Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar terasa ketika berada di dalam angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.
Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru bagi Bamton masuk dunia ‘pencarian kerja’. Menemui teman-teman satu kampus yang sudah bekerja, dijumpai di kantor seusai jam kerja, janji ketemu di Taman Ismail Marzuki (TIM) atau di tempat kostnya. Mencari informasi lowongan pekerjaan, mengirim lamaran, wawancara, menunggu kabar diterima atau tidak ada kabar berita alias ditolaknya. Ternyata inilah ritual sarjana yang berburu pekerjaan di ibukota.
”Baru belasan lamaran? Ah, masih belum. Nanti kalau sudah puluhan, atau mencapai angka seratus lamaran, boleh berharap ada panggilan.” komentar seorang kenalan. Gila, pernyataan ini menghibur atau meledek, pikir Bamton Apakah harus melewati proses seperti ini untuk mendapatkan pekerjaan, kemudian berpenghasilan, berkeluarga dan hidup layak seperti diharapkan orang-orang pada umumnya?





