Jember, Januari 1968

November 6th, 2009

Bamton adalah kependekan dari Bambang Mulyantono. nama yang diberikan oleh orang tuanya, walaupun begitu di tengah-tengah keluarga besarnya ia akrab dipanggil ‘Yanto’. Teman-temannya di sekolah, kuliah, maupun lingkungan kerja, ada yang menyapanya ‘Bambang’, ‘Tono’, bahkan ‘Boim’. Kemudian di lingkungan surau, ia lebih akrab dipanggil ‘Bam’ dengan sedikit imbuhan ‘s’ di belakangnya, meskipun kerap ditulis ‘Bamb’ saja.

Bamton lahir di Jember pada Senin legi, dari rahim seorang ibu bernama Suprapti, asal Malang, dan berprofesi sebagai seorang ibu rumah tangga. Bapaknya seorang guru SMP bernama Saekan Adi Partono, lahir 1934 di Desa Semboro – Tanggul, Jember. Setelah menyelesaikan Sekolah Guru Bagian B (SGB) dan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) — kedua sekolahan itu berada di Malang, Partono diangkat sebagai pegawai negeri sipil yang bertugas mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Penugasan pertamanya di SMP Glenmore – Genteng, Banyuwangi, kemudian pindah diperbantukan pada sebuah Yayasan Katolik sebagai tenaga pengajar Bahasa Jawa di SMP Katolik St.  Joseph di Kota Jember. Setelah 16 tahun mengajar ‘Bahasa Wajib’ di SMP Katolik yang murid-muridnya kebanyakan peranakan Tionghua itu, Partono minta pindah ke SMP Negeri Semboro – Tanggul, Jember, desa kelahirannya. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri Tapen – Bondowoso, lima tahun berjalan dipindah lagi sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri Umbulsari – Kencong, Jember, tetangga desa Semboro. Setelah itu pensiun.

Pertemuan pertama Partono dengan Suprapti terjadi di Malang, ketika ia menekuni pendidkan guru di Kota Apel ini. Konon, setelah beberapa lama tinggal di asrama, Partono sempat ‘indekos’ kepada seorang ibu yang membuka usaha warung makanan, dan wanita tersebut adalah ibu tiri dari Suprapti. Maka, terajutlah jalinan cinta di antara Partono dan Suprapti dan berlangsunglah perjodohan itu.

Anak pertama pasangan Partono + Suprapti bernama Endang Mardiyati lahir di Malang, kemudian yang kedua Bambang Wahyuono juga lahir di Malang. Yang ketiga Bambang Priantono meninggal dalam usia balita dimakamkan di Malang. Anak keempat Bambang Mulyantono, lahir di Jember saat Partono bertugas mengajar di SMP Katolik St. Joseph di Kota Jember.

Rumah tangga yang dibangun Partono dan Suprapti tampaknya berjalan tidak begitu mulus, ketika lahir anak ketiga, sempat terjadi ‘pisah ranjang’, Suprapti pulang ke Malang dengan membawa ketiga anaknya, bahkan si anak ketiga masih bayi. Beberapa waktu kemudian si anak menderita sakit panas dan meninggal dunia dalam usia balita.

Kemudian, entah – mungkin disertai perasaan sesal yang mendalam – pasangan ini ‘rujuk’ kembali, Endang dan Bambang ikut Kakek – Neneknya di Semboro.  Sedangkan Partono dan Suprapti menempati jatah ruangan satu petak di bagian belakang sekolah sebagai ‘rumah dinas’. Maka lahirlah anak ke-4, yaitu Bamton alias Yanto di Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) Jember, 29 Januari 1968.

Kelahiran anak keempat tampaknya tidak berhasil merekatkan kembali jalinan cinta pada keluarga ini. Menurut kisah dari sejumlah anggota keluarga, Suprapti yang berlatar belakang kehidupan kota, biasa hidup ‘termanjakan keadaan’. Misalnya, bila dimarahi ibu kandungnya larilah ia ke ibu tiri, dan untuk mengambil hati anak-anaknya, sang ibu tiri memanjakannya.

Lain lagi pengakuan Partono kepada Yanto – yang ketika itu Yanto sudah duduk di bangku SMA dan ia beranikan diri menanyakan  sebab musabab perceraian kedua orang tuanya itu. Kata Bapaknya, setiap kali usai melahirkan, Suprapti selalu uring-uringan, mungkin merasakan sakit yang luar biasa, kerap emosi yang tak terkendali, dan yang sangat membahayakan adalah pelampiasannya itu, bisa marah-marah yang tidak berujung-pangkal, dan apa saja bisa dilemparkan.

