<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mulyantono.com</title>
	<atom:link href="http://mulyantono.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulyantono.com</link>
	<description>The Real Fact of Bambs</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 08:22:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Puncak, Agustus 1992</title>
		<link>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:05:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[langgar]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar  terasa ketika berada di dalam  angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.
Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar  terasa ketika berada di dalam  angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.</p>
<p>Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru bagi Bamton masuk dunia ‘pencarian kerja’. Menemui teman-teman satu kampus yang sudah bekerja, dijumpai di kantor seusai jam kerja, janji ketemu di Taman Ismail Marzuki (TIM) atau di tempat kostnya. Mencari informasi lowongan pekerjaan, mengirim lamaran, wawancara, menunggu kabar diterima atau tidak ada kabar berita alias ditolaknya. Ternyata inilah ritual sarjana yang berburu pekerjaan di ibukota.</p>
<p>”Baru belasan lamaran? Ah, masih belum. Nanti kalau sudah puluhan, atau mencapai angka seratus lamaran, boleh berharap ada panggilan.”  komentar seorang kenalan. Gila, pernyataan ini menghibur atau meledek, pikir Bamton Apakah harus  melewati proses seperti ini untuk mendapatkan pekerjaan, kemudian berpenghasilan, berkeluarga dan hidup layak seperti diharapkan orang-orang pada umumnya?</p>
<p><span id="more-29"></span>Suharna, teman kuliah Bamton, agak berbeda cara pandang terhadap ambisi Bamton yang ingin segera mendapatkan pekerjaan. Latar belakang ekonomi keluarga Bamton yang jauh lebih baik dari keluarganya, menurut saran Suharna malah sebaiknya Bamton  jangan buru-buru mencari pekerjaan. Mengapa tidak mondok dulu di pesantren &#8211;misalnya. mendalami agama, begitulah usul Suharna.</p>
<p>“Mondok? Bukankah kalau mondok pesantren di usia selepas kuliah, pasti harus bisa mengaji – fasih membaca Al Qur’an? Aku tidak bisa mengaji, Har.” ucap Bamton.</p>
<p>Entah dari mana asal-muasal pandangan Bamton seperti itu. Belajar dan mendalami Islam,  harus dimulai dari ‘bisa’ membaca Al-Qur’an, yang umum di masyarakat Jawa diistilahkan ‘mengaji’.</p>
<p>“Rasulullah ketika dijumpai Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu dari Allah, juga tidak bisa baca. Padahal itu ayat Al-Qur’an yang pertama turun.  Berarti apa yang disuruh untuk dibaca? Tulisan Al-Qur’an belum ada. Tapi ada perintah, baca nama Tuhanmu. Atau istilah ‘baca’ bisa bermakna ‘sebut’. Sebut nama Tuhanmu!” jelas Suharna.</p>
<p>Bamton setuju dengan penjelasan sahabatnya yang sejak zaman kuliah di Mataram dulu getol menimba pengetahuan dan menemukan hal-hal baru. “Berarti ada yang sangat ‘mendasar’ yang harus dikerjakan sebelum melaksanakan perintah agama seperti shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah  lainnya. Apa itu?  Yaitu menyebut Asma Allah atau dzikrullah.” lanjut Suharna.</p>
<p>“Menyebut nama ‘Allah’ siapa pun bisa. Burung beo pun bila dilatih akan fasih mengucapkannya. Tapi bagaimana menyebut Asma Allah seperti yang dimaui lalu diajarkan oleh Malaikat Jibril  kepada Rasulullah itu? Inilah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya, kemudian oleh sahabat diteruskan kepada tabiin, dan ulama-ulama berikutnya hingga hari ini.” tutur Suharna penuh semangat.</p>
<p>“Berdzikir  dengan tatacara seperti yang diajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, yang kemudian Beliau wariskan kepada sahabat-sahabatnya, alim-ulama  pewarisnya, inilah yang harus kita cari sebagai anak manusia yang ditakdirkan lahir dari lingkungan keluarga yang menganut Agama Islam.”</p>
<p>Benar, batin Bamton,  seorang anak manusia dilahirkan dari rahim ibu yang mana, bangsa dan agama apa, adalah rahasia Tuhan. Dia pernah mendapatkan sebuah nasihat,  kita harus bersyukur lahir dari keluarga Islam, tetapi kita tidak boleh ‘berhenti’ pada pemahaman agama yang kita dapatkan secara ‘warisan’ ini. Sikap beragama itu harus berada antara harap dan cemas. Pertanyaan  sudah benarkah Islam kita? Harus berani kita lontarkan setiap saat kepada diri sendiri.</p>
<p>Bamton kecil mengenal Islam dari Mbah Marto,  tetangga di samping kanan rumah Kakek-Neneknya yang hanya dipisahkan jalan dan sungai kecil membujur utara-selatan. Mbah Marto masih kerabat Kakek-Neneknya, keluarga dari pihak besan.</p>
<p>Bangunan rumah Mbah Marto hampir sama dengan rumah Kakek-Neneknya, rumah gedong bergaya Jawa berbahan tembok berarsitektur kuno, ruang tamu luas, semi terbuka seperti mbale (joglo), di tengah-tengahnya ada dua tiang  utama sebagai penyangga.</p>
<p>Rumah Mbah Marto menghadap ke arah utara, berhalaman luas , di sudut kanan kiri tumbuh pohon kelapa menjulang tinggi, di sisi kiri halaman ada bangunan langgar  tempat anak-anak mengaji.</p>
<p>Bangunan langgar terbuat dari bedek bambu, lantai papan yang diperkuat dengan bambu utuh, beralas tikar. Entah sejak kapan bangunan langgar itu berdiri, seingat Bamton begitu masuk usia sekolah dasar, ia ikut anak-anak sepantarannya mengaji di langgar Mbah Marto.</p>
<p>Senja menjelang Mahgrib anak-anak tetangga seusia SD bergegas mengaji di langgar Mbah Marto, yang berbadan besar seusia SMP hanya satu-dua orang saja. Yang berbadan besar menimba air untuk berwudu’ di sumur sebelah kanan halaman depan rumah Mbah Marto. Tidak hanya untuk wudu’ sendiri, dengan suka hati mereka bergantian memenuhi bak mandi besar untuk keperluan mandi Mbah Marto Kakung dan Mbah Marto Putri. Ini dilakukan anak-anak dengan ikhlas sebagai bentuk ucapan terima kasih, karena beliau pun dengan senang hati mengajari anak-anak mengaji tanpa minta gaji.</p>
<p>Disitulah awal Bamton mengenal Islam, belajar berwudu’ meniru teman-temannya yang lebih dulu tahu, sarung yang dibawa dari rumah dikenakan sebagai pengalaman yang mengasyikkan. Ups, kopiah yang dibelikan Bapak sedikit kebesaran, dan menjadi bahan ledekan teman-teman, tapi tak apalah, tadi memang sudah dicoba di rumah, kata Bapaknya nanti akan cukup dengan sendirinya.</p>
<p>Anak yang paling besar melantunkan Adzan. Sebagian sudah duduk di dalam langgar, tapi sebagian yang lain masih berlari-larian di halaman. Mbah Marto Putri keluar dari rumah sudah mengenakan mukenah putih menuju langgar, sembari mengajak anak-anak yang masih berlarian untuk segera masuk langgar.</p>
<p>Seusai kumandang Adzan ada yang shalat, ada yang tetap duduk bersila saja, Mbah Marto Putri shalat, Bamton tidak shalat, ia duduk bersila sambil mengamati keadaan. “Kamu tidak shalat sunat,” tanya temannya. Bamton menggeleng kecil. “Oh, tadi itu shalat sunat namanya,” batin Bamton. “Tapi apa kaitannya shalat sunat dengan sunatan?” pertanyaan Bamton dalam hati.</p>
<p>Mbah Marto Kakung sudah berdiri di pintu langgar, anak yang tadi Adzan langsung berdiri, melantunkan syair seperti Adzan yang dikemudian hari diketahui Bamton sebagai ‘Iqamat’.  Semua yang ada di dalam langgar berdiri bersiap shalat. Inilah gerakan-gerakan shalat yang pertama kali diikuti Bamton, melihat kiri-kanan menirukan gerakan.</p>
<p>Shalat ditutup dengan salam, berdoa, setelah itu anak-anak berebut salam mencium tangan Mbah Marto Kakung dan Mbah Marto Putri. Selanjutnya pelajaran mengaji dimulai, anak-anak yang sudah lancar berkumpul melingkari Mbah Marto Kakung, sedangkan yang baru belajar meriung bersama Mbah Marto Putri, menghadap Al  Qur’an – tampak Bamton pada lapisan depan.</p>
<p>Satu persatu anak-anak bergantian menirukan Mbah Marto Putri sambil menyimak huruf-huruf Arab yang ditunjuk dengan lidi pendek. Begitulah hampir setiap sore yang dilakukan Bamton bersama saudara-saudara sepantaran dan kawan-kawan sepermainan. Mengaji ditutup dengan Shalat Isya’ berjamaah, kalau Mbah Marto Kakung berkenan biasanya didongengi kisah-kisah Nabi. Yang paling disukai Bamton adalah Kisah Nabi Sulaiman yang bisa berkomunikasi dengan berbagai binatang.</p>
