<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mulyantono.com &#187; sufi</title>
	<atom:link href="http://mulyantono.com/tag/sufi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulyantono.com</link>
	<description>The Real Fact of Bambs</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 08:22:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bandung, Juli 1992</title>
		<link>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html</link>
		<comments>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 15:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambs</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulyantono.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[“Apakah di zaman sekarang ini ini masih ada orang-orang yang patut disebut sufi? Tarekat itu apa? Apa hubungan antara tarekat dengan tasawuf?” Serangkaian pertanyaan itu dilontarkan Nanang,  sembari mengemudikan kendaraan di sepanjang perjalanan Jakarta – Bandung. Duduk di sebelah kirinya, Bamton yang diminta menemaninya pergi ke Pengalengan &#8211; Bandung, untuk menemui seseorang terkait urusan perusahaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Apakah di zaman sekarang ini ini masih ada orang-orang yang patut disebut sufi? Tarekat itu apa? Apa hubungan antara tarekat dengan tasawuf?” Serangkaian pertanyaan itu dilontarkan Nanang,  sembari mengemudikan kendaraan di sepanjang perjalanan Jakarta – Bandung. Duduk di sebelah kirinya, Bamton yang diminta menemaninya pergi ke Pengalengan &#8211; Bandung, untuk menemui seseorang terkait urusan perusahaan tempat dia bekerja.<span id="more-12"></span></p>
<p>Pertanyaan itu muncul, karena Bamton menceritakan telah bertemu dengan Suharna, teman mereka di kampus, yang mengaku tetap melanjutkan aktivitas sebagai pengamal tarekat yang dia kenal sejak di Mataram dulu, yang di Jakarta ini pusat kegiatannya – katanya &#8212; ada di Cilandak Tengah. “Aku mau diajak ke sana.” ujar Bamton.</p>
<p>Bamton sendiri baru datang di Jakarta. Selepas kuliah, sejenak ia pulang kampung di Jember, kemudian mencari kerja di ibukota Negara; menumpang tinggal di rumah saudara di Tangerang, mencari teman-teman lama, lalu menyebar lamaran ke sejumlah perusahaan.  Suharna dan Nanang adalah teman seangkatan di Fakultas Peternakan Universitas Mataram yang sudah lebih dulu tinggal di Jakarta setelah lulus, keduanya sudah mendapat pekerjaan. Nanang di perusahaan penggemukan sapi sedangkan Suharna sebagai wartawan majalah peternakan. Bamton sudah tiga bulan di Jakarta dan baru belasan lamaran yang telah disebarkan, sehingga – menurut kelakar teman-temannya &#8212; belum layak berharap mendapat pekerjaan segera.</p>
<p>“Istilah tasawuf sendiri, menurut buku-buku yang saya baca,  asal katanya sangat beragam dan definisinya tidak ada yang lengkap alias sepotong-sepotong. Pengertian tasawuf lebih kurang meliputi hal-hal; membersihkan hati, mengendalikan hawa nafsu, berperangai baik, mendekatkan diri pada Tuhan, mensucikan diri, menjauhkan diri dari kemewahan.” ungkap Bamton.</p>
<p>Pengamal tasawuf disebut sufi, lanjut Bamton. Kalangan sufi meyakini, benih-benih tasawuf lahir dan diilhami oleh pribadi, perilaku, peristiwa, ibadah, dan kehidupan Rasulullah. Banyak yang bisa dicontohkan, misalnya; bersunyi-sunyi diri di Gua Hira’, berdzikir dan bertafakur, Isra’ Mi’raj, pribadi Rasulullah SAW yang sederhana (zuhud, tidak terpesona oleh kemewahan dunia), ibadah (shalat dan berdzikir), I’tikaf (terutama dalam Bulan Ramadhan).</p>
<p>Lebih kurang dua abad setelah Rasulullah wafat, kelompok pengamal tasawuf  disebut tarekat. Jadi ada pergeseran makna, dari tarekat yang bermakna jalan/cara/metode, menjadi nama bagi kelompok yang mengamalkan jalan/cara/metode tertentu. Pada masa itu memang banyak bermunculan tarekat dengan nama-nama yang baru, seperti Sirriyah, Ubudiyah, Shiddiqiyah, Taifuriyah, Khawajakaniah, Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Al-Ahrariyah, Naqsyabandiyah Al-Mujaddidiyah, Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah. Sama dengan bidang ilmu yang lain, seiring dengan itu (150 s/d 200 tahun setelah Rasulullah wafat) juga lahir mahzab-mahzab di bidang fiqih, seperti Hambali, Maliki, Syafi’I dan Ja’fari.</p>
