanya,” batin Bamton. “Tapi apa kaitannya shalat sunat dengan sunatan?” pertanyaan Bamton dalam hati.</p>
<p>Mbah Marto Kakung sudah berdiri di pintu langgar, anak yang tadi Adzan langsung berdiri, melantunkan syair seperti Adzan yang dikemudian hari diketahui Bamton sebagai ‘Iqamat’.  Semua yang ada di dalam langgar berdiri bersiap shalat. Inilah gerakan-gerakan shalat yang pertama kali diikuti Bamton, melihat kiri-kanan menirukan gerakan.</p>
<p>Shalat ditutup dengan salam, berdoa, setelah itu anak-anak berebut salam mencium tangan Mbah Marto Kakung dan Mbah Marto Putri. Selanjutnya pelajaran mengaji dimulai, anak-anak yang sudah lancar berkumpul melingkari Mbah Marto Kakung, sedangkan yang baru belajar meriung bersama Mbah Marto Putri, menghadap Al  Qur’an – tampak Bamton pada lapisan depan.</p>
<p>Satu persatu anak-anak bergantian menirukan Mbah Marto Putri sambil menyimak huruf-huruf Arab yang ditunjuk dengan lidi pendek. Begitulah hampir setiap sore yang dilakukan Bamton bersama saudara-saudara sepantaran dan kawan-kawan sepermainan. Mengaji ditutup dengan Shalat Isya’ berjamaah, kalau Mbah Marto Kakung berkenan biasanya didongengi kisah-kisah Nabi. Yang paling disukai Bamton adalah Kisah Nabi Sulaiman yang bisa berkomunikasi dengan berbagai binatang.</p>
<p>Masa indah ini tidak berlangsung lama, Mbah Marto Kakung mulai sakit-sakitan, Mbah Marto Putri sibuk merawatnya. Sungguhpun begitu, sesekali melayani anak-anak yang tetap ingin mengaji. “Mbah, sore ini mengaji apa tidak,” tanya anak-anak perempuan. Bila tampak sibuk dan kondisi Mbah Marto Kakung perlu perhatian serius, biasanya selepas Ashar Mbah Marto Putri memberitahu tidak mengaji hari ini.</p>
<p>Mbah Marto Kakung cukup lama sakitnya, sembuh sebentar, sakit lagi, bahkan sempat masuk rumah sakit. Biaya berobat tentunya tidak sedikit. Entah bagaimana prosesnya, rumah dan pekarangan besar itu akhirnya dibeli oleh tetangga yang kaya. Sebelum pindah,  Mbah Marto sempat membangun rumah kecil di samping kanan sumur yang masih menjadi pekarangannya. Mungkin cukup banyak biaya untuk berobat. Di rumah yang baru ini Mbah Marto Kakung menghambuskan nafas terakhir.</p>
<p>Langgar tempat mengaji anak-anak sejak rumah dan pekarangan Mbah Marto dibeli oleh orang lain itu tidak terurus  lagi, tidak ada yang mengganti mengajari mengaji, entah tidak bisa, atau karena apa. Mbah Marto tidak punya anak, ada seorang anak angkat putri, setelah menikah ikut suaminya. Bangunan langgar semakin rapuh, beberapa bulan setelah menjadi hak milik orang lain, sebelum ditempati oleh pemilik yang baru, rumah Mbah Marto direnovasi. Langgar itu pun ikut dirobohkan.</p>
<p>Pelajaran mengaji setiap sore hanya sampai ketika Bamton duduk di bangku kelas 3 SD. Setelah itu tidak pernah mengaji lagi, pelajaran Agama Islam cukup dari mata pelajaran sekolah dasar. Bapaknya tidak begitu kuat menganjurkan harus bisa membaca Al Qur’an, yang penting sudah bisa shalat. Bapaknya sendiri tidak shalat kala itu, bahkan mengajar di SMP Katolik di Kota Jember selama 15 tahun lebih, menimbulkan dugaan sejumlah teman-teman sepermainan Bamton bahwa Bapaknya adalah penganut Katolik.</p>
<p>“Apakah kau pernah mendengar istilah tarekat?” tanya Suharna membuyarkan lamunan Bamton.<br />
“Apa, Har? Tarekat?” ujar Bamton tergeragap. “Apa itu?” tanya Bamton bukti bahwa dia tidak tahu dan memerlukan penjelasan.</p>