<p>Masa indah ini tidak berlangsung lama, Mbah Marto Kakung mulai sakit-sakitan, Mbah Marto Putri sibuk merawatnya. Sungguhpun begitu, sesekali melayani anak-anak yang tetap ingin mengaji. “Mbah, sore ini mengaji apa tidak,” tanya anak-anak perempuan. Bila tampak sibuk dan kondisi Mbah Marto Kakung perlu perhatian serius, biasanya selepas Ashar Mbah Marto Putri memberitahu tidak mengaji hari ini.</p>
<p>Mbah Marto Kakung cukup lama sakitnya, sembuh sebentar, sakit lagi, bahkan sempat masuk rumah sakit. Biaya berobat tentunya tidak sedikit. Entah bagaimana prosesnya, rumah dan pekarangan besar itu akhirnya dibeli oleh tetangga yang kaya. Sebelum pindah,  Mbah Marto sempat membangun rumah kecil di samping kanan sumur yang masih menjadi pekarangannya. Mungkin cukup banyak biaya untuk berobat. Di rumah yang baru ini Mbah Marto Kakung menghambuskan nafas terakhir.</p>
<p>Langgar tempat mengaji anak-anak sejak rumah dan pekarangan Mbah Marto dibeli oleh orang lain itu tidak terurus  lagi, tidak ada yang mengganti mengajari mengaji, entah tidak bisa, atau karena apa. Mbah Marto tidak punya anak, ada seorang anak angkat putri, setelah menikah ikut suaminya. Bangunan langgar semakin rapuh, beberapa bulan setelah menjadi hak milik orang lain, sebelum ditempati oleh pemilik yang baru, rumah Mbah Marto direnovasi. Langgar itu pun ikut dirobohkan.</p>
<p>Pelajaran mengaji setiap sore hanya sampai ketika Bamton duduk di bangku kelas 3 SD. Setelah itu tidak pernah mengaji lagi, pelajaran Agama Islam cukup dari mata pelajaran sekolah dasar. Bapaknya tidak begitu kuat menganjurkan harus bisa membaca Al Qur’an, yang penting sudah bisa shalat. Bapaknya sendiri tidak shalat kala itu, bahkan mengajar di SMP Katolik di Kota Jember selama 15 tahun lebih, menimbulkan dugaan sejumlah teman-teman sepermainan Bamton bahwa Bapaknya adalah penganut Katolik.</p>
<p>“Apakah kau pernah mendengar istilah tarekat?” tanya Suharna membuyarkan lamunan Bamton.<br />
“Apa, Har? Tarekat?” ujar Bamton tergeragap. “Apa itu?” tanya Bamton bukti bahwa dia tidak tahu dan memerlukan penjelasan.</p>
<p>Hawa malam terasa dingin merasuk kulit. Suasana sepi menyeliputi Perbukitan Puncak. Sore tadi, Bamton dan Suharna naik angkutan umum dari Jakarta ke Puncak &#8211; Bogor disambung naik ojek sepeda motor, dan berhenti di sebuah vila besar, yang dirawat, dijaga dan didiami oleh saudara jauh Suharna. Beruntung sekali keluarga ini, suami – istri menempati vila milik seorang pejabat tinggi Negara. Sang majikan belum tentu sebulan sekali datang. Orang-orang kaya Jakarta berlomba membangun vila di Puncak untuk berebut hawa segar atau berebut gengsi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ubudiyyah</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/ubudiyyah.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/ubudiyyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya istilah ubudiyyah begitu populer. Kerja bakti gotong-royong membangun, memersihkan dan merapikan tempat wirid (surau) disebut ubudiyyah. Jamaah melakukan karya apa pun untuk kemajuan dan perkembangan tarekat disebutnya sebagai ubudiyyah. Sebenarnya apa pengertian ubudiyyah?

Secara asal kata (etimologi), ubudiyyah merupakan kosa kata Bahasa Arab dalam bentuk masdar (kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya istilah ubudiyyah begitu populer. Kerja bakti gotong-royong membangun, memersihkan dan merapikan tempat wirid (surau) disebut ubudiyyah. Jamaah melakukan karya apa pun untuk kemajuan dan perkembangan tarekat disebutnya sebagai ubudiyyah. Sebenarnya apa pengertian ubudiyyah?</p>
<p><span id="more-27"></span></p>
<p>Secara asal kata (etimologi), ubudiyyah merupakan kosa kata Bahasa Arab dalam bentuk masdar (kata benda) dari kata kerja abada-ya’budu, yang secara kebahasaan berarti beribadah yang mencakup pengesaan, ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan. Dengan demikian, ubudiyyah dapat diartikan sebagai pelaksanaan ibadah.</p>
<p>Adapun secara terminologi, ada beberapa pengertian ubudiyyah yang dirumuskan para ahli tasawuf diantaranya : (1) ubudiyyah adalah keadaan seorang hamba yang ikhlas dan ridla terhadap semua yang telah ditetapkan Tuhan atas dirinya. (2) ubudiyyah adalah menegakkan ketaatan yang sungguh-sungguh dengan pengagungan, menilai semua yang berasal dari diri sendiri sebagai sesuatu yang rendah, dan mengakui bahwa segala yang dihasilkan dari kehidupannya sebagai ketetapan. (3) ubudiyyah adalah meninggalkan upaya untuk memilih sesuatu yang dinilai secara nyata sebagai ketetapan. (4) ubudiyyah adalah menolak daya upaya dan kekuatan, serta mengakui segalanya yang telah diberikan dan diatur Allah SWT, seperti umur, anugerah, dan lainnya. (5) ubudiyyah adalah melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi yang dilarang.</p>
<p>Dalam ajaran tasawuf, ubudiyyah sering dirangkaikan dengan ibadah dan ubudah. Susunan dari ketiganya adalah ibadah, ubudiyyah, dan ubudah. Syaikh Abu Ali al-Hasan  ibn Ali an-Naisaburi al-Daqqaq  (w 405 H) menegaskan bahwa ubudiyyah lebih sempurna dari ibadah. Dari ketiga rangkaian itu, tingkat yang paling dasar adalah ibadah, kemudian disusul ubudiyyah, dan yang paling tinggi adalah ubudah.</p>
<p>Selanjutnya guru sufi dari Abd al Karim al-Qusyayri (w.465 H/1073 M) ini menyatakan pula bahwa ibadah itu dimiliki orang yang masih awam (orang kebanyakan), ubudiyyah dimiliki orang khawwas (orang khusus/yang keyakinan dan pengetahuannya lebih mendalam), dan ubudah hanya dimiliki oleh orang yang disebut sebagai khawwas al-khawwas (orang khusus dari yang khusus).</p>
<p>Ibadah dimiliki mereka yang telah sampai pada tingkat ilm al-yaqin, ubudiyyah dimiliki mereka yang telah mencapai tingkat ayn al-yaqin, dan ubudah hanya dimiliki mereka yang telah mencapai tingkat haqq al-yaqin.<br />
Selanjutnya  dikatakan, ibadah dimiliki orang yang selalu malakukan mujahadah (selalu bersungguh-sungguh dalam muamalahnya dengan Tuhan), ubudiyyah dimiliki orang yang berada dalam kondisi mukabidah (yang selalu bersikap sabar ketika terbebani oleh cobaan yang berat), dan ubudah dimiliki orang yang telah mencapai pengalaman musyahadah (yang telah menyaksikan keagungan Tuhan).</p>
<p>Jadi, orang yang tidak mengeluh kepada Allah, jiwanya dalam keadaan ibadah, dan siapa yang tidak bakhl (kikir) jiwanya maka dialah pemilik ubudiyyah, dan siapa yang tidak bakhl ruhnya, maka dialah pemilik ubudah.</p>
<blockquote><p>“Dengan demikian, engkau akan menjadi hamba dari siapa pun yang mengikatmu. Jika engkau terikat kepada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi hamba bagi dirimu sendiri. Jika engkau terikat pada kehidupan duniawi, maka engkau akan menjadi hamba bagi kehidupan duniawimu.”</p></blockquote>
<p>Berkenaan dengan ini Syaikh al-Daqqaq mengutip sabda Rasululah SAW, “Celakalah hamba dirham, celakalah hamba dinar, dan celakalah hamba yang berpakaian mewah’ (HR Bukhari).</p>
<p>Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Sahl ibn Ata’ al-Adami atau yang populer dengan sebutan Ibn Ata’ (w 309 H/922 M), murid Abu al-Qasim al-Junayd al Baghdadi (w 297 H/909 M) mengatakan, ada empat pilar ubudiyyah , yaitu kesetiaan pada sumpah yang diucapkan (memenuhi janji), menjaga batas-batas yang telah ditetapkan, merasa puas  (ridla) terhadap apa yang dimiliki, dan bersabar terhadap apa yang belum diperoleh.</p>
<p>Menurut sebagian sufi, puncak terakhir ubudiyyah adalah kebebasan. Maksudnya, bahwa pada hakikatnya seorang manusia itu tidak akan menjadi hamba yang baik sampai ia dapat memusatkan seluruh perhatiannya kepada Allah sehingga hati dan jiwanya terbebas dari segala sesuatu selain Allah.</p>
<p><em>Dikutip dari Ensiklopedi Tasawuf, Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Penerbit Angkasa Bandung (2008)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/ubudiyyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti birunya gunung</title>
		<link>http://mulyantono.com/opini/seperti-birunya-gunung.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/opini/seperti-birunya-gunung.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Seperti birunya gunung, cinta terasa lebih indah apabila dipandang dari jauh. Majalah Poultry Indonesia (PI) telah genap 30 tahun. Hampir sepuluh tahun saya bergabung di majalah ini, dan belum sebulan saya meninggalkan majalah ini, namun benar adanya, bahwa cinta itu terasa lebih indah manakala dipandang dari jauh, dari nun jauh di Singkawang – Kalimantan Barat.

