<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mulyantono.com &#187; cahaya</title>
	<atom:link href="http://mulyantono.com/tag/cahaya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulyantono.com</link>
	<description>The Real Fact of Bambs</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 08:22:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cahaya di atas Cahaya</title>
		<link>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 17:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Al Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah ‘Cahaya’,  bahkan Al Quran dapat disebut ‘Kitab Cahaya’. Sebab, kandungannya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat Cahaya—yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Cahaya Ilahi—dapat ditafsirkan sebagai empat tingkat pencerahan sebagaimana terlukiskan dalam ayat berikut : 
Allah adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al Quran tak henti-hentinya menyatakan bahwa dirinya dan semua pesan wahyu lainnya adalah ‘Cahaya’,  bahkan Al Quran dapat disebut ‘Kitab Cahaya’. Sebab, kandungannya terus-menerus memancarkan cahaya petunjuk dan cahaya keimanan dalam jiwa setiap manusia. Ayat Cahaya—yang menggambarkan rangkaian wadah cahaya dari Cahaya Ilahi—dapat ditafsirkan sebagai empat tingkat pencerahan sebagaimana terlukiskan dalam ayat berikut : <span id="more-14"></span></p>
<p><em>Allah adalah cahaya langit dan bumi. </em><em>Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat sebuah misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur dan maupun di barat, yang minyaknya saja nyaris menyala sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah menuntun kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah  mengetahui segala sesuatu </em>(Q.S. 24: 35).</p>
<p>Pertama, ada misykat yang dipancari cahaya, namun bukan cahaya itu sendiri. Lalu, ada kaca kristal, di atasnya lagi kemilau minyak; dan terakhir adalah cahaya itu sendiri. Pengungkapan simbol-simbol itu mengingatkan pada ayat lain yang dimulai dengan kalimat yang sama, <em>”Tuhan membuat berbagai perumpamaan bagi manusia,”</em> dengan tambahan penegasan, <em>”agar mereka mau berpikir”</em> ( Q.S. 26: 35).</p>
<p>Banyak penafsir Alquran, termasuk mufasir terdahulu, menuturkan bahwa misykat itu adalah dada orang beriman, dan kaca adalah hatinya. ’Abd Allah ibn ’Abbas meriwayatkan apa yang didengar oleh ayahnya dan Nabi sendiri, yang berkata, ”Hidayah Tuhan di dalam hati orang beriman adalah ibarat minyak murni yang berkilau sebelum disentuh api, dan ketika disentuh api kemilaunya bertambah-tambah. Begitulah hati orang beriman: ia bertindak dengan petunjuk hingga pengetahuan datang kepadanya.”</p>
<p>Dalam Ayat Cahaya, perbedaan tingkat tidak ditunjukkan secara langsung, melainkan secara simbolik. Namun, di ayat yang lain, terutama pada wahyu-wahyu pertama, ditunjukkan secara lebih eksplisit. Salah satunya menyatakan bahwa manusia dibagi dalam tiga kelompok: <em>gulongan kanan, golongan kiri, dan golongan terkemuka. Golongan</em> <em>kanan</em> akan selamat, sementara <em>golongan kiri</em> akan celaka. Sedangkan <em>golongan terkemuka</em> adalah pemangku tingkat iman tertinggi, yang disebut sebagai <em>hamba Tuhan (’ibad Allah), </em>disebut juga, <em>mereka berada di sisi Allah (al-muqarrabun) </em>dan julukan ini disandangkan pula bagi para malaikat tertinggi untuk dibedakan dari malaikat lainnya.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Tingkatan tertinggi juga dinyatakan Alquran secara langsung ketika berbicara tentang hati. Dikatakan, <em>”Bukanlah mata yang buta, namun yang buta adalah hati yang berada di dalam dada” </em>(Q.S. 22: 46). Nabi di sisi lain, sebagaimana para nabi sebelumnya, mengatakan bahwa hatinya terjaga, yang berarti matanya terbuka. Dan Alquran menunjukkan bahwa hal itu dapat terjadi juga pada orang lain, kendati dalam kadar tertentu, karena sesekali Alquran menyebut secara langsung  <em>”orang-orang yang memiliki hati”</em> (Q.S. 12: 111; 13: 19). Hadis riwayat Abu Bakr menyatakan bahwa Nabi bersabda, <em>”Allah mengangkat derajatmu bukan melalui banyaknya shalat dan berpuasa, namun berdasarkan dengan kebaikan hatimu.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Disarikan dari beberapa sumber</em></p>
<p><em>Bekasi, 09 Oktober 2009</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/artikel/cahaya-di-atas-cahaya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