<p>Hawa malam terasa dingin merasuk kulit. Suasana sepi menyeliputi Perbukitan Puncak. Sore tadi, Bamton dan Suharna naik angkutan umum dari Jakarta ke Puncak &#8211; Bogor disambung naik ojek sepeda motor, dan berhenti di sebuah vila besar, yang dirawat, dijaga dan didiami oleh saudara jauh Suharna. Beruntung sekali keluarga ini, suami – istri menempati vila milik seorang pejabat tinggi Negara. Sang majikan belum tentu sebulan sekali datang. Orang-orang kaya Jakarta berlomba membangun vila di Puncak untuk berebut hawa segar atau berebut gengsi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jember, Januari 1968</title>
		<link>http://mulyantono.com/perjalanan/jember-januari-1968.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/perjalanan/jember-januari-1968.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 07:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Bamton adalah kependekan dari Bambang Mulyantono. nama yang diberikan oleh orang tuanya, walaupun begitu di tengah-tengah keluarga besarnya ia akrab dipanggil ‘Yanto’. Teman-temannya di sekolah, kuliah, maupun lingkungan kerja, ada yang menyapanya ‘Bambang’, ‘Tono’, bahkan ‘Boim’. Kemudian di lingkungan surau, ia lebih akrab dipanggil ‘Bam’ dengan sedikit imbuhan ‘s’ di belakangnya, meskipun kerap ditulis ‘Bamb’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bamton adalah kependekan dari Bambang Mulyantono. nama yang diberikan oleh orang tuanya, walaupun begitu di tengah-tengah keluarga besarnya ia akrab dipanggil ‘Yanto’. Teman-temannya di sekolah, kuliah, maupun lingkungan kerja, ada yang menyapanya ‘Bambang’, ‘Tono’, bahkan ‘Boim’. Kemudian di lingkungan surau, ia lebih akrab dipanggil ‘Bam’ dengan sedikit imbuhan ‘s’ di belakangnya, meskipun kerap ditulis ‘Bamb’ saja.</p>
<p><span id="more-22"></span>Bamton lahir di Jember pada Senin legi, dari rahim seorang ibu bernama Suprapti, asal Malang, dan berprofesi sebagai seorang ibu rumah tangga. Bapaknya seorang guru SMP bernama Saekan Adi Partono, lahir 1934 di Desa Semboro – Tanggul, Jember. Setelah menyelesaikan Sekolah Guru Bagian B (SGB) dan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) &#8212; kedua sekolahan itu berada di Malang, Partono diangkat sebagai pegawai negeri sipil yang bertugas mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP).</p>
<p>Penugasan pertamanya di SMP Glenmore – Genteng, Banyuwangi, kemudian pindah diperbantukan pada sebuah Yayasan Katolik sebagai tenaga pengajar Bahasa Jawa di SMP Katolik St.  Joseph di Kota Jember. Setelah 16 tahun mengajar ‘Bahasa Wajib’ di SMP Katolik yang murid-muridnya kebanyakan peranakan Tionghua itu, Partono minta pindah ke SMP Negeri Semboro – Tanggul, Jember, desa kelahirannya. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri Tapen – Bondowoso, lima tahun berjalan dipindah lagi sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri Umbulsari – Kencong, Jember, tetangga desa Semboro. Setelah itu pensiun.</p>
<p>Pertemuan pertama Partono dengan Suprapti terjadi di Malang, ketika ia menekuni pendidkan guru di Kota Apel ini. Konon, setelah beberapa lama tinggal di asrama, Partono sempat ‘indekos’ kepada seorang ibu yang membuka usaha warung makanan, dan wanita tersebut adalah ibu tiri dari Suprapti. Maka, terajutlah jalinan cinta di antara Partono dan Suprapti dan berlangsunglah perjodohan itu.</p>