Maka, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti birunya gunung, cinta terasa lebih indah apabila dipandang dari jauh. Majalah Poultry Indonesia (PI) telah genap 30 tahun. Hampir sepuluh tahun saya bergabung di majalah ini, dan belum sebulan saya meninggalkan majalah ini, namun benar adanya, bahwa cinta itu terasa lebih indah manakala dipandang dari jauh, dari nun jauh di Singkawang – Kalimantan Barat.</p>
<p><span id="more-24"></span></p>
<div id="attachment_25" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-25" title="bam-sinka" src="http://mulyantono.com/wp-content/uploads/2009/11/bam-sinka-300x224.jpg" alt="di depan pabrik pupuk organik - singkawang" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">di depan pabrik pupuk organik - singkawang</p></div>
<p>Maka, apabila  dalam tulisan ini yang tampak adalah keindahan-keindahan itu, maka ini adalah cinta yang nyata, bukan pujian kosong untuk sekedar penghiburan &#8211;  apalagi rayuan gombal belaka.</p>
<p>Poultry  Indonesia telah menjadi bacaan pelaku agribisnis perunggasan di Indonesia – rincinya pelaku usaha ayam ras, ayam bukan ras, itik, puyuh – lebih khusus lagi adalah pembudidaya, atau urusan produksi kalau di perusahaan peternakan.</p>
<p>Melalui survey kecil-kecilan yang pernah dilakukan majalah ini,  sebenarnya jelas siapa pembaca Poultry Indonesia. Menurut survey tersebut peminat Poultry Indonesia adalah para penanggung jawab produksi, manager farm dengan latar pendidikan dokter hewan atau sarjana peternakan, kemudian peternak muda atau generasi kedua ‘tertentu’ sebagai penerus usaha peternakan (keluarga) yang sudah berkembang besar.</p>
<p>Generasi kedua ‘tertentu’ diberi tanda kutip, karena tidak semua anak-anak peternak yang pada umumnya lulusan sekolah luar negeri berminat meneruskan usaha orang tunya.</p>
<p>Kenyataan di lapangan – katakanlah di Kalimantan Barat, menguatkan hasil survey tersebut. Ketika kumpul-kumpul dengan komunitas pelaku agribisnis perunggasan Kalbar, yang lebih gayeng merespon seputar isi majalah ini adalah dokter hewan dan sarjana peternakan yang bertanggung jawab pada produksi.</p>
<p>Isi majalah yang paling diminati dan menjadi bahan pembahasan adalah seputar tatalaksana atau kesehatan hewan. Mau tidak mau PI mesti memperbanyak porsi ini, meskipun sudah ada majalah peternakan yang lebih menfokuskan tema-tema  veteriner.</p>
<p>Restoran cepat saji McD semula maunya spesialis burger tapi pada akhirnya dia menyediakan menu fried chicken karena permintaan ayam goreng di restoran ini terbilang  tinggi. Ingat, masyarakat Indonesia kenal restoran cepat saji dengan restoran yang menyediakan menu utama ayam goreng tepung.</p>
<p>Kemudian hal kedua yang harus diperhatikan, meskipun istilah perunggasan identik dengan ayam ras, tapi sebagai media perunggasan PI harus membagi edisi atau halamannya secara ‘adil’ untuk ternak unggas lainnya; ayam kampung, itik, puyuh, atau yang umum disebut unggas lokal.</p>
<p>Profil peternak ayam kampung, peternak itik, atau peternak puyuh, bisa ditampilkan secara bergantian dengan peternak ayam ras – pedaging atau petelur – dalam Rubrik Profil. Sedangkan perkembangan peternakan unggas lokal di daerah juga bisa diselipkan di dalam Rubrik Daerah.</p>
<p>Jadi informasi kepada Koresponden PI di daerah, apabila meliput perunggasan daerah, hukumnya ‘wajib’ menyertakan perkembangan seputar unggas non ras. Kecenderungan berkembang pesat atau menyusut, tetaplah berita.</p>
<p>Tentang penyebaran Majalah PI ada di mana-mana sampai ke seluruh pelosok Indonesia, pembaca di daerah percaya itu. Karena mereka bukan keliling Indonesia dan menjumpai PI di mana-mana, melainkan pada periode tertentu, yakni tahun 2002 – 2004, PI mengangkat tema-tema perkembangan peternakan unggas pada suatu wilayah atau daerah.</p>
<p>Dalam 2002 Laporan Utamanya terbitan per bulan adalah perkembangan unggas di setiap propinsi di Sumatera. Pada 2003 propinsi di Kalimantan, Sulawesi ditambah Bali dan NTB. Kemudian 2004 seluruh P. Jawa yang dibagi per eks-karesidenan, ada pas 11 dan Edisi Desember 2004 rangkuman Perunggasan Nusantara.</p>
<p>Rupanya kegiatan liputan daerah ini mengesankan bagi para pembaca. Dengan reporter ke mana-mana, berarti PI ada di mana-mana. Memang mahal gaya liputan semacam ini. Tapi dengan kerjasama yang dilakukan PI dengan perusahaan-perusahaan perternakan waktu itu, ternyata program ‘mewah’ semacam itu bisa berjalan.</p>
<p>Pada tahun 2010 – 2011 – 2012 apabila program pengulangan keliiling Indonesia dilakukan, maka ini momentum yang pas, sudah berselang 8 tahun. Bukankah di setiap event, bila ketemu dengan pelaku agribisnis daerah, mereka menanyakan kapan lagi PI datang ke daerah kami?</p>
<p>Berbicara tentang usaha penerbitan, usia 30 tahun mestinya Majalah PI tidak hanya ‘produk tunggal’. Tapi sudah harus menelurkan ‘produk terbitan baru’, barangkali penerbitan berbasis daerah (propinsi atau sentra peternakan unggas).</p>
<p>Saya sangat kesengsem dengan pendekatan daerah, karena peternakan unggas di setiap daerah – mempunyai karakteristik masing-masing, mempunyai tantangan dan peluang yang berbeda – segaris lurus dengan  keragaman budaya bangsa kita.</p>
<p>Meminjam motto Wonokoyo Jayacorporindo yang bagus itu; ‘Dengan Ayam Membangun Bangsa’, Majalah PI mestinya tak henti-hentinya menyuarakan peternakan unggas daerah-daerah tanpa kenal lelah. Dengan penuh semangat dan optimisme PI layak mengumandangkan motto : ‘Dengan Majalah Ayam Kita Mencintai Indonesia’.</p>
<p>Sir Winston Churchill &#8212; dan banyak dikutip para motivator—mengatakan : Seorang yang optimis memandang adanya peluang dalam setiap bencana. Seorang yang pesimis melihat adanya bencana dalam setiap peluang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/opini/seperti-birunya-gunung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jember, Januari 1968</title>
		<link>http://mulyantono.com/perjalanan/jember-januari-1968.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/perjalanan/jember-januari-1968.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 07:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Bamton adalah kependekan dari Bambang Mulyantono. nama yang diberikan oleh orang tuanya, walaupun begitu di tengah-tengah keluarga besarnya ia akrab dipanggil ‘Yanto’. Teman-temannya di sekolah, kuliah, maupun lingkungan kerja, ada yang menyapanya ‘Bambang’, ‘Tono’, bahkan ‘Boim’. Kemudian di lingkungan surau, ia lebih akrab dipanggil ‘Bam’ dengan sedikit imbuhan ‘s’ di belakangnya, meskipun kerap ditulis ‘Bamb’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bamton adalah kependekan dari Bambang Mulyantono. nama yang diberikan oleh orang tuanya, walaupun begitu di tengah-tengah keluarga besarnya ia akrab dipanggil ‘Yanto’. Teman-temannya di sekolah, kuliah, maupun lingkungan kerja, ada yang menyapanya ‘Bambang’, ‘Tono’, bahkan ‘Boim’. Kemudian di lingkungan surau, ia lebih akrab dipanggil ‘Bam’ dengan sedikit imbuhan ‘s’ di belakangnya, meskipun kerap ditulis ‘Bamb’ saja.</p>
<p><span id="more-22"></span>Bamton lahir di Jember pada Senin legi, dari rahim seorang ibu bernama Suprapti, asal Malang, dan berprofesi sebagai seorang ibu rumah tangga. Bapaknya seorang guru SMP bernama Saekan Adi Partono, lahir 1934 di Desa Semboro – Tanggul, Jember. Setelah menyelesaikan Sekolah Guru Bagian B (SGB) dan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) &#8212; kedua sekolahan itu berada di Malang, Partono diangkat sebagai pegawai negeri sipil yang bertugas mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP).</p>
<p>Penugasan pertamanya di SMP Glenmore – Genteng, Banyuwangi, kemudian pindah diperbantukan pada sebuah Yayasan Katolik sebagai tenaga pengajar Bahasa Jawa di SMP Katolik St.  Joseph di Kota Jember. Setelah 16 tahun mengajar ‘Bahasa Wajib’ di SMP Katolik yang murid-muridnya kebanyakan peranakan Tionghua itu, Partono minta pindah ke SMP Negeri Semboro – Tanggul, Jember, desa kelahirannya. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri Tapen – Bondowoso, lima tahun berjalan dipindah lagi sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri Umbulsari – Kencong, Jember, tetangga desa Semboro. Setelah itu pensiun.</p>
