Puncak, Agustus 1992

November 30th, 2009

Kepadatan Jakarta yang sesungguhnya benar-benar  terasa ketika berada di dalam  angkutan kota. Berdesakan di dalam kereta listrik, bergelantungan di bis kota, sesekali naik bajaj atau ojek sepeda bila ingin bernafas lega. Tapi kalau berhenti di lampu merah, ya sama saja.

Beberapa minggu tinggal di Tangerang, menumpang di kediaman adik sepupu yang sudah berkeluarga, inilah babak baru bagi Bamton masuk dunia ‘pencarian kerja’. Menemui teman-teman satu kampus yang sudah bekerja, dijumpai di kantor seusai jam kerja, janji ketemu di Taman Ismail Marzuki (TIM) atau di tempat kostnya. Mencari informasi lowongan pekerjaan, mengirim lamaran, wawancara, menunggu kabar diterima atau tidak ada kabar berita alias ditolaknya. Ternyata inilah ritual sarjana yang berburu pekerjaan di ibukota.

”Baru belasan lamaran? Ah, masih belum. Nanti kalau sudah puluhan, atau mencapai angka seratus lamaran, boleh berharap ada panggilan.”  komentar seorang kenalan. Gila, pernyataan ini menghibur atau meledek, pikir Bamton Apakah harus  melewati proses seperti ini untuk mendapatkan pekerjaan, kemudian berpenghasilan, berkeluarga dan hidup layak seperti diharapkan orang-orang pada umumnya?

(more…)

Bandung, Juli 1992

October 9th, 2009

“Apakah di zaman sekarang ini ini masih ada orang-orang yang patut disebut sufi? Tarekat itu apa? Apa hubungan antara tarekat dengan tasawuf?” Serangkaian pertanyaan itu dilontarkan Nanang,  sembari mengemudikan kendaraan di sepanjang perjalanan Jakarta – Bandung. Duduk di sebelah kirinya, Bamton yang diminta menemaninya pergi ke Pengalengan – Bandung, untuk menemui seseorang terkait urusan perusahaan tempat dia bekerja. (more…)