<p>Anak pertama pasangan Partono + Suprapti bernama Endang Mardiyati lahir di Malang, kemudian yang kedua Bambang Wahyuono juga lahir di Malang. Yang ketiga Bambang Priantono meninggal dalam usia balita dimakamkan di Malang. Anak keempat Bambang Mulyantono, lahir di Jember saat Partono bertugas mengajar di SMP Katolik St. Joseph di Kota Jember.</p>
<p>Rumah tangga yang dibangun Partono dan Suprapti tampaknya berjalan tidak begitu mulus, ketika lahir anak ketiga, sempat terjadi ‘pisah ranjang’, Suprapti pulang ke Malang dengan membawa ketiga anaknya, bahkan si anak ketiga masih bayi. Beberapa waktu kemudian si anak menderita sakit panas dan meninggal dunia dalam usia balita.</p>
<p>Kemudian, entah – mungkin disertai perasaan sesal yang mendalam – pasangan ini ‘rujuk’ kembali, Endang dan Bambang ikut Kakek – Neneknya di Semboro.  Sedangkan Partono dan Suprapti menempati jatah ruangan satu petak di bagian belakang sekolah sebagai ‘rumah dinas’. Maka lahirlah anak ke-4, yaitu Bamton alias Yanto di Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) Jember, 29 Januari 1968.</p>
<p>Kelahiran anak keempat tampaknya tidak berhasil merekatkan kembali jalinan cinta pada keluarga ini. Menurut kisah dari sejumlah anggota keluarga, Suprapti yang berlatar belakang kehidupan kota, biasa hidup ‘termanjakan keadaan’. Misalnya, bila dimarahi ibu kandungnya larilah ia ke ibu tiri, dan untuk mengambil hati anak-anaknya, sang ibu tiri memanjakannya.</p>
<p>Lain lagi pengakuan Partono kepada Yanto – yang ketika itu Yanto sudah duduk di bangku SMA dan ia beranikan diri menanyakan  sebab musabab perceraian kedua orang tuanya itu. Kata Bapaknya, setiap kali usai melahirkan, Suprapti selalu uring-uringan, mungkin merasakan sakit yang luar biasa, kerap emosi yang tak terkendali, dan yang sangat membahayakan adalah pelampiasannya itu, bisa marah-marah yang tidak berujung-pangkal, dan apa saja bisa dilemparkan.</p>
<p>Sedangkan Partono adalah anak desa, anak pertama dari sebelas bersaudara, dia juga ‘dimanja’ oleh ibu-nya yang menganut nilai-nilai Jawa &#8212; sangat menghormati laki-laki. Anak laki-laki tidak pernah disuruh melakukan pekerjaan yang menjadi urusan wanita. Misalnya, kalau ada anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, menyetrika, membantu mencuci piring sendiri, dan lain-lain, sang ibu merasa sedih, menangis dalam hati, dan kesannya ‘tidak pantas dikerjakan anak laki-laki’</p>
<p>Rupanya pasangan Partono – Suprapti masing-masing dibesarkan dalam ‘kemanjaan’ yang berbeda. Namun, kehidupan ekonomi keluarga Partono yang pas-pasan, mestinya tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk sama-sama membongkar ‘egoisme’ masing-masing dari perangkap kemanjaan itu. Tapi apa mau dikata, egoisme telah memenangkan segalanya. Perceraian menjadi jalan keluar. Pada sebuah puncak pertengkaran, Suprapti hengkang dari rumah dengan menggendong Yanto yang masih bayi merah.</p>
<p>Sepulang mengajar, Partono tercenung lunglai melihat rumah yang kosong, Istrinya dengan membawa serta Yanto pergi meninggalkannya. Ia tidak menyangka, pertengkaran semalam menyebabkan kenekatan istrinya seperti ini.  Pasti mampir dulu ke Semboro, mengajak Endang dan Bambang untuk diajak ke Malang lagi. Mumpung masih ada waktu, Partono pamit ke Kepala Sekolah yang tinggal di bagian depan komplek sekolahan, untuk segera menyusul istri dan anaknya yang kemungkinan besar mampir ke Semboro menjemput Endang dan Bambang yang dititipkan pada Kakek &#8211; Neneknya.</p>