<p>Pertemuan pertama Partono dengan Suprapti terjadi di Malang, ketika ia menekuni pendidkan guru di Kota Apel ini. Konon, setelah beberapa lama tinggal di asrama, Partono sempat ‘indekos’ kepada seorang ibu yang membuka usaha warung makanan, dan wanita tersebut adalah ibu tiri dari Suprapti. Maka, terajutlah jalinan cinta di antara Partono dan Suprapti dan berlangsunglah perjodohan itu.</p>
<p>Anak pertama pasangan Partono + Suprapti bernama Endang Mardiyati lahir di Malang, kemudian yang kedua Bambang Wahyuono juga lahir di Malang. Yang ketiga Bambang Priantono meninggal dalam usia balita dimakamkan di Malang. Anak keempat Bambang Mulyantono, lahir di Jember saat Partono bertugas mengajar di SMP Katolik St. Joseph di Kota Jember.</p>
<p>Rumah tangga yang dibangun Partono dan Suprapti tampaknya berjalan tidak begitu mulus, ketika lahir anak ketiga, sempat terjadi ‘pisah ranjang’, Suprapti pulang ke Malang dengan membawa ketiga anaknya, bahkan si anak ketiga masih bayi. Beberapa waktu kemudian si anak menderita sakit panas dan meninggal dunia dalam usia balita.</p>
<p>Kemudian, entah – mungkin disertai perasaan sesal yang mendalam – pasangan ini ‘rujuk’ kembali, Endang dan Bambang ikut Kakek – Neneknya di Semboro.  Sedangkan Partono dan Suprapti menempati jatah ruangan satu petak di bagian belakang sekolah sebagai ‘rumah dinas’. Maka lahirlah anak ke-4, yaitu Bamton alias Yanto di Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) Jember, 29 Januari 1968.</p>
<p>Kelahiran anak keempat tampaknya tidak berhasil merekatkan kembali jalinan cinta pada keluarga ini. Menurut kisah dari sejumlah anggota keluarga, Suprapti yang berlatar belakang kehidupan kota, biasa hidup ‘termanjakan keadaan’. Misalnya, bila dimarahi ibu kandungnya larilah ia ke ibu tiri, dan untuk mengambil hati anak-anaknya, sang ibu tiri memanjakannya.</p>
<p>Lain lagi pengakuan Partono kepada Yanto – yang ketika itu Yanto sudah duduk di bangku SMA dan ia beranikan diri menanyakan  sebab musabab perceraian kedua orang tuanya itu. Kata Bapaknya, setiap kali usai melahirkan, Suprapti selalu uring-uringan, mungkin merasakan sakit yang luar biasa, kerap emosi yang tak terkendali, dan yang sangat membahayakan adalah pelampiasannya itu, bisa marah-marah yang tidak berujung-pangkal, dan apa saja bisa dilemparkan.</p>
<p>Sedangkan Partono adalah anak desa, anak pertama dari sebelas bersaudara, dia juga ‘dimanja’ oleh ibu-nya yang menganut nilai-nilai Jawa &#8212; sangat menghormati laki-laki. Anak laki-laki tidak pernah disuruh melakukan pekerjaan yang menjadi urusan wanita. Misalnya, kalau ada anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, menyetrika, membantu mencuci piring sendiri, dan lain-lain, sang ibu merasa sedih, menangis dalam hati, dan kesannya ‘tidak pantas dikerjakan anak laki-laki’</p>
<p>Rupanya pasangan Partono – Suprapti masing-masing dibesarkan dalam ‘kemanjaan’ yang berbeda. Namun, kehidupan ekonomi keluarga Partono yang pas-pasan, mestinya tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk sama-sama membongkar ‘egoisme’ masing-masing dari perangkap kemanjaan itu. Tapi apa mau dikata, egoisme telah memenangkan segalanya. Perceraian menjadi jalan keluar. Pada sebuah puncak pertengkaran, Suprapti hengkang dari rumah dengan menggendong Yanto yang masih bayi merah.</p>
<p>Sepulang mengajar, Partono tercenung lunglai melihat rumah yang kosong, Istrinya dengan membawa serta Yanto pergi meninggalkannya. Ia tidak menyangka, pertengkaran semalam menyebabkan kenekatan istrinya seperti ini.  Pasti mampir dulu ke Semboro, mengajak Endang dan Bambang untuk diajak ke Malang lagi. Mumpung masih ada waktu, Partono pamit ke Kepala Sekolah yang tinggal di bagian depan komplek sekolahan, untuk segera menyusul istri dan anaknya yang kemungkinan besar mampir ke Semboro menjemput Endang dan Bambang yang dititipkan pada Kakek &#8211; Neneknya.</p>
<p>Benar, di rumah Semboro, Suprapti dengan penuh emosional mengajak Endang dan Bambang sembari menggendong si kecil Yanto untuk segera bergegas berangkat ke Malang, Mbah Putri mencoba menenangkan menantunya untuk bersabar dan mengurungkan niatnya pulang ke Malang. “Sudahlah <em>nDuk,</em> yang  sabar, ingat anakmu masih kecil, apalagi Yanto masih bayi. Tidak usah pergi. Aku memohon maaf untuk kesalahan yang diperbuat oleh Partono. Langgengkan rumah tangga kalian hingga <em>kaken-kaken lan ninen-ninen, Yo nDuk?”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em></em>Tapi api amarah itu telah menjelma menjadi kobaran besar, siraman sepercik air tak mampu memadamkannya. Sambil menggendong Yanto dan menggandeng tangan Bambang, Suprapti menghentikan dokar yang sedang lewat di jalan samping rumah. Endang yang saat itu kelas 6 SD Semboro sebenarnya enggan ikut ke Malang, tapi untuk menemani ibunya dan gantian menggendong adiknya selama dalam perjalanan, ia didesak untuk ikut serta.</p>
<p>Bambang yang saat itu kelas 4 SD tampak bimbang dan menaruh iba pada ibu dan adiknya yang masih bayi. Dalam diamnya ia bertanya-tanya; mengapa peristiwa pahit yang pernah terjadi dulu itu mesti terulang kembali? Masih segar diingatannya beberapa tahun silam, lengannya yang kecil itu digandeng oleh ibunya diajak pergi ke Malang, dalam suasana yang jauh dari keceriaan. Dalam gendongan ibunya, adiknya Bambang Priantono atau yang biasa dipanggil Nanang, kerap rewel di sepanjang perjalanan. Setiba di Malang pun ibunya kebingungan mau tinggal di rumah siapa, terkadang tinggal di Kepanjen – rumah Mbah Putri (ibu dari ibunya yang sudah menjanda), sebentar kemudian pindah ke Malang (kota), rumah Bulik (adik ibunya yang juga punya 4 orang anak masih kecil-kecil), atau di Japanan – rumah Budhe (kakak ibunya yang juga punya anak 4 orang yang paling besar sepantaran dengan Endang dan Bambang). Karena masing-masing keluarga yang ditumpangi sama-sama sibuk mengurus anak masing-masing, maka anak-anak Suprapti (Endang dan Bambang) harus mengurus diri sendiri, sampai pada akhirnya si Nanang sakit panas dan meninggal dunia.</p>
<p>Sekarang, lengan Bambang yang masih kecil itu pun kembali dalam genggaman tangan ibunya, ia kembali diajak ke Malang dengan suasana yang tidak menyenangkan,  pasti Ibunya habis bertengkar lagi dengan Bapak. Dan yang paling menyedihkan, dalam gendongan ibu sekarang adalah Yanto, adiknya yang masih berumur beberapa minggu. Dalam hatinya Bambang ingin berteriak, tidak!  Dia tidak ingin nasib yang dialami Nanang terulang lagi kepada Yanto. Dia ingin mengatakan itu kepada ibunya, tapi dadanya terasa sangat sesak, udara dari paru-parunya malah mendesak ke atas menyumbat jalan nafas, kemudian merembes menembus saraf-saraf mata, sehingga tanpa disadari mengucur deras air matanya.  Mengapa Bapak tidak mencegah ibu pergi, dan mengapa Bapak kini tidak kunjung menyusul kami?</p>
<p>Perjalanan Partono dari Jember ke Tanggul yang berjarak 30 km dengan angkutan umum yang terbilang jarang, kalaupun ada berberapa belas kali harus berhenti menunggu penumpang. Kemudian disambung naik dokar Tanggul &#8211; Semboro yang berjarak 10 km, telah memberi ruang cukup lebar bagi Partono untuk tidak berpapasan apalagi bertemu dengan istri dan anak-anaknya.</p>
<p>Menjelang petang, ia memasuki rumah orang tuanya di Semboro, dengan penerangan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah, ibunya memandang wajah anak laki-laki pertamanya yang duduk lunglai di kursi. Sementara<em> Pak&#8217;e Saekan </em>– demikian ia memanggil suaminya &#8212; dengan wajah dingin duduk di ujung <em>amben </em>sambil menghisap rokok dalam-dalam.</p>
<blockquote><p><em>“Bojomu wis tak penging, nanging ora gelem. Endang lan Bambang malah dijak pisan.”</em> ujar ibunya.</p></blockquote>
<p>Dengan penuh sesal Partono menceritakan pertengkaran-pertengkaran yang memicu kejadian siang itu kepada kedua orang tuanya. Rasa-rasanya sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Yang menjadi pemikirannya sekarang adalah anak-anaknya, terutama Yanto yang masih bayi itu.  Maka, dengan terbata-bata, Partono memohon kepada ibunya untuk bersedia menyusul ke Malang, mengambil kembali anak-anak dari ibunya.</p>
