<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mulyantono.com &#187; mengaji</title>
	<atom:link href="http://mulyantono.com/tag/mengaji/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulyantono.com</link>
	<description>The Real Fact of Bambs</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 08:22:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Puncak, Agustus 1992</title>
		<link>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:05:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[langgar]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar  terasa ketika berada di dalam  angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.
Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar  terasa ketika berada di dalam  angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.</p>
<p>Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru bagi Bamton masuk dunia ‘pencarian kerja’. Menemui teman-teman satu kampus yang sudah bekerja, dijumpai di kantor seusai jam kerja, janji ketemu di Taman Ismail Marzuki (TIM) atau di tempat kostnya. Mencari informasi lowongan pekerjaan, mengirim lamaran, wawancara, menunggu kabar diterima atau tidak ada kabar berita alias ditolaknya. Ternyata inilah ritual sarjana yang berburu pekerjaan di ibukota.</p>
<p>”Baru belasan lamaran? Ah, masih belum. Nanti kalau sudah puluhan, atau mencapai angka seratus lamaran, boleh berharap ada panggilan.”  komentar seorang kenalan. Gila, pernyataan ini menghibur atau meledek, pikir Bamton Apakah harus  melewati proses seperti ini untuk mendapatkan pekerjaan, kemudian berpenghasilan, berkeluarga dan hidup layak seperti diharapkan orang-orang pada umumnya?</p>
<p><span id="more-29"></span>Suharna, teman kuliah Bamton, agak berbeda cara pandang terhadap ambisi Bamton yang ingin segera mendapatkan pekerjaan. Latar belakang ekonomi keluarga Bamton yang jauh lebih baik dari keluarganya, menurut saran Suharna malah sebaiknya Bamton  jangan buru-buru mencari pekerjaan. Mengapa tidak mondok dulu di pesantren &#8211;misalnya. mendalami agama, begitulah usul Suharna.</p>
<p>“Mondok? Bukankah kalau mondok pesantren di usia selepas kuliah, pasti harus bisa mengaji – fasih membaca Al Qur’an? Aku tidak bisa mengaji, Har.” ucap Bamton.</p>
<p>Entah dari mana asal-muasal pandangan Bamton seperti itu. Belajar dan mendalami Islam,  harus dimulai dari ‘bisa’ membaca Al-Qur’an, yang umum di masyarakat Jawa diistilahkan ‘mengaji’.</p>
<p>“Rasulullah ketika dijumpai Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu dari Allah, juga tidak bisa baca. Padahal itu ayat Al-Qur’an yang pertama turun.  Berarti apa yang disuruh untuk dibaca? Tulisan Al-Qur’an belum ada. Tapi ada perintah, baca nama Tuhanmu. Atau istilah ‘baca’ bisa bermakna ‘sebut’. Sebut nama Tuhanmu!” jelas Suharna.</p>
<p>Bamton setuju dengan penjelasan sahabatnya yang sejak zaman kuliah di Mataram dulu getol menimba pengetahuan dan menemukan hal-hal baru. “Berarti ada yang sangat ‘mendasar’ yang harus dikerjakan sebelum melaksanakan perintah agama seperti shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah  lainnya. Apa itu?  Yaitu menyebut Asma Allah atau dzikrullah.” lanjut Suharna.</p>
<p>“Menyebut nama ‘Allah’ siapa pun bisa. Burung beo pun bila dilatih akan fasih mengucapkannya. Tapi bagaimana menyebut Asma Allah seperti yang dimaui lalu diajarkan oleh Malaikat Jibril  kepada Rasulullah itu? Inilah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya, kemudian oleh sahabat diteruskan kepada tabiin, dan ulama-ulama berikutnya hingga hari ini.” tutur Suharna penuh semangat.</p>