<p>Benar, di rumah Semboro, Suprapti dengan penuh emosional mengajak Endang dan Bambang sembari menggendong si kecil Yanto untuk segera bergegas berangkat ke Malang, Mbah Putri mencoba menenangkan menantunya untuk bersabar dan mengurungkan niatnya pulang ke Malang. “Sudahlah <em>nDuk,</em> yang  sabar, ingat anakmu masih kecil, apalagi Yanto masih bayi. Tidak usah pergi. Aku memohon maaf untuk kesalahan yang diperbuat oleh Partono. Langgengkan rumah tangga kalian hingga <em>kaken-kaken lan ninen-ninen, Yo nDuk?”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em></em>Tapi api amarah itu telah menjelma menjadi kobaran besar, siraman sepercik air tak mampu memadamkannya. Sambil menggendong Yanto dan menggandeng tangan Bambang, Suprapti menghentikan dokar yang sedang lewat di jalan samping rumah. Endang yang saat itu kelas 6 SD Semboro sebenarnya enggan ikut ke Malang, tapi untuk menemani ibunya dan gantian menggendong adiknya selama dalam perjalanan, ia didesak untuk ikut serta.</p>
<p>Bambang yang saat itu kelas 4 SD tampak bimbang dan menaruh iba pada ibu dan adiknya yang masih bayi. Dalam diamnya ia bertanya-tanya; mengapa peristiwa pahit yang pernah terjadi dulu itu mesti terulang kembali? Masih segar diingatannya beberapa tahun silam, lengannya yang kecil itu digandeng oleh ibunya diajak pergi ke Malang, dalam suasana yang jauh dari keceriaan. Dalam gendongan ibunya, adiknya Bambang Priantono atau yang biasa dipanggil Nanang, kerap rewel di sepanjang perjalanan. Setiba di Malang pun ibunya kebingungan mau tinggal di rumah siapa, terkadang tinggal di Kepanjen – rumah Mbah Putri (ibu dari ibunya yang sudah menjanda), sebentar kemudian pindah ke Malang (kota), rumah Bulik (adik ibunya yang juga punya 4 orang anak masih kecil-kecil), atau di Japanan – rumah Budhe (kakak ibunya yang juga punya anak 4 orang yang paling besar sepantaran dengan Endang dan Bambang). Karena masing-masing keluarga yang ditumpangi sama-sama sibuk mengurus anak masing-masing, maka anak-anak Suprapti (Endang dan Bambang) harus mengurus diri sendiri, sampai pada akhirnya si Nanang sakit panas dan meninggal dunia.</p>
<p>Sekarang, lengan Bambang yang masih kecil itu pun kembali dalam genggaman tangan ibunya, ia kembali diajak ke Malang dengan suasana yang tidak menyenangkan,  pasti Ibunya habis bertengkar lagi dengan Bapak. Dan yang paling menyedihkan, dalam gendongan ibu sekarang adalah Yanto, adiknya yang masih berumur beberapa minggu. Dalam hatinya Bambang ingin berteriak, tidak!  Dia tidak ingin nasib yang dialami Nanang terulang lagi kepada Yanto. Dia ingin mengatakan itu kepada ibunya, tapi dadanya terasa sangat sesak, udara dari paru-parunya malah mendesak ke atas menyumbat jalan nafas, kemudian merembes menembus saraf-saraf mata, sehingga tanpa disadari mengucur deras air matanya.  Mengapa Bapak tidak mencegah ibu pergi, dan mengapa Bapak kini tidak kunjung menyusul kami?</p>
<p>Perjalanan Partono dari Jember ke Tanggul yang berjarak 30 km dengan angkutan umum yang terbilang jarang, kalaupun ada berberapa belas kali harus berhenti menunggu penumpang. Kemudian disambung naik dokar Tanggul &#8211; Semboro yang berjarak 10 km, telah memberi ruang cukup lebar bagi Partono untuk tidak berpapasan apalagi bertemu dengan istri dan anak-anaknya.</p>
