Seperti birunya gunung
November 23rd, 2009
Seperti birunya gunung, cinta terasa lebih indah apabila dipandang dari jauh. Majalah Poultry Indonesia (PI) telah genap 30 tahun. Hampir sepuluh tahun saya bergabung di majalah ini, dan belum sebulan saya meninggalkan majalah ini, namun benar adanya, bahwa cinta itu terasa lebih indah manakala dipandang dari jauh, dari nun jauh di Singkawang – Kalimantan Barat.

di depan pabrik pupuk organik - singkawang
Maka, apabila dalam tulisan ini yang tampak adalah keindahan-keindahan itu, maka ini adalah cinta yang nyata, bukan pujian kosong untuk sekedar penghiburan – apalagi rayuan gombal belaka.
Poultry Indonesia telah menjadi bacaan pelaku agribisnis perunggasan di Indonesia – rincinya pelaku usaha ayam ras, ayam bukan ras, itik, puyuh – lebih khusus lagi adalah pembudidaya, atau urusan produksi kalau di perusahaan peternakan.
Melalui survey kecil-kecilan yang pernah dilakukan majalah ini, sebenarnya jelas siapa pembaca Poultry Indonesia. Menurut survey tersebut peminat Poultry Indonesia adalah para penanggung jawab produksi, manager farm dengan latar pendidikan dokter hewan atau sarjana peternakan, kemudian peternak muda atau generasi kedua ‘tertentu’ sebagai penerus usaha peternakan (keluarga) yang sudah berkembang besar.
Generasi kedua ‘tertentu’ diberi tanda kutip, karena tidak semua anak-anak peternak yang pada umumnya lulusan sekolah luar negeri berminat meneruskan usaha orang tunya.
Kenyataan di lapangan – katakanlah di Kalimantan Barat, menguatkan hasil survey tersebut. Ketika kumpul-kumpul dengan komunitas pelaku agribisnis perunggasan Kalbar, yang lebih gayeng merespon seputar isi majalah ini adalah dokter hewan dan sarjana peternakan yang bertanggung jawab pada produksi.
Isi majalah yang paling diminati dan menjadi bahan pembahasan adalah seputar tatalaksana atau kesehatan hewan. Mau tidak mau PI mesti memperbanyak porsi ini, meskipun sudah ada majalah peternakan yang lebih menfokuskan tema-tema veteriner.
Restoran cepat saji McD semula maunya spesialis burger tapi pada akhirnya dia menyediakan menu fried chicken karena permintaan ayam goreng di restoran ini terbilang tinggi. Ingat, masyarakat Indonesia kenal restoran cepat saji dengan restoran yang menyediakan menu utama ayam goreng tepung.
Kemudian hal kedua yang harus diperhatikan, meskipun istilah perunggasan identik dengan ayam ras, tapi sebagai media perunggasan PI harus membagi edisi atau halamannya secara ‘adil’ untuk ternak unggas lainnya; ayam kampung, itik, puyuh, atau yang umum disebut unggas lokal.
Profil peternak ayam kampung, peternak itik, atau peternak puyuh, bisa ditampilkan secara bergantian dengan peternak ayam ras – pedaging atau petelur – dalam Rubrik Profil. Sedangkan perkembangan peternakan unggas lokal di daerah juga bisa diselipkan di dalam Rubrik Daerah.
Jadi informasi kepada Koresponden PI di daerah, apabila meliput perunggasan daerah, hukumnya ‘wajib’ menyertakan perkembangan seputar unggas non ras. Kecenderungan berkembang pesat atau menyusut, tetaplah berita.
Tentang penyebaran Majalah PI ada di mana-mana sampai ke seluruh pelosok Indonesia, pembaca di daerah percaya itu. Karena mereka bukan keliling Indonesia dan menjumpai PI di mana-mana, melainkan pada periode tertentu, yakni tahun 2002 – 2004, PI mengangkat tema-tema perkembangan peternakan unggas pada suatu wilayah atau daerah.
Dalam 2002 Laporan Utamanya terbitan per bulan adalah perkembangan unggas di setiap propinsi di Sumatera. Pada 2003 propinsi di Kalimantan, Sulawesi ditambah Bali dan NTB. Kemudian 2004 seluruh P. Jawa yang dibagi per eks-karesidenan, ada pas 11 dan Edisi Desember 2004 rangkuman Perunggasan Nusantara.
Rupanya kegiatan liputan daerah ini mengesankan bagi para pembaca. Dengan reporter ke mana-mana, berarti PI ada di mana-mana. Memang mahal gaya liputan semacam ini. Tapi dengan kerjasama yang dilakukan PI dengan perusahaan-perusahaan perternakan waktu itu, ternyata program ‘mewah’ semacam itu bisa berjalan.
Pada tahun 2010 – 2011 – 2012 apabila program pengulangan keliiling Indonesia dilakukan, maka ini momentum yang pas, sudah berselang 8 tahun. Bukankah di setiap event, bila ketemu dengan pelaku agribisnis daerah, mereka menanyakan kapan lagi PI datang ke daerah kami?
Berbicara tentang usaha penerbitan, usia 30 tahun mestinya Majalah PI tidak hanya ‘produk tunggal’. Tapi sudah harus menelurkan ‘produk terbitan baru’, barangkali penerbitan berbasis daerah (propinsi atau sentra peternakan unggas).
Saya sangat kesengsem dengan pendekatan daerah, karena peternakan unggas di setiap daerah – mempunyai karakteristik masing-masing, mempunyai tantangan dan peluang yang berbeda – segaris lurus dengan keragaman budaya bangsa kita.
Meminjam motto Wonokoyo Jayacorporindo yang bagus itu; ‘Dengan Ayam Membangun Bangsa’, Majalah PI mestinya tak henti-hentinya menyuarakan peternakan unggas daerah-daerah tanpa kenal lelah. Dengan penuh semangat dan optimisme PI layak mengumandangkan motto : ‘Dengan Majalah Ayam Kita Mencintai Indonesia’.
Sir Winston Churchill — dan banyak dikutip para motivator—mengatakan : Seorang yang optimis memandang adanya peluang dalam setiap bencana. Seorang yang pesimis melihat adanya bencana dalam setiap peluang.