<p>“Berdzikir  dengan tatacara seperti yang diajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, yang kemudian Beliau wariskan kepada sahabat-sahabatnya, alim-ulama  pewarisnya, inilah yang harus kita cari sebagai anak manusia yang ditakdirkan lahir dari lingkungan keluarga yang menganut Agama Islam.”</p>
<p>Benar, batin Bamton,  seorang anak manusia dilahirkan dari rahim ibu yang mana, bangsa dan agama apa, adalah rahasia Tuhan. Dia pernah mendapatkan sebuah nasihat,  kita harus bersyukur lahir dari keluarga Islam, tetapi kita tidak boleh ‘berhenti’ pada pemahaman agama yang kita dapatkan secara ‘warisan’ ini. Sikap beragama itu harus berada antara harap dan cemas. Pertanyaan  sudah benarkah Islam kita? Harus berani kita lontarkan setiap saat kepada diri sendiri.</p>
<p>Bamton kecil mengenal Islam dari Mbah Marto,  tetangga di samping kanan rumah Kakek-Neneknya yang hanya dipisahkan jalan dan sungai kecil membujur utara-selatan. Mbah Marto masih kerabat Kakek-Neneknya, keluarga dari pihak besan.</p>
<p>Bangunan rumah Mbah Marto hampir sama dengan rumah Kakek-Neneknya, rumah gedong bergaya Jawa berbahan tembok berarsitektur kuno, ruang tamu luas, semi terbuka seperti mbale (joglo), di tengah-tengahnya ada dua tiang  utama sebagai penyangga.</p>
<p>Rumah Mbah Marto menghadap ke arah utara, berhalaman luas , di sudut kanan kiri tumbuh pohon kelapa menjulang tinggi, di sisi kiri halaman ada bangunan langgar  tempat anak-anak mengaji.</p>
<p>Bangunan langgar terbuat dari bedek bambu, lantai papan yang diperkuat dengan bambu utuh, beralas tikar. Entah sejak kapan bangunan langgar itu berdiri, seingat Bamton begitu masuk usia sekolah dasar, ia ikut anak-anak sepantarannya mengaji di langgar Mbah Marto.</p>
<p>Senja menjelang Mahgrib anak-anak tetangga seusia SD bergegas mengaji di langgar Mbah Marto, yang berbadan besar seusia SMP hanya satu-dua orang saja. Yang berbadan besar menimba air untuk berwudu’ di sumur sebelah kanan halaman depan rumah Mbah Marto. Tidak hanya untuk wudu’ sendiri, dengan suka hati mereka bergantian memenuhi bak mandi besar untuk keperluan mandi Mbah Marto Kakung dan Mbah Marto Putri. Ini dilakukan anak-anak dengan ikhlas sebagai bentuk ucapan terima kasih, karena beliau pun dengan senang hati mengajari anak-anak mengaji tanpa minta gaji.</p>
<p>Disitulah awal Bamton mengenal Islam, belajar berwudu’ meniru teman-temannya yang lebih dulu tahu, sarung yang dibawa dari rumah dikenakan sebagai pengalaman yang mengasyikkan. Ups, kopiah yang dibelikan Bapak sedikit kebesaran, dan menjadi bahan ledekan teman-teman, tapi tak apalah, tadi memang sudah dicoba di rumah, kata Bapaknya nanti akan cukup dengan sendirinya.</p>
<p>Anak yang paling besar melantunkan Adzan. Sebagian sudah duduk di dalam langgar, tapi sebagian yang lain masih berlari-larian di halaman. Mbah Marto Putri keluar dari rumah sudah mengenakan mukenah putih menuju langgar, sembari mengajak anak-anak yang masih berlarian untuk segera masuk langgar.</p>
<p>Seusai kumandang Adzan ada yang shalat, ada yang tetap duduk bersila saja, Mbah Marto Putri shalat, Bamton tidak shalat, ia duduk bersila sambil mengamati keadaan. “Kamu tidak shalat sunat,” tanya temannya. Bamton menggeleng kecil. “Oh, tadi itu shalat sunat namanya,” batin Bamton. “Tapi apa kaitannya shalat sunat dengan sunatan?” pertanyaan Bamton dalam hati.</p>
<p>Mbah Marto Kakung sudah berdiri di pintu langgar, anak yang tadi Adzan langsung berdiri, melantunkan syair seperti Adzan yang dikemudian hari diketahui Bamton sebagai ‘Iqamat’.  Semua yang ada di dalam langgar berdiri bersiap shalat. Inilah gerakan-gerakan shalat yang pertama kali diikuti Bamton, melihat kiri-kanan menirukan gerakan.</p>