<p>Menjelang petang, ia memasuki rumah orang tuanya di Semboro, dengan penerangan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah, ibunya memandang wajah anak laki-laki pertamanya yang duduk lunglai di kursi. Sementara<em> Pak&#8217;e Saekan </em>– demikian ia memanggil suaminya &#8212; dengan wajah dingin duduk di ujung <em>amben </em>sambil menghisap rokok dalam-dalam.</p>
<blockquote><p><em>“Bojomu wis tak penging, nanging ora gelem. Endang lan Bambang malah dijak pisan.”</em> ujar ibunya.</p></blockquote>
<p>Dengan penuh sesal Partono menceritakan pertengkaran-pertengkaran yang memicu kejadian siang itu kepada kedua orang tuanya. Rasa-rasanya sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Yang menjadi pemikirannya sekarang adalah anak-anaknya, terutama Yanto yang masih bayi itu.  Maka, dengan terbata-bata, Partono memohon kepada ibunya untuk bersedia menyusul ke Malang, mengambil kembali anak-anak dari ibunya.</p>
<blockquote><p>“Bu’, saya minta tolong, kiranya Ibu berkenan menyusul dan mengambil kembali anak-anak ke sini. Endang dan Bambang biar sekolah di sini saja. Yanto&#8230;.., Yanto lah yang harus segera diambil.  Tapi pasti ibunya tidak membolehkan – maka kalau perlu ‘dicuri’ saja, Bu’.   Jangan sampai nasib Nanang terulang lagi pada Yanto.” pinta Partono.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Mestinya kamu sendiri yang menyusul anak-anakmu.” Komentar Bapaknya pendek.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Kalau aku yang datang, pasti terjadi pertengkaran, Pak.  Endang dan Bambang karena sudah sekolah di sini mungkin diijinkan ikut aku. Tapi Yanto, pasti tidak boleh lepas dari ibunya. Padahal dia perlu perawatan dan asuhan yang benar, tidak diajak pindah-pindah dari rumah keluarga yang satu ke keluarga yang lain, yang jaraknya cukup jauh. Yanto, Pak yang paling saya mengkhawatirkan. Makanya dia harus segera diambil! “ ungkap Partono gelisah</p></blockquote>
<blockquote><p>“Apa kamu sudah tak ingin rujuk kembali dengan istrimu?” Tanya ibunya.</p></blockquote>
<blockquote><p>“<em>Wis, gak</em>, aku putuskan tidak meneruskan lagi berkeluarga dengannya.” Jawab Partono tegas.</p></blockquote>
<p>Senyap terasa merambah di ruang <em>mbale</em> rumah,  asap putih mengepul dari sudut kandang sapi di seberang jalan depan rumah, dari rumput-rumput kering yang disapu, dikumpulkan dan dibakar oleh Pak Di – orang dari entah berantah yang hidup <em>magersari</em> di pekarangan<em> Si Mbah</em>.  Gerimis kecil menambah dingin petang itu.</p>
<p><strong><em>(Tulisan ini saya dedikasikan kepada Mas Bambang Wahyuono yang sudah hampir sepuluh tahun menghilang : &#8220;Mengapa masih saja kau ulang,  dan terus kau pelihara masa lalumu yang kelam itu?  Tidakkah kau punya keberanian mencampakkannya, dan membuka lembaran baru?  Tidak ada kata terlambat untuk kehidupan baru yang lebih baik) </em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/perjalanan/jember-januari-1968.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung, Juli 1992</title>