Sedangkan Partono adalah anak desa, anak pertama dari sebelas bersaudara, dia juga ‘dimanja’ oleh ibu-nya yang menganut nilai-nilai Jawa — sangat menghormati laki-laki. Anak laki-laki tidak pernah disuruh melakukan pekerjaan yang menjadi urusan wanita. Misalnya, kalau ada anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, menyetrika, membantu mencuci piring sendiri, dan lain-lain, sang ibu merasa sedih, menangis dalam hati, dan kesannya ‘tidak pantas dikerjakan anak laki-laki’

Rupanya pasangan Partono – Suprapti masing-masing dibesarkan dalam ‘kemanjaan’ yang berbeda. Namun, kehidupan ekonomi keluarga Partono yang pas-pasan, mestinya tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk sama-sama membongkar ‘egoisme’ masing-masing dari perangkap kemanjaan itu. Tapi apa mau dikata, egoisme telah memenangkan segalanya. Perceraian menjadi jalan keluar. Pada sebuah puncak pertengkaran, Suprapti hengkang dari rumah dengan menggendong Yanto yang masih bayi merah.

Sepulang mengajar, Partono tercenung lunglai melihat rumah yang kosong, Istrinya dengan membawa serta Yanto pergi meninggalkannya. Ia tidak menyangka, pertengkaran semalam menyebabkan kenekatan istrinya seperti ini.  Pasti mampir dulu ke Semboro, mengajak Endang dan Bambang untuk diajak ke Malang lagi. Mumpung masih ada waktu, Partono pamit ke Kepala Sekolah yang tinggal di bagian depan komplek sekolahan, untuk segera menyusul istri dan anaknya yang kemungkinan besar mampir ke Semboro menjemput Endang dan Bambang yang dititipkan pada Kakek – Neneknya.

Benar, di rumah Semboro, Suprapti dengan penuh emosional mengajak Endang dan Bambang sembari menggendong si kecil Yanto untuk segera bergegas berangkat ke Malang, Mbah Putri mencoba menenangkan menantunya untuk bersabar dan mengurungkan niatnya pulang ke Malang. “Sudahlah nDuk, yang  sabar, ingat anakmu masih kecil, apalagi Yanto masih bayi. Tidak usah pergi. Aku memohon maaf untuk kesalahan yang diperbuat oleh Partono. Langgengkan rumah tangga kalian hingga kaken-kaken lan ninen-ninen, Yo nDuk?”

Tapi api amarah itu telah menjelma menjadi kobaran besar, siraman sepercik air tak mampu memadamkannya. Sambil menggendong Yanto dan menggandeng tangan Bambang, Suprapti menghentikan dokar yang sedang lewat di jalan samping rumah. Endang yang saat itu kelas 6 SD Semboro sebenarnya enggan ikut ke Malang, tapi untuk menemani ibunya dan gantian menggendong adiknya selama dalam perjalanan, ia didesak untuk ikut serta.

Bambang yang saat itu kelas 4 SD tampak bimbang dan menaruh iba pada ibu dan adiknya yang masih bayi. Dalam diamnya ia bertanya-tanya; mengapa peristiwa pahit yang pernah terjadi dulu itu mesti terulang kembali? Masih segar diingatannya beberapa tahun silam, lengannya yang kecil itu digandeng oleh ibunya diajak pergi ke Malang, dalam suasana yang jauh dari keceriaan. Dalam gendongan ibunya, adiknya Bambang Priantono atau yang biasa dipanggil Nanang, kerap rewel di sepanjang perjalanan. Setiba di Malang pun ibunya kebingungan mau tinggal di rumah siapa, terkadang tinggal di Kepanjen – rumah Mbah Putri (ibu dari ibunya yang sudah menjanda), sebentar kemudian pindah ke Malang (kota), rumah Bulik (adik ibunya yang juga punya 4 orang anak masih kecil-kecil), atau di Japanan – rumah Budhe (kakak ibunya yang juga punya anak 4 orang yang paling besar sepantaran dengan Endang dan Bambang). Karena masing-masing keluarga yang ditumpangi sama-sama sibuk mengurus anak masing-masing, maka anak-anak Suprapti (Endang dan Bambang) harus mengurus diri sendiri, sampai pada akhirnya si Nanang sakit panas dan meninggal dunia.