<p>Tarekat sendiri menurut bahasa berasal dari kata Arab <em>thariqah</em> yang berarti jalan atau metode atau aliran <em>(madzhab)</em>. Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai <em>(wusul)</em> kepada-Nya. Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan-aturan tertentu sesuai dengan petunjuk guru atau <em>mursyid</em> tarekat masing-masing, agar berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Ahli tasawuf mengaitkan istilah tarekat dengan firman Allah SWT: <em>“Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (thariqah) yang benar niscaya akan kami turunkan (hikmah) seperti hujan yang deras dari langit.”</em> (QS Al-Jinn/72 : 16)</p>
<p>Tarekat terkait erat dengan tasawuf, karena tarekat merupakan organisasi persaudaraan dalam menjalankan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah SWT merupakan Zat yang suci, maka Zat yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali oleh sesuatu yang suci. Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan-tahapan spiritual (<em>maqamat</em>). Masing-masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda-beda, berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda-beda pula.</p>
<p>Menurut al-Ghazali langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati <em>(tazkiyah al-nafs)</em> adalah <em>takhalli</em> yaitu mengosongkan hati dari selain Allah, kemudian <em>tahalli</em> yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat-sifat terpuji, dan <em>tajalli</em> yakni memperoleh hakekat tentang ‘wujud’ Tuhan.</p>
<p>Tanpa terasa perjalanan sudah sampai Bandung. Pada sebuah sudut kota mereka berdua bertemu dengan seorang pria berperawakan tinggi, berkulit sawo matang, di keningnya ada tanda kehitaman lantaran kerap bersujud. Dengan seyum ramah pria yang mengenakan baju koko putih dan berpeci putih itu mengenalkan dirinya Heru.</p>
<p>Tanpa melepas senyumnya Heru yang ternyata <em>arek</em> Surabaya itu bergabung satu mobil dengan Nanang dan Bamton,  lalu mengajak pada suatu tempat terlebih dahulu sebelum ke Pengalengan. Tidak lama kemudian tibalah pada sebuah pondok pesantren. Bamton membaca papan nama yang terpampang di depannya dengan suara yang agak keras : ‘Pondok Pesantren Daarut Tauhiid’. Lalu ia bertanya, siapa Kyai pendiri pondok pesantren ini? Heru menyebut nama AaGym dengan kesan agak heran, sepertinya ia menyimpan tanya, <em>kok</em> masih ada juga yang belum tahu.</p>
<p>Pada akhirnya nama AaGym yang bernama lengkap K.H. Abdullah Gymnastiar sangat populer di Tanah Air. Tapi waktu itu memang belum sepopuler sekarang. Atau bisa jadi Bamton sendiri baru datang dari udik, sehingga masih relatif kuper (kurang pergaulan). Heru menyadari itu, dan segera mempersilahkan tamunya untuk mengikutinya. Rupanya, Heru  seorang karyawan perusahaan rabat/retail di Jakarta yang tersohor waktu itu. Perusahaan tempat Nanang bekerja adalah suplier-nya, khusus daging sapi. Hari Sabtu dan Minggu dimanfaatkan Heru untuk keluarganya yang tinggal di Bandung</p>
<p>Di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid tampaknya ia pun aktif membantu pengelolaan usaha supermarket yang keseharian dikelola olah para santri. Kata Heru ada sejumlah unit usaha di samping toserba itu, diantaranya bengkel, percetakan, penginapan, dan lain sebagainya. Tentang kegiatan beribadah, Heru bercerita : ”Kalau Minggu begini dimulai dengan shalat tahajud, berdzikir, shalat subuh, mendengarkan tausyiah dari AaGym. Jamaahnya datang sejak Sabtu malam, dan setelah mengikuti rangkaian itu mereka pulang ke pangkalan masing-masing. Atau ada yang masih mau menginap untuk berapa malam lagi.”</p>
<p>Di sepanjang perjalanan Bandung &#8211; Pengalengan lalu ke Bandung lagi, Bamton lebih banyak diam, sementara Nanang dan Heru banyak berbicara seputar bisnisnya. Melihat sosok Heru, seorang eksekutif pada sebuah perusahaan di Jakarta, profesional di bidang marketing, setiap Jum’at sore balik ke Bandung, Sabtu – Minggu ia dan keluarga mengikuti kegiatan di Pondok Pesantren. Tampaknya, ibadah bagi dia bukan sebagai kewajiban pribadi semata, melainkan sebagai sebuah rekreasi keluarga. <em>Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulyantono.com/perjalanan/bandung-juli-1992.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