		<link>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 15:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[“Apakah di zaman sekarang ini ini masih ada orang-orang yang patut disebut sufi? Tarekat itu apa? Apa hubungan antara tarekat dengan tasawuf?” Serangkaian pertanyaan itu dilontarkan Nanang,  sembari mengemudikan kendaraan di sepanjang perjalanan Jakarta – Bandung. Duduk di sebelah kirinya, Bamton yang diminta menemaninya pergi ke Pengalengan &#8211; Bandung, untuk menemui seseorang terkait urusan perusahaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Apakah di zaman sekarang ini ini masih ada orang-orang yang patut disebut sufi? Tarekat itu apa? Apa hubungan antara tarekat dengan tasawuf?” Serangkaian pertanyaan itu dilontarkan Nanang,  sembari mengemudikan kendaraan di sepanjang perjalanan Jakarta – Bandung. Duduk di sebelah kirinya, Bamton yang diminta menemaninya pergi ke Pengalengan &#8211; Bandung, untuk menemui seseorang terkait urusan perusahaan tempat dia bekerja.<span id="more-12"></span></p>
<p>Pertanyaan itu muncul, karena Bamton menceritakan telah bertemu dengan Suharna, teman mereka di kampus, yang mengaku tetap melanjutkan aktivitas sebagai pengamal tarekat yang dia kenal sejak di Mataram dulu, yang di Jakarta ini pusat kegiatannya – katanya &#8212; ada di Cilandak Tengah. “Aku mau diajak ke sana.” ujar Bamton.</p>
<p>Bamton sendiri baru datang di Jakarta. Selepas kuliah, sejenak ia pulang kampung di Jember, kemudian mencari kerja di ibukota Negara; menumpang tinggal di rumah saudara di Tangerang, mencari teman-teman lama, lalu menyebar lamaran ke sejumlah perusahaan.  Suharna dan Nanang adalah teman seangkatan di Fakultas Peternakan Universitas Mataram yang sudah lebih dulu tinggal di Jakarta setelah lulus, keduanya sudah mendapat pekerjaan. Nanang di perusahaan penggemukan sapi sedangkan Suharna sebagai wartawan majalah peternakan. Bamton sudah tiga bulan di Jakarta dan baru belasan lamaran yang telah disebarkan, sehingga – menurut kelakar teman-temannya &#8212; belum layak berharap mendapat pekerjaan segera.</p>
<p>“Istilah tasawuf sendiri, menurut buku-buku yang saya baca,  asal katanya sangat beragam dan definisinya tidak ada yang lengkap alias sepotong-sepotong. Pengertian tasawuf lebih kurang meliputi hal-hal; membersihkan hati, mengendalikan hawa nafsu, berperangai baik, mendekatkan diri pada Tuhan, mensucikan diri, menjauhkan diri dari kemewahan.” ungkap Bamton.</p>
<p>Pengamal tasawuf disebut sufi, lanjut Bamton. Kalangan sufi meyakini, benih-benih tasawuf lahir dan diilhami oleh pribadi, perilaku, peristiwa, ibadah, dan kehidupan Rasulullah. Banyak yang bisa dicontohkan, misalnya; bersunyi-sunyi diri di Gua Hira’, berdzikir dan bertafakur, Isra’ Mi’raj, pribadi Rasulullah SAW yang sederhana (zuhud, tidak terpesona oleh kemewahan dunia), ibadah (shalat dan berdzikir), I’tikaf (terutama dalam Bulan Ramadhan).</p>
<p>Lebih kurang dua abad setelah Rasulullah wafat, kelompok pengamal tasawuf  disebut tarekat. Jadi ada pergeseran makna, dari tarekat yang bermakna jalan/cara/metode, menjadi nama bagi kelompok yang mengamalkan jalan/cara/metode tertentu. Pada masa itu memang banyak bermunculan tarekat dengan nama-nama yang baru, seperti Sirriyah, Ubudiyah, Shiddiqiyah, Taifuriyah, Khawajakaniah, Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Al-Ahrariyah, Naqsyabandiyah Al-Mujaddidiyah, Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah. Sama dengan bidang ilmu yang lain, seiring dengan itu (150 s/d 200 tahun setelah Rasulullah wafat) juga lahir mahzab-mahzab di bidang fiqih, seperti Hambali, Maliki, Syafi’I dan Ja’fari.</p>