Sekarang, lengan Bambang yang masih kecil itu pun kembali dalam genggaman tangan ibunya, ia kembali diajak ke Malang dengan suasana yang tidak menyenangkan,  pasti Ibunya habis bertengkar lagi dengan Bapak. Dan yang paling menyedihkan, dalam gendongan ibu sekarang adalah Yanto, adiknya yang masih berumur beberapa minggu. Dalam hatinya Bambang ingin berteriak, tidak!  Dia tidak ingin nasib yang dialami Nanang terulang lagi kepada Yanto. Dia ingin mengatakan itu kepada ibunya, tapi dadanya terasa sangat sesak, udara dari paru-parunya malah mendesak ke atas menyumbat jalan nafas, kemudian merembes menembus saraf-saraf mata, sehingga tanpa disadari mengucur deras air matanya.  Mengapa Bapak tidak mencegah ibu pergi, dan mengapa Bapak kini tidak kunjung menyusul kami?

Perjalanan Partono dari Jember ke Tanggul yang berjarak 30 km dengan angkutan umum yang terbilang jarang, kalaupun ada berberapa belas kali harus berhenti menunggu penumpang. Kemudian disambung naik dokar Tanggul – Semboro yang berjarak 10 km, telah memberi ruang cukup lebar bagi Partono untuk tidak berpapasan apalagi bertemu dengan istri dan anak-anaknya.

Menjelang petang, ia memasuki rumah orang tuanya di Semboro, dengan penerangan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah, ibunya memandang wajah anak laki-laki pertamanya yang duduk lunglai di kursi. Sementara Pak’e Saekan – demikian ia memanggil suaminya — dengan wajah dingin duduk di ujung amben sambil menghisap rokok dalam-dalam.

“Bojomu wis tak penging, nanging ora gelem. Endang lan Bambang malah dijak pisan.” ujar ibunya.

Dengan penuh sesal Partono menceritakan pertengkaran-pertengkaran yang memicu kejadian siang itu kepada kedua orang tuanya. Rasa-rasanya sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Yang menjadi pemikirannya sekarang adalah anak-anaknya, terutama Yanto yang masih bayi itu.  Maka, dengan terbata-bata, Partono memohon kepada ibunya untuk bersedia menyusul ke Malang, mengambil kembali anak-anak dari ibunya.

“Bu’, saya minta tolong, kiranya Ibu berkenan menyusul dan mengambil kembali anak-anak ke sini. Endang dan Bambang biar sekolah di sini saja. Yanto….., Yanto lah yang harus segera diambil.  Tapi pasti ibunya tidak membolehkan – maka kalau perlu ‘dicuri’ saja, Bu’.   Jangan sampai nasib Nanang terulang lagi pada Yanto.” pinta Partono.

“Mestinya kamu sendiri yang menyusul anak-anakmu.” Komentar Bapaknya pendek.

“Kalau aku yang datang, pasti terjadi pertengkaran, Pak.  Endang dan Bambang karena sudah sekolah di sini mungkin diijinkan ikut aku. Tapi Yanto, pasti tidak boleh lepas dari ibunya. Padahal dia perlu perawatan dan asuhan yang benar, tidak diajak pindah-pindah dari rumah keluarga yang satu ke keluarga yang lain, yang jaraknya cukup jauh. Yanto, Pak yang paling saya mengkhawatirkan. Makanya dia harus segera diambil! “ ungkap Partono gelisah

“Apa kamu sudah tak ingin rujuk kembali dengan istrimu?” Tanya ibunya.

Wis, gak, aku putuskan tidak meneruskan lagi berkeluarga dengannya.” Jawab Partono tegas.

Senyap terasa merambah di ruang mbale rumah,  asap putih mengepul dari sudut kandang sapi di seberang jalan depan rumah, dari rumput-rumput kering yang disapu, dikumpulkan dan dibakar oleh Pak Di – orang dari entah berantah yang hidup magersari di pekarangan Si Mbah.  Gerimis kecil menambah dingin petang itu.

(Tulisan ini saya dedikasikan kepada Mas Bambang Wahyuono yang sudah hampir sepuluh tahun menghilang : “Mengapa masih saja kau ulang,  dan terus kau pelihara masa lalumu yang kelam itu?  Tidakkah kau punya keberanian mencampakkannya, dan membuka lembaran baru?  Tidak ada kata terlambat untuk kehidupan baru yang lebih baik)

One Response to “Jember, Januari 1968”

  1. uconk says:

    mas, tulisan sampean iki sungguh ruar biasa. sungguh ini menjadi catatan pelajaran penting bagi semuanya.

Leave a Reply