<blockquote><p>“Bu’, saya minta tolong, kiranya Ibu berkenan menyusul dan mengambil kembali anak-anak ke sini. Endang dan Bambang biar sekolah di sini saja. Yanto&#8230;.., Yanto lah yang harus segera diambil.  Tapi pasti ibunya tidak membolehkan – maka kalau perlu ‘dicuri’ saja, Bu’.   Jangan sampai nasib Nanang terulang lagi pada Yanto.” pinta Partono.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Mestinya kamu sendiri yang menyusul anak-anakmu.” Komentar Bapaknya pendek.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Kalau aku yang datang, pasti terjadi pertengkaran, Pak.  Endang dan Bambang karena sudah sekolah di sini mungkin diijinkan ikut aku. Tapi Yanto, pasti tidak boleh lepas dari ibunya. Padahal dia perlu perawatan dan asuhan yang benar, tidak diajak pindah-pindah dari rumah keluarga yang satu ke keluarga yang lain, yang jaraknya cukup jauh. Yanto, Pak yang paling saya mengkhawatirkan. Makanya dia harus segera diambil! “ ungkap Partono gelisah</p></blockquote>
<blockquote><p>“Apa kamu sudah tak ingin rujuk kembali dengan istrimu?” Tanya ibunya.</p></blockquote>
<blockquote><p>“<em>Wis, gak</em>, aku putuskan tidak meneruskan lagi berkeluarga dengannya.” Jawab Partono tegas.</p></blockquote>
<p>Senyap terasa merambah di ruang <em>mbale</em> rumah,  asap putih mengepul dari sudut kandang sapi di seberang jalan depan rumah, dari rumput-rumput kering yang disapu, dikumpulkan dan dibakar oleh Pak Di – orang dari entah berantah yang hidup <em>magersari</em> di pekarangan<em> Si Mbah</em>.  Gerimis kecil menambah dingin petang itu.</p>
<p><strong><em>(Tulisan ini saya dedikasikan kepada Mas Bambang Wahyuono yang sudah hampir sepuluh tahun menghilang : &#8220;Mengapa masih saja kau ulang,  dan terus kau pelihara masa lalumu yang kelam itu?  Tidakkah kau punya keberanian mencampakkannya, dan membuka lembaran baru?  Tidak ada kata terlambat untuk kehidupan baru yang lebih baik) </em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/perjalanan/jember-januari-1968.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>La-Tahzan</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/la-tahzan.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/la-tahzan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 15:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kesedihan]]></category>
		<category><![CDATA[self help]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/artikel/la-tahzan.html</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu banyak alasan untuk bersedih. Mulai dari persoalan yang dipandang sebagai sesuatu yang kecil sampai pada yang dianggap persoalan besar. Tapi besar atau kecil persoalan, kalau mau sedih, ya sedih saja. Air mata yang menetes adalah air mata yang sama.
Maka sangatlah laris buku-buku self-help untuk mengusir dan menghibur kesedihan. Simaklah buku-buku seperti The Magic of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 324px"><img class=" " style="border: 0pt none; margin: 5px;" title="bunga" src="/images/bunga.jpg" alt="bunga" width="314" height="234" /><p class="wp-caption-text">bunga</p></div>
<p>Terlalu banyak alasan untuk bersedih. Mulai dari persoalan yang dipandang sebagai sesuatu yang kecil sampai pada yang dianggap persoalan besar. Tapi besar atau kecil persoalan, kalau mau sedih, ya sedih saja. Air mata yang menetes adalah air mata yang sama.<br />
Maka sangatlah laris buku-buku self-help untuk mengusir dan menghibur kesedihan. Simaklah buku-buku seperti The Magic of Thinking Big karya David J. Schwart, How to Stop Worrying and Start Living karya Dorothy Sarnoff atau The Seven Habits of Highly Effective People tulisan Steven R. Covey, dan karya penulis Timur Tengah, Dr. ‘Aidh al-Qarni berjudul La Tahzan – Jangan Bersedih!<br />
Menurut Dr. ‘Aidh al-Qarni, orang cerdik akan selalu berusaha mengubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda. Ketika tertimpa suatu musibah, kita harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi segelas air lemon, perlu ditambahkan sesendok gula ke dalamnya agar terasa lebih nikmat. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kalajengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh apabila terkena racun atau bisa ular. Kendalikan diri dalam berbagai kesulitan yang menghadang. Belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta ada pahala di dalamnya. La Tahzan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/la-tahzan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Masyarakat Madani</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/inspirasi-masyarakat-madani.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/inspirasi-masyarakat-madani.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 10:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[madani]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Hijrah menandai awal era Muslim, karena pada titik inilah Nabi Muhammad SAW mampu menerapkan gagasan Qur’ani  secara maksimal dan bahwa Islam menjadi sebuah faktor dalam  sejarah. Ini adalah sebuah langkah revolusioner.
Hijrah bukanlah sekadar perubahan alamat. Di Arab sebelum Islam , suku adalah nilai suci. Meninggalkan kelompok darah sendiri dan bergabung dengan suatu kelompok darah orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 368px"><img class=" " style="border: 0pt none; margin-left: 5px; margin-right: 5px;" src="/images/bam_uconk.jpg" alt="madani senggigi" width="358" height="240" /><p class="wp-caption-text">madani senggigi</p></div>
<p>Hijrah menandai awal era Muslim, karena pada titik inilah Nabi Muhammad SAW mampu menerapkan gagasan Qur’ani  secara maksimal dan bahwa Islam menjadi sebuah faktor dalam  sejarah. Ini adalah sebuah langkah revolusioner.</p>
<p>Hijrah bukanlah sekadar perubahan alamat. Di Arab sebelum Islam , suku adalah nilai suci. Meninggalkan kelompok darah sendiri dan bergabung dengan suatu kelompok darah orang lain adalah suatu hal yang belum pernah terdengar.  Hal ini pada prinsipnya menghina nenek-moyang sendiri dan kaum Quraisy tidak bisa memaafkan kesalahan ini.  Mereka bersumpah untuk memusnahkan ummah di Yatsrib <span id="more-18"></span><br />
Nabi Muhammad SAW telah menjadi kepala sebuah kumpulan dari kelompok-kelompok kesukuan yang tidak terikat bersama karena darah, tetapi karena suatu ideologi bersama, sebuah inovasi yang mengagumkan di masyrakat Arab. Tidak ada seorang pun yang terpaksa berubah menjadi beragama Qur’an, tetapi kaum Muslim, pemuja berhala, Yahudi dan Nasrani, semuanya menjadi satu ummah, tidak bisa saling menyerang, dan berjanji untuk saling melindungi.</p>
<p>Karen Armstrong dalam Islam; Sejarah Singkat menulis, Yatsrib menjadi dikenal sebagai Madinah (Kota), karena menjadi pola masyarakat Muslim yang sempurna. Pada saat Nabi Muhammad SAW sampai Madinah, salah satu tindakannya  adalah membangun sebuah masjid (masjid; secara harfiah adalah ‘tempat untuk sujud’).  Masjid selesai dibangun dalam bentuk yang amat sederhana. Lantainya terbuat dari kerikil dan pasir, atapnya terbuat dari pelepah dan daun kurma dan tiang-tiangnya terbuat dari batang kurma. Bila hujan turun mungkin tanahnya akan becek dan mengundang jenis binatang tertentu untuk mondar-mandir di tempat itu.</p>
<p>Bangunan masjid yang amat sederhana itulah yang mengasuh manusia-manusia beriman teguh yang akan memberi ‘pelajaran’ kepada penguasa dunia lalim. Mereka itulah yang akan menjadi ‘raja-raja’ di akhirat. Di dalam masjid itulah Allah SWT memperkenankan Nabi dan Rasul-Nya memimpin manusia-manusia  beriman yang terbaik berdasarkan Al-Qur’an dan di dalam masjid itu jugalah beliau siang- malam  mendidik mereka supaya menghayati kehidupan sebagaimana dikehendaki Allah SWT.</p>
<p>Sejak Rasulullah SAW tinggal menetap di Madinah, beliau sibuk mencurahkan perhatian untuk meletakkan dasar-dasar yang sangat diperlukan guna menegakkan tugas-tugas risalahnya, yaitu : (1) Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Tuhannya. (2) Memperkokoh hubungan antar umat Islam. (3) Mengatur hubungan antara umat Islam dengan orang-orang non-muslim.</p>
<p>Mengenai hubungan antara sesama kaum muslimin, oleh Rasulullah telah dibina atas dasar rasa persaudaraan yang sempurna. Yakni persaudaraan yang menghapuskan kata ‘aku’, hingga setiap orang bergerak dengan semangat dan jiwa kemasyarakatan tanpa memandang dirinya secara terpisah dari masyarakat. Dengan persaudaraan seperti itu berarti lenyaplah fanatisme kesukuan ala jahiliyah dan tak ada semangat pengabdian selain kepada agama Islam. Runtuhlah sudah semua bentuk diskriminasi keturunan, warna kulit dan asal-usul kedaerahan atau kebangsaan. Mundur dan majunya seorang tergantung pada kepribadian dan ketakwaannya kepada Allah SWT.</p>