<p>Tarekat sendiri menurut bahasa berasal dari kata Arab <em>thariqah</em> yang berarti jalan atau metode atau aliran <em>(madzhab)</em>. Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai <em>(wusul)</em> kepada-Nya. Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan-aturan tertentu sesuai dengan petunjuk guru atau <em>mursyid</em> tarekat masing-masing, agar berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Ahli tasawuf mengaitkan istilah tarekat dengan firman Allah SWT: <em>“Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (thariqah) yang benar niscaya akan kami turunkan (hikmah) seperti hujan yang deras dari langit.”</em> (QS Al-Jinn/72 : 16)</p>
<p>Tarekat terkait erat dengan tasawuf, karena tarekat merupakan organisasi persaudaraan dalam menjalankan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah SWT merupakan Zat yang suci, maka Zat yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali oleh sesuatu yang suci. Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan-tahapan spiritual (<em>maqamat</em>). Masing-masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda-beda, berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda-beda pula.</p>
<p>Menurut al-Ghazali langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati <em>(tazkiyah al-nafs)</em> adalah <em>takhalli</em> yaitu mengosongkan hati dari selain Allah, kemudian <em>tahalli</em> yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat-sifat terpuji, dan <em>tajalli</em> yakni memperoleh hakekat tentang ‘wujud’ Tuhan.</p>
<p>Tanpa terasa perjalanan sudah sampai Bandung. Pada sebuah sudut kota mereka berdua bertemu dengan seorang pria berperawakan tinggi, berkulit sawo matang, di keningnya ada tanda kehitaman lantaran kerap bersujud. Dengan seyum ramah pria yang mengenakan baju koko putih dan berpeci putih itu mengenalkan dirinya Heru.</p>
<p>Tanpa melepas senyumnya Heru yang ternyata <em>arek</em> Surabaya itu bergabung satu mobil dengan Nanang dan Bamton,  lalu mengajak pada suatu tempat terlebih dahulu sebelum ke Pengalengan. Tidak lama kemudian tibalah pada sebuah pondok pesantren. Bamton membaca papan nama yang terpampang di depannya dengan suara yang agak keras : ‘Pondok Pesantren Daarut Tauhiid’. Lalu ia bertanya, siapa Kyai pendiri pondok pesantren ini? Heru menyebut nama AaGym dengan kesan agak heran, sepertinya ia menyimpan tanya, <em>kok</em> masih ada juga yang belum tahu.</p>
<p>Pada akhirnya nama AaGym yang bernama lengkap K.H. Abdullah Gymnastiar sangat populer di Tanah Air. Tapi waktu itu memang belum sepopuler sekarang. Atau bisa jadi Bamton sendiri baru datang dari udik, sehingga masih relatif kuper (kurang pergaulan). Heru menyadari itu, dan segera mempersilahkan tamunya untuk mengikutinya. Rupanya, Heru  seorang karyawan perusahaan rabat/retail di Jakarta yang tersohor waktu itu. Perusahaan tempat Nanang bekerja adalah suplier-nya, khusus daging sapi. Hari Sabtu dan Minggu dimanfaatkan Heru untuk keluarganya yang tinggal di Bandung</p>
<p>Di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid tampaknya ia pun aktif membantu pengelolaan usaha supermarket yang keseharian dikelola olah para santri. Kata Heru ada sejumlah unit usaha di samping toserba itu, diantaranya bengkel, percetakan, penginapan, dan lain sebagainya. Tentang kegiatan beribadah, Heru bercerita : ”Kalau Minggu begini dimulai dengan shalat tahajud, berdzikir, shalat subuh, mendengarkan tausyiah dari AaGym. Jamaahnya datang sejak Sabtu malam, dan setelah mengikuti rangkaian itu mereka pulang ke pangkalan masing-masing. Atau ada yang masih mau menginap untuk berapa malam lagi.”</p>