<p>Shalat ditutup dengan salam, berdoa, setelah itu anak-anak berebut salam mencium tangan Mbah Marto Kakung dan Mbah Marto Putri. Selanjutnya pelajaran mengaji dimulai, anak-anak yang sudah lancar berkumpul melingkari Mbah Marto Kakung, sedangkan yang baru belajar meriung bersama Mbah Marto Putri, menghadap Al  Qur’an – tampak Bamton pada lapisan depan.</p>
<p>Satu persatu anak-anak bergantian menirukan Mbah Marto Putri sambil menyimak huruf-huruf Arab yang ditunjuk dengan lidi pendek. Begitulah hampir setiap sore yang dilakukan Bamton bersama saudara-saudara sepantaran dan kawan-kawan sepermainan. Mengaji ditutup dengan Shalat Isya’ berjamaah, kalau Mbah Marto Kakung berkenan biasanya didongengi kisah-kisah Nabi. Yang paling disukai Bamton adalah Kisah Nabi Sulaiman yang bisa berkomunikasi dengan berbagai binatang.</p>
<p>Masa indah ini tidak berlangsung lama, Mbah Marto Kakung mulai sakit-sakitan, Mbah Marto Putri sibuk merawatnya. Sungguhpun begitu, sesekali melayani anak-anak yang tetap ingin mengaji. “Mbah, sore ini mengaji apa tidak,” tanya anak-anak perempuan. Bila tampak sibuk dan kondisi Mbah Marto Kakung perlu perhatian serius, biasanya selepas Ashar Mbah Marto Putri memberitahu tidak mengaji hari ini.</p>
<p>Mbah Marto Kakung cukup lama sakitnya, sembuh sebentar, sakit lagi, bahkan sempat masuk rumah sakit. Biaya berobat tentunya tidak sedikit. Entah bagaimana prosesnya, rumah dan pekarangan besar itu akhirnya dibeli oleh tetangga yang kaya. Sebelum pindah,  Mbah Marto sempat membangun rumah kecil di samping kanan sumur yang masih menjadi pekarangannya. Mungkin cukup banyak biaya untuk berobat. Di rumah yang baru ini Mbah Marto Kakung menghambuskan nafas terakhir.</p>
<p>Langgar tempat mengaji anak-anak sejak rumah dan pekarangan Mbah Marto dibeli oleh orang lain itu tidak terurus  lagi, tidak ada yang mengganti mengajari mengaji, entah tidak bisa, atau karena apa. Mbah Marto tidak punya anak, ada seorang anak angkat putri, setelah menikah ikut suaminya. Bangunan langgar semakin rapuh, beberapa bulan setelah menjadi hak milik orang lain, sebelum ditempati oleh pemilik yang baru, rumah Mbah Marto direnovasi. Langgar itu pun ikut dirobohkan.</p>
<p>Pelajaran mengaji setiap sore hanya sampai ketika Bamton duduk di bangku kelas 3 SD. Setelah itu tidak pernah mengaji lagi, pelajaran Agama Islam cukup dari mata pelajaran sekolah dasar. Bapaknya tidak begitu kuat menganjurkan harus bisa membaca Al Qur’an, yang penting sudah bisa shalat. Bapaknya sendiri tidak shalat kala itu, bahkan mengajar di SMP Katolik di Kota Jember selama 15 tahun lebih, menimbulkan dugaan sejumlah teman-teman sepermainan Bamton bahwa Bapaknya adalah penganut Katolik.</p>
<p>“Apakah kau pernah mendengar istilah tarekat?” tanya Suharna membuyarkan lamunan Bamton.<br />
“Apa, Har? Tarekat?” ujar Bamton tergeragap. “Apa itu?” tanya Bamton bukti bahwa dia tidak tahu dan memerlukan penjelasan.</p>
<p>Hawa malam terasa dingin merasuk kulit. Suasana sepi menyeliputi Perbukitan Puncak. Sore tadi, Bamton dan Suharna naik angkutan umum dari Jakarta ke Puncak &#8211; Bogor disambung naik ojek sepeda motor, dan berhenti di sebuah vila besar, yang dirawat, dijaga dan didiami oleh saudara jauh Suharna. Beruntung sekali keluarga ini, suami – istri menempati vila milik seorang pejabat tinggi Negara. Sang majikan belum tentu sebulan sekali datang. Orang-orang kaya Jakarta berlomba membangun vila di Puncak untuk berebut hawa segar atau berebut gengsi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/perjalanan/puncak-agustus-1992.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