<p>Perasaan mengutamakan kepentingan bersama dalam suka maupun duka amat menyatu dengan semangat persaudaraan, sehingga masyarakat yang baru terbentuk itu dipenuhi dengan teladan mulia. Kaum Anshar sangat hormat kepada saudara-saudaranya, kaum Muhajirin. Setiap muslim yang datang ke rumah keluarga kaum Anshar, pasti diterima dengan baik. Kaum Muhajirin sangat menghargai keikhlasan budi kaum Anshar, namun mereka hanya mau menerima bantuan dari kaum Anshar sesuai dengan jerih-payah yang mereka curahkan di dalam suatu pekerjaan.</p>
<p>Rasululah SAW  menjadikan tali persaudaraan sebagai ikatan perjanjian yang nyata, bukan hanya sekadar ucapan yang tak berarti. Pada masa itu Rasululah ibarat abang tertua bagi jamaah kaum yang beriman. Beliau tidak mengistimewakan diri dengan gelar kebesaran. Sebuah Hadist meriwayatkan bahwa beliau pernah menegaskan :</p>
<blockquote><p>“Sekiranya aku mengangkat seorang saudara dari umatku, tentu aku telah mengangkatnya – yakni Abu Bakar – tetapi persaudaraan Islam adalah lebih afdhal.”</p></blockquote>
<p>Muhammad al-Ghazali dalam bukunya Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad menulis, persaudaraan sejati tidak mungkin tumbuh di dalam suatu lingkungan yang bermutu rendah. Dalam lingkungan masyarakat yang masih dikuasai oleh kebodohan, kemerosotan akhlak dan kekejaman, persaudaraan sejati dan rasa cinta kasih tak akan dapat tumbuh subur. Seandainya para sahabat Nabi SAW tidak berperangai luhur dan tidak dipersatukan oleh prinsip-prinsip agung, dunia tidak akan mencatat adanya persudaraan sejati yang semata-mata karena Allah.</p>
<p>Mengenai hubungan antara muslim dengan non-muslim, Rasululah SAW telah menetapkan aturan-aturan yang sangat toleran, yang belum dikenal di zaman yang penuh dengan fanatisme kesukuan dan kecongkakan ras. Siapapun yang beranggapan bahwa Islam adalah agama yang tidak bisa menerima prinsip hidup berdampingan dengan agama lain, dan bahwa kaum Muslim adalah orang-orang yang berambisi menguasai dunia, berarti dia telah salah memahami Islam atau termakan oleh omongan pihak lain.</p>
<p>Ketika Nabi SAW tiba di Madinah beliau menyaksikan orang-orang Yahudi telah lama bermukim di kota itu dan hidup bersama-sama kaum musyrikin. Beliau sama sekali tidak berencana untuk menyingkirkan mereka. Bahkan beliau dapat menerima keberadaan orang-orang Yahudi dan paganisme di kota itu. Beberapa waktu kemudian beliau menawarkan perjanjian perdamaian kepada dua golongan itu atas dasar kebebasan masing-masing pihak memeluk agamanya sendiri.</p>
<p>Dalam piagam tersebut  kebebasan beragama benar-benar dijamin sehingga di dalamnya tidak tersirat maksud untuk menyerang suatu kelompok atau menindas kaum lemah. Bahkan menunjukkan kewajiban semua pihak yang berjanji supaya menolong orang yang mendapat perlakuan zalim, menjaga dan memelihara hubungan baik dengan tetangga, melindungi dan memelihara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat.</p>
<p>Begitulah gambaran singkat masyarakat Madinah di zaman Rasululah SAW. Tentang masyarakat Madinah di zaman sekarang yang didambakan oleh pengamal Tarekat Naqsyabandiyah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, pernah diutarakan oleh Ketua Yayasan, bahwa masyarakat yang diinginkan adalah sebuah masyarakat yang tidak ada aibnya, baik-baik semua. Tapi manusia itu tidak mungkin tanpa aib, namun kita tidak membicarakan aib temannya, sehingga bila ada aib langsung ditutup dan diisolasi beramai-ramai, sebagaimana yang terjadi di Zaman Rasulullah.</p>
<blockquote><p>“Hasilnya kita jadi kuat secara ekonomi, karena ada sinergi dan kebersamaan. Kita jadi kuat secara politik. Kita jadi masyarakat yang bersyukur: selalu bersyukur dan gembira, senang karena punya Guru Pembimbing Rohani. Semangat bertahajud yang kuat, Semangat I’tikaf yang kuat, Semangat ubudiyah yang kuat. Saya kira tugas Guru-Guru terdahulu juga begitu, menjadi manusia Insan Kamil dan menjadikan kita seperti Masyarakat Madinah.” Demikian pesan Ketua Yayasan.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/inspirasi-masyarakat-madani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cahaya di atas Cahaya</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 17:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Al Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah ‘Cahaya’,  bahkan Al Quran dapat disebut ‘Kitab Cahaya’. Sebab, kandungannya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat Cahaya—yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Cahaya Ilahi—dapat ditafsirkan sebagai empat tingkat pencerahan sebagaimana terlukiskan dalam ayat berikut : 
Allah adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah ‘Cahaya’,  bahkan Al Quran dapat disebut ‘Kitab Cahaya’. Sebab, kandungannya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat Cahaya—yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Cahaya Ilahi—dapat ditafsirkan sebagai empat tingkat pencerahan sebagaimana terlukiskan dalam ayat berikut : <span id="more-14"></span></p>
<p><em>Allah adalah cahaya langit dan bumi. </em><em>Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat sebuah misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur dan maupun di barat, yang minyaknya saja nyaris menyala sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah menuntun kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah  mengetahui segala sesuatu </em>(Q.S. 24: 35).</p>
<p>Pertama, ada misykat yang dipancari cahaya, namun bukan cahaya itu sendiri. Lalu, ada kaca kristal, di atasnya lagi kemilau minyak; dan terakhir adalah cahaya itu sendiri. Pengungkapan simbol-simbol itu mengingatkan pada ayat lain yang dimulai dengan kalimat yang sama, <em>”Tuhan membuat berbagai perumpamaan bagi manusia,”</em> dengan tambahan penegasan, <em>”agar mereka mau berpikir”</em> ( Q.S. 26: 35).</p>
<p>Banyak penafsir Alquran, termasuk mufasir terdahulu, menuturkan bahwa misykat itu adalah dada orang beriman, dan kaca adalah hatinya. ’Abd Allah ibn ’Abbas meriwayatkan apa yang didengar oleh ayahnya dan Nabi sendiri, yang berkata, ”Hidayah Tuhan di dalam hati orang beriman adalah ibarat minyak murni yang berkilau sebelum disentuh api, dan ketika disentuh api kemilaunya bertambah-tambah. Begitulah hati orang beriman: ia bertindak dengan petunjuk hingga pengetahuan datang kepadanya.”</p>
<p>Dalam Ayat Cahaya, perbedaan tingkat tidak ditunjukkan secara langsung, melainkan secara simbolik. Namun, di ayat yang lain, terutama pada wahyu-wahyu pertama, ditunjukkan secara lebih eksplisit. Salah satunya menyatakan bahwa manusia dibagi dalam tiga kelompok: <em>gulongan kanan, golongan kiri, dan golongan terkemuka. Golongan</em> <em>kanan</em> akan selamat, sementara <em>golongan kiri</em> akan celaka. Sedangkan <em>golongan terkemuka</em> adalah pemangku tingkat iman tertinggi, yang disebut sebagai <em>hamba Tuhan (’ibad Allah), </em>disebut juga, <em>mereka berada di sisi Allah (al-muqarrabun) </em>dan julukan ini disandangkan pula bagi para malaikat tertinggi untuk dibedakan dari malaikat lainnya.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Tingkatan tertinggi juga dinyatakan Alquran secara langsung ketika berbicara tentang hati. Dikatakan, <em>”Bukanlah mata yang buta, namun yang buta adalah hati yang berada di dalam dada” </em>(Q.S. 22: 46). Nabi di sisi lain, sebagaimana para nabi sebelumnya, mengatakan bahwa hatinya terjaga, yang berarti matanya terbuka. Dan Alquran menunjukkan bahwa hal itu dapat terjadi juga pada orang lain, kendati dalam kadar tertentu, karena sesekali Alquran menyebut secara langsung  <em>”orang-orang yang memiliki hati”</em> (Q.S. 12: 111; 13: 19). Hadis riwayat Abu Bakr menyatakan bahwa Nabi bersabda, <em>”Allah mengangkat derajatmu bukan melalui banyaknya shalat dan berpuasa, namun berdasarkan dengan kebaikan hatimu.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Disarikan dari beberapa sumber</em></p>
<p><em>Bekasi, 09 Oktober 2009</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung, Juli 1992</title>