<p>Di sepanjang perjalanan Bandung &#8211; Pengalengan lalu ke Bandung lagi, Bamton lebih banyak diam, sementara Nanang dan Heru banyak berbicara seputar bisnisnya. Melihat sosok Heru, seorang eksekutif pada sebuah perusahaan di Jakarta, profesional di bidang marketing, setiap Jum’at sore balik ke Bandung, Sabtu – Minggu ia dan keluarga mengikuti kegiatan di Pondok Pesantren. Tampaknya, ibadah bagi dia bukan sebagai kewajiban pribadi semata, melainkan sebagai sebuah rekreasi keluarga. <em>Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Kak Rindi</title>
		<link>http://mulyantono.com/pengalaman/terima-kasih-kak-rindi.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/pengalaman/terima-kasih-kak-rindi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 14:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Entah sudah berapa kali saya diajari Bang Uconk bagaimana aktif menulis di Blog sendiri. Blog sudah dibuatkan, disuruh beli domain sudah tak turuti, tapi alasan yang kerap saya lontarkan ketika Blog saya isinya tak pernah bertambah adalah, aku nggak bisa memasukkan naskah, Conk
Oke, kalau begitu ikut kursus bikin Blog bareng kawan-kawan yang lain yang juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-11" title="Picture 070-resize" src="http://mulyantono.com/wp-content/uploads/2009/10/Picture-070-resize-300x200.jpg" alt="Di Bengkulu menimba ilmu (12-15/8/2009)" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Di Bengkulu menimba ilmu (12-15/8/2009)</p></div>
<p>Entah sudah berapa kali saya diajari Bang <a href="http://faizal.web.id">Uconk </a>bagaimana aktif menulis di Blog sendiri. Blog sudah dibuatkan, disuruh beli domain sudah tak turuti, tapi alasan yang kerap saya lontarkan ketika Blog saya isinya tak pernah bertambah adalah, aku nggak bisa memasukkan naskah, Conk</p>
<p>Oke, kalau begitu ikut kursus bikin Blog bareng kawan-kawan yang lain yang juga pengin bikin Blog, kata Uconk.  Maka jadilah saya ikut bergabung kursus mengisi Blog di kantor Kampus Baitul Amin (9/10) mulai jam 20.00 WIB<span id="more-6"></span></p>
<p>Pada saat menjelaskan awal, Blog saya yang termasuk dalam Fifas Agregator disebut-sebut sebagai contoh. Tapi aku malah malu karena naskahnya tidak pernah bertambah, dan yang memasang foto dan tulisan sebenarnya Uconk sendiri.</p>
<p>Materi kursus sudah masuk bagaimana mengisi tulisan, dan semua peserta yang sudah mempunyai Blog masing-masing mulai diajari menulis apa saja. Aku juga mengikuti, eh ternyata nggak bisa segera dimulai karena pasword-ku lupa, Uconk yang membikinkan juga lupa. Wah, ternyata sampean nggak pernah membuka, Mas, kata Bang Uconk. Ya, jawabku tegas.</p>
<p>Beruntung ada Kak Rindi, akhirnya dengan sabar Kak <a href="http://bababububebe.blogspot.com">Rindi</a> mengajari aku bagaimana mengganti pasword baru. Berbulan-bulan aku diajari mengisi Blog oleh Bang Uconk tapi nggak nyenthel&#8230;..tapi diajari Kak Rindi semenit saja ternyata pikiran jadi padang njingglang&#8230;.terang benderang. Terima kasih, Kak Rindi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/pengalaman/terima-kasih-kak-rindi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