		<link>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 15:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[“Apakah di zaman sekarang ini ini masih ada orang-orang yang patut disebut sufi? Tarekat itu apa? Apa hubungan antara tarekat dengan tasawuf?” Serangkaian pertanyaan itu dilontarkan Nanang,  sembari mengemudikan kendaraan di sepanjang perjalanan Jakarta – Bandung. Duduk di sebelah kirinya, Bamton yang diminta menemaninya pergi ke Pengalengan &#8211; Bandung, untuk menemui seseorang terkait urusan perusahaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Apakah di zaman sekarang ini ini masih ada orang-orang yang patut disebut sufi? Tarekat itu apa? Apa hubungan antara tarekat dengan tasawuf?” Serangkaian pertanyaan itu dilontarkan Nanang,  sembari mengemudikan kendaraan di sepanjang perjalanan Jakarta – Bandung. Duduk di sebelah kirinya, Bamton yang diminta menemaninya pergi ke Pengalengan &#8211; Bandung, untuk menemui seseorang terkait urusan perusahaan tempat dia bekerja.<span id="more-12"></span></p>
<p>Pertanyaan itu muncul, karena Bamton menceritakan telah bertemu dengan Suharna, teman mereka di kampus, yang mengaku tetap melanjutkan aktivitas sebagai pengamal tarekat yang dia kenal sejak di Mataram dulu, yang di Jakarta ini pusat kegiatannya – katanya &#8212; ada di Cilandak Tengah. “Aku mau diajak ke sana.” ujar Bamton.</p>
<p>Bamton sendiri baru datang di Jakarta. Selepas kuliah, sejenak ia pulang kampung di Jember, kemudian mencari kerja di ibukota Negara; menumpang tinggal di rumah saudara di Tangerang, mencari teman-teman lama, lalu menyebar lamaran ke sejumlah perusahaan.  Suharna dan Nanang adalah teman seangkatan di Fakultas Peternakan Universitas Mataram yang sudah lebih dulu tinggal di Jakarta setelah lulus, keduanya sudah mendapat pekerjaan. Nanang di perusahaan penggemukan sapi sedangkan Suharna sebagai wartawan majalah peternakan. Bamton sudah tiga bulan di Jakarta dan baru belasan lamaran yang telah disebarkan, sehingga – menurut kelakar teman-temannya &#8212; belum layak berharap mendapat pekerjaan segera.</p>
<p>“Istilah tasawuf sendiri, menurut buku-buku yang saya baca,  asal katanya sangat beragam dan definisinya tidak ada yang lengkap alias sepotong-sepotong. Pengertian tasawuf lebih kurang meliputi hal-hal; membersihkan hati, mengendalikan hawa nafsu, berperangai baik, mendekatkan diri pada Tuhan, mensucikan diri, menjauhkan diri dari kemewahan.” ungkap Bamton.</p>
<p>Pengamal tasawuf disebut sufi, lanjut Bamton. Kalangan sufi meyakini, benih-benih tasawuf lahir dan diilhami oleh pribadi, perilaku, peristiwa, ibadah, dan kehidupan Rasulullah. Banyak yang bisa dicontohkan, misalnya; bersunyi-sunyi diri di Gua Hira’, berdzikir dan bertafakur, Isra’ Mi’raj, pribadi Rasulullah SAW yang sederhana (zuhud, tidak terpesona oleh kemewahan dunia), ibadah (shalat dan berdzikir), I’tikaf (terutama dalam Bulan Ramadhan).</p>
<p>Lebih kurang dua abad setelah Rasulullah wafat, kelompok pengamal tasawuf  disebut tarekat. Jadi ada pergeseran makna, dari tarekat yang bermakna jalan/cara/metode, menjadi nama bagi kelompok yang mengamalkan jalan/cara/metode tertentu. Pada masa itu memang banyak bermunculan tarekat dengan nama-nama yang baru, seperti Sirriyah, Ubudiyah, Shiddiqiyah, Taifuriyah, Khawajakaniah, Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Al-Ahrariyah, Naqsyabandiyah Al-Mujaddidiyah, Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah. Sama dengan bidang ilmu yang lain, seiring dengan itu (150 s/d 200 tahun setelah Rasulullah wafat) juga lahir mahzab-mahzab di bidang fiqih, seperti Hambali, Maliki, Syafi’I dan Ja’fari.</p>
<p>Tarekat sendiri menurut bahasa berasal dari kata Arab <em>thariqah</em> yang berarti jalan atau metode atau aliran <em>(madzhab)</em>. Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai <em>(wusul)</em> kepada-Nya. Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan-aturan tertentu sesuai dengan petunjuk guru atau <em>mursyid</em> tarekat masing-masing, agar berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Ahli tasawuf mengaitkan istilah tarekat dengan firman Allah SWT: <em>“Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (thariqah) yang benar niscaya akan kami turunkan (hikmah) seperti hujan yang deras dari langit.”</em> (QS Al-Jinn/72 : 16)</p>
<p>Tarekat terkait erat dengan tasawuf, karena tarekat merupakan organisasi persaudaraan dalam menjalankan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah SWT merupakan Zat yang suci, maka Zat yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali oleh sesuatu yang suci. Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan-tahapan spiritual (<em>maqamat</em>). Masing-masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda-beda, berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda-beda pula.</p>
<p>Menurut al-Ghazali langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati <em>(tazkiyah al-nafs)</em> adalah <em>takhalli</em> yaitu mengosongkan hati dari selain Allah, kemudian <em>tahalli</em> yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat-sifat terpuji, dan <em>tajalli</em> yakni memperoleh hakekat tentang ‘wujud’ Tuhan.</p>
<p>Tanpa terasa perjalanan sudah sampai Bandung. Pada sebuah sudut kota mereka berdua bertemu dengan seorang pria berperawakan tinggi, berkulit sawo matang, di keningnya ada tanda kehitaman lantaran kerap bersujud. Dengan seyum ramah pria yang mengenakan baju koko putih dan berpeci putih itu mengenalkan dirinya Heru.</p>
<p>Tanpa melepas senyumnya Heru yang ternyata <em>arek</em> Surabaya itu bergabung satu mobil dengan Nanang dan Bamton,  lalu mengajak pada suatu tempat terlebih dahulu sebelum ke Pengalengan. Tidak lama kemudian tibalah pada sebuah pondok pesantren. Bamton membaca papan nama yang terpampang di depannya dengan suara yang agak keras : ‘Pondok Pesantren Daarut Tauhiid’. Lalu ia bertanya, siapa Kyai pendiri pondok pesantren ini? Heru menyebut nama AaGym dengan kesan agak heran, sepertinya ia menyimpan tanya, <em>kok</em> masih ada juga yang belum tahu.</p>
<p>Pada akhirnya nama AaGym yang bernama lengkap K.H. Abdullah Gymnastiar sangat populer di Tanah Air. Tapi waktu itu memang belum sepopuler sekarang. Atau bisa jadi Bamton sendiri baru datang dari udik, sehingga masih relatif kuper (kurang pergaulan). Heru menyadari itu, dan segera mempersilahkan tamunya untuk mengikutinya. Rupanya, Heru  seorang karyawan perusahaan rabat/retail di Jakarta yang tersohor waktu itu. Perusahaan tempat Nanang bekerja adalah suplier-nya, khusus daging sapi. Hari Sabtu dan Minggu dimanfaatkan Heru untuk keluarganya yang tinggal di Bandung</p>
<p>Di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid tampaknya ia pun aktif membantu pengelolaan usaha supermarket yang keseharian dikelola olah para santri. Kata Heru ada sejumlah unit usaha di samping toserba itu, diantaranya bengkel, percetakan, penginapan, dan lain sebagainya. Tentang kegiatan beribadah, Heru bercerita : ”Kalau Minggu begini dimulai dengan shalat tahajud, berdzikir, shalat subuh, mendengarkan tausyiah dari AaGym. Jamaahnya datang sejak Sabtu malam, dan setelah mengikuti rangkaian itu mereka pulang ke pangkalan masing-masing. Atau ada yang masih mau menginap untuk berapa malam lagi.”</p>
<p>Di sepanjang perjalanan Bandung &#8211; Pengalengan lalu ke Bandung lagi, Bamton lebih banyak diam, sementara Nanang dan Heru banyak berbicara seputar bisnisnya. Melihat sosok Heru, seorang eksekutif pada sebuah perusahaan di Jakarta, profesional di bidang marketing, setiap Jum’at sore balik ke Bandung, Sabtu – Minggu ia dan keluarga mengikuti kegiatan di Pondok Pesantren. Tampaknya, ibadah bagi dia bukan sebagai kewajiban pribadi semata, melainkan sebagai sebuah rekreasi keluarga. <em>Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anti Stres</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 15:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[self help]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[
Manusia tidak sama dengan ayam. Tapi kehidupan manusia dan ayam tidak pernah bebas dari stres  Karena stres pada dasarnya hanyalah sejumlah perubahan yang diadaptasikan oleh tubuh untuk merespon berbagai perubahan lingkungan atau situasi tertentu. Peternak ayam, seusai melakukan vaksinasi, mengganti pakan, atau memindahkan ayam dari kandang postal ke kandang baterai &#8212; selalu memberi anti stres [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-17" title="stres" src="http://mulyantono.com/wp-content/uploads/2009/10/stres2-200x300.jpg" alt="stres" width="200" height="300" /></p>
<p>Manusia tidak sama dengan ayam. Tapi kehidupan manusia dan ayam tidak pernah bebas dari stres  Karena stres pada dasarnya hanyalah sejumlah perubahan yang diadaptasikan oleh tubuh untuk merespon berbagai perubahan lingkungan atau situasi tertentu. Peternak ayam, seusai melakukan vaksinasi, mengganti pakan, atau memindahkan ayam dari kandang postal ke kandang baterai &#8212; selalu memberi anti stres kepada ayam-ayamnya. Dengan vitamin dan elektrolit yang diberikan sebagai anti stres, diharapkan stamina tubuh ayam segera pulih setelah merespons berbagai tuntutan positif maupun negatif tadi.</p>
<p>Stres pada manusia sangat beragam penyebab dan wujudnya. Namun sebagai makhluk yang berakal, ada beragam pula cara untuk mengatasinya.  Sayang kita tidak bisa membimbing ayam untuk mengatasi stres dengan baik dan benar, maka yang bisa kita lakukan hanya memberi anti stres. Padahal, sebenarnya bukan ‘anti stres’ tapi hanya mengatasi akibat berikutnya dari stres, karena seperti disebutkan di atas, ayam dan manusia pada dasarnya tidak mampu menolak (=anti) stres.<span id="more-9"></span></p>
<p>Stres pada manusia, baik yang kadar penyebabnya besar maupun kecil, bisa datang kepada siapa saja. Belakangan ini koran-koran ibukota memuat kasus bunuh diri yang bertubi-tubi mulai dari anak sekolah dasar, ibu rumah tangga, kepala sebuah stasiun,  sampai seorang sarjana di lingkungan perguruan tinggi ternama. Itu semua juga karena stres!</p>
<p>Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dewasa ini 75% pasien datang ke dokter karena gejala-gejala yang menunjukkan stres, dan jenis stres kronis yang paling buruk adalah rasa tak berdaya (helplessness). Masih dari statistik, dewasa ini ada 144 juta resep baru dibuat setiap tahunnya untuk obat-obatan psikotropik termasuk anti depresi, obat-obatan penenang yang minor dan mayor.</p>
<p>Banyak cara yang selama ini ditempuh dan dianggap mampu mengatasi stres. Berjuta-juta orang Amerika dan Eropa mengandalkan diri pada konsumsi obat untuk meringankan ketegangan saraf, dan menghabiskan banyak obat untuk membangkitkan aktifitas mereka dalam suatu keadaan yang serba instan. Padahal berbagai hasil penelitian belum mengukuhkan berbagai klaim tentang kegunaan psikoterapi tadi.  Angka yang dimaksud sebagai data penyembuhan sekalipun tidak begitu mengesankan.</p>
<p>Seorang pembimbing meditasi mengatakan, mengatasi stres dengan berbagai konsumsi obat itu hanya perubahan sementara yang terkadang kelihatan, namun perubahan permanennya hanya ilusi saja. Akhirnya, disamping mengonsumsi obat,  beberapa orang pergi dari satu ahli terapi ke ahli terapi yang lain, dari workshop satu ke workshop yang lain, dari seminar ke seminar. Padahal ini mirip dengan makan camilan yang lezat. Perut untuk sementara kenyang, namun lapar akan segera terulang. “Harus disadari, berbagai model tingkah laku yang dipuji-puji – termasuk ambisi, dorongan kerja, orientasi tujuan yang berlebihan, kesuksesan finansial, dan tampil sibuk secara terus-menerus – justru telah mengakibatkan tingkat stres yang tinggi,” ujarnya.</p>
<p>Dalam masyarakat yang sangat cenderung stres, kita harus belajar mengembangkan alat-alat untuk menetralisir efek-efek negatif stres terhadap kesehatan tubuh ataupun jiwa. Ungkapan klasik <em>mensana in corpore sano </em>tak pernah ketinggalan zaman untuk terus dilaksanakan.</p>
<p>Tubuh manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling cantik dan menakjubkan. Ia mesti dipelihara dan dijaga. Namun tujuan hidup bukanlah sekadar merawat keelokan tubuh dan kecantikannya. Tubuh harus dirawat karena ia adalah cetakan bagi kehidupan dan jiwa ada di dalamnya, semacam kerang yang mengandung mutiara yang sedang tumbuh, tanpa kerang tak akan ada mutiara.</p>
<p>Herophilus, seorang dokter pribadi Aleksander Agung yang filmnya sudah beredar di bioskop-bioskop maupun dalam cakram padat, mengatakan : Ketika tak ada kesehatan, kearifan dengan sendirinya tak akan tercapai, seni tak akan muncul, kekuatan tak akan berdaya, kekayaan menjadi tak berguna, dan kecerdasan tak akan bisa diterapkan. Jadi, mari kita jaga kesehatan jiwa dan raga dengan cara-cara yang sehat pula.</p>
<p>Mengakhiri tulisan ini penulis ingin mengingatkan bahwa sebenarnya ada pula stres yang postif, misalnya rasa dag-dig-dug sebelum seseorang melangsungkan pernikahan, ujian kenaikan kelas, atau mendapat panggilan wawancara untuk sebuah pekerjaan yang diidamkan.  Nah, kalau stres jenis ini rasanya tidak perlu diatasi, tapi dinikmati ·</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/anti-stres.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disiplin Diri</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/disiplin-diri.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/disiplin-diri.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 15:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hari merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh luar biasa motifasi yang dihembuskan oleh duet Andrie Wongso dan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada seminar akbar bertajuk ‘Indonesia Luar Biasa’ pada Sabtu, 20 Agustus 2005 di Istora Senayan Jakarta. Acara yang dipandu oleh Kris Biantoro ini memang bukan seminar sakadar tentang Indonesia, tapi lebih dari itu, diharapkan dapat menyemangati bangsa dan rakyat Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh luar biasa motifasi yang dihembuskan oleh duet Andrie Wongso dan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada seminar akbar bertajuk ‘Indonesia Luar Biasa’ pada Sabtu, 20 Agustus 2005 di Istora Senayan Jakarta. Acara yang dipandu oleh Kris Biantoro ini memang bukan seminar sakadar tentang Indonesia, tapi lebih dari itu, diharapkan dapat menyemangati bangsa dan rakyat Indonesia untuk bangkit dari kepurukkan, berkaitan dengan Peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-60.<span id="more-8"></span></p>
<p>Kedua pembicara berbagai peran, Andrie Wongso lebih mangfokuskan memompa semangat mereka yang berada dikalangan miskin agar bangkit dan bersemangat mengubah nasip. Andrie mengatakan, sejak kecil ia dididik untuk tidak menjadi miskin oleh ibunya yang saat itu memang sudah melarat. “Ibu mengatakan (dalam bahasa Mandarin-pen) Nak, jamu itu pahit, namun orang miskin itu seperti minum jamu yang paling pahit, “ kata Andrie.</p>
<p>Sementara Aa Gym menggarap mereka yang berada di lapisan atas, juga agar berubah. Bahwa yang mempunyai harta bukan hanya ‘kewajiban’ tapi kebutuhan. Tapi bagi mereka yang erharta hurus diingat harta itu amanah &#8211; sekedah titipan yang bias diambil sewaktu-waktu – sehingga kuncinya adalah mengelola harta secara benar dan diridoi oleh Sang Pemilik. Satu lagi yang penting bagi yang sudah kaya, jangan bermental miskin.</p>
<p>“Tak perduli seperti apa kondisi anda sekarang, ubahlah sikap anda, karena dunia terus berubah. Bangsa Indonesia akan selalu tergelincir bila seluruh rakyatnya tidak mengubah sikap.” Demikianlah kedua pembicaraan member penekanan betapa perlunya mengubah sikap (menjadi lebih baik) pada semua lini.</p>
<p>Penulis yang menyimak acara ini rasanya ikut tersengat, ingin berubah. Tapi bagaimana harus memulainya, dari mana memulai perubahan diri sendiri yang berdampak pada lingkungan kerja maupun kehidupan bangsa. Dari mana dan bagaimana harus memulainya?</p>
<p>Ke toko buku ada CHANGE!, buku tulisan Rhenald Kasali, Ph .D. dengan sub judul yang berbunyi : <em>Tak peduli jalan yang anda jalani, putar arah sekarang juga.</em> Ah, betapa provokatifnya kalimat ini, dan senafas dengan apa yang disampaikan Aa Gym dan Andrie Wongso. Saya beli buku itu dan setiba di rumah saya simak habis.</p>
<p>Nah ini dia! Dalam buku itu dikatakan, hamper semua perubahan besar di dunia ini berhasil dijalankan oleh para pemimpin besar. Dan kalau kita buka lembar-lembar sejarah, para pelaku perubahan <em>(chang makers)</em> memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, yaitu <em>shelf diciplin</em> (disiplin diri). Mereka semua sepakat, sebelum memimpin orang lain mereka harus mampu mengendalikan diri terlebih dahulu. Itulah yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin agama, para jendrang pemimpein perang di Pasifik, dan tentu saja para usahawan dan eksekutif  terkemuka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/disiplin-diri